126

91 15 0
                                        

Di dalam retakan dimensi Buitenzorg.    

Citra terbangun dari tidurnya, membuka ponselnya melihat jam digital yang menunjukkan pukul lima pagi. Citra bergerak duduk, mencium badannya sambil menguap lebar. Ia kemudian melihat ke luar jendela, melihat langit yang masih hitam pekat. Citra menggeleng lalu membereskan sleeping bagnya, memasukkanya kembali ke tas.    

"Sudah bangun? Masih ada dua jam lagi sebelum kita berangkat."    

Tiba-tiba suara lelaki memecah ketenangan ruangan. Citra menoleh ke asal suara, mendapati pria yang bernama Pandu di sana. Tersenyum disana sambil duduk di bingkai jendela. Seluruh avonturir pada tidur di ruangan tengah lantai satu, dengan avonturir pria bergantian melakukan aksi sepanjang malam. Melihat Pandu, ia tahu kalau pria itu memiliki giliran jaga paling akhir.    

"Saya sudah biasa bangun jama segini, sejak kecil sudah menjadi aturan keluarga."    

"Hmmm… kalau begitu mau bantu aku masak?"    

Citra memandangi Pandu sejenak sebelum tiban muka dengan wajah memerah.    

"Aku tidak bisa masak…"    

Pandu melihat wajah malu Citra dengan memutar, "Hahaha! Tidak apa, aku yang akan memasak makanannya. Kau hanya perlu memotong sayuran dan menyiapkan perlengkapan buat sarapan nanti."    

Citra mengangguk pelan. Ia segera membereskan perlengkapan tidurnya, merapikan dirinya serta memakai perlengkapan avonturirnya sebelum berjalan menuju dapur rumah itu. Dalam perjalanan menuju dapur, beberapa kali Citra melangkahi petualangan yang lelap tertidur. Citra melihat ke sekitarnya, mencari seseorang sebelum akhirnya ia sampai ke dapur, dengan wajah bingung karena orang yang ia cari tidak ada di sana.    

“Mencari temanmu?” Ucap Pandu, yang menaruh sekantong sayuran di atas meja.    

Citra mengangguk, ia agak cemas karena tadi tidak menemukan Rakha disekumpulan avonturir yang tertidur, "Ya, tapi dia tidak ada di sana."    

“Dia ada di atas sana,” ujar Pandu sambil membuka jendela dapur, lalu menunjuk ke arah menara udara yang berada di jarak jauh sana.    

“…apa yang dilakukannya di sana?”    

Pandu tersenyum, "Dia bilang begini, 'Aku akan pergi ke atas dan berjaga di sana. Aku tidak mau diomeli oleh teman-temannya jika Citra kenapa-kenapa. Memikirkan ocehan mereka saja sudah membuatku pusing' itu yang dikatakannya. Sewaktu aku bangun tadi subuh , setidaknya aku sudah mendengar tiga kali suara tembakan dari tempatnya berasal.    

Citra membeku, wajahnya kembali memerah, agak malu karena membiarkan temannya terjaga semalaman sedangkan ia tertidur. Pandu melihat ini menampar pundak Citra.    

"Kau tahu, hadiah paling nikmat setelah bekerja keras adalah makanan. Mari masak sarapan yang enak untuk temanmu dan juga para avonturir yag akan membantu kalian."    

Citra mengangguk setuju, ia ambil sekantong sayuran itu, lalu mulai memotongnya sesuai arahan Pandu dengan pisau yang dipinjamnya.    

Sekitar satu jam kemudian, sarapan yang dibuat Pandu telah siap. Pandu memasak krim sup sayuran dengan roti dan ayam suir goreng sebagai sebagai santapan sarapan. Citra juga telah selesai menyiapkan meja dan peralatan makan di teras rumah.    

Beres menyelesaikan semua tugasnya, ia pergi ke tengah jalan, melambai kepada siluet kecil yang berada di atas menara air. Citra tidak tahu apakah temannya itu melihat lambaianya atau tidak, ia takut kalau Rakha malah tertidur di sana. Tapi, seketika terdengar suara Rakha di pikirannya.

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang