121

99 13 2
                                        

Dalam retakan dimensi Buitenzorg.    

Citra yang menampilkan pedang panjang di depannya kini telah menghilang, meninggalkan kepala tengkorak terjatuh begitu saja, ia pun langsung terduduk lemas di lantai. Citra menenangkan napasnya, melihati tulang belulang musuhnya yang berserakan tidak jauh darinya. Kekuatan tengkorak itu sesungguhnya berada sedikit di atas dirinya, tapi hanya karena ia berada di dalam ruangan, ia menjadi tidak berdaya. Citra belajar dari kejadian ini.    

'Perlu berlatih lagi!'    

Citra mengangguk, ia lalu teringat tentang rekannya yang berada di menara udara. Citra segera keluar rumah, melihat siluet kecil di atas sana. Melambai dia, menampilkan kalau dirinya tidak apa-apa.    

Namun, sesaat kemudian Citra teringat kalau dia sedang marah pada lelaki itu. Tangannya segera ia turunkan, sambil membuang muka dengan wajah yang memerah.    

"Hmph!"    

Rakha yang melihat ekspresi Citra dari scope riflenya, bingung dengan tingkah laku rekannya kalau itu.    

"Sedetik lalu dia bahagia, sedetik kemudian dia marah. Aku tidak mengerti keinginannya. Ah! Atau mungkin dia sedang datang bulan?"    

Rakha menghela napas panjang, setidaknya semua serangan tadi telah berakhir. Rakha setelah ia terpental oleh pukulan tengkorak tadi, ia melihat Citra bertarung seimbang dengan tengkorak itu. Mendengarkan dengungan di telinga, ia tahu kalau musuh yang lain akan segera datang. Oleh karena itu, agar tidak mengganggu pertarungan Citra, Rakha menaiki lantai dua rumah, memecahkan kaca sebelum naik ke atap rumah.    

Dari sana, ia melihat puluhan arwah yang bergerombol mendekati tempatnya. Rakha lalu berlari melompati atap-atap rumah sambil menembakkan pistolnya ke arwah-arwah yang berada di jarak tembaknya. Setelah merasa cukup jauh dari Citra, Rakha mengeluarkan parfum harum dupa dan menyemprotkannya pada dirinya sendiri, menarik perhatian para arwah musuh. Rakha menggiring para arwah itu ke arah menara udara yang ada di depannya, sambil menembaki arwah yang sudah mendekat.    

Hingga sampai di kaki menara, Rakha sudah hampir menghabisi musuh-musuhnya. Beres, ia segera menaiki menara, mengeluarkan senapan senapan dari dalam tas gitarnya, barulah memerhatikan pertarungan Citra dan tengkorak hitam di jarak jauh sana. Sebelum akhirnya ia melihat cacing raksasa seketika menyerang Citra, dan menembak mati cacing itu.    

Melihat Citra terlihat baik-baik saja di bawah sana, Rakha segera membereskan perlengkapan snipernya, memasukkan kembali semua barang ke dalam tas gitarnya. Ia lalu turun dari menara, berjalan cepat ke arah Citra berada.    

.    

.    

.    

Sesampainya Rakha di tempat Citra, ia melihat perempuan itu sedang mengistirahatkan dirinya dengan bersandar di salah satu gedung. Ia menjaga tubuh Citra yang kini terdapat beberapa luka goresan yang sudah mengering.    

"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Rakha.    

Citra menoleh sebentar ke rekannya yang telah datang, melihat mukanya dengan mata yang terhalang rambut itu, Citra langsung mendengus membuang muka.    

"Hmph!"    

Rakha terdiam tidak bisa berkata apa-apa, setidaknya dia lega karena melihat temannya masih punya energi untuk marah padanya. Tapi, situasi tidak bisa seperti ini terus, setidaknya selagi tidak di tempat berbahaya seperti sekarang.    

"Kau tahu, Citra, aku tidak bisa melindungimu seperti kesatria yang berdiri di depanmu. Tapi … aku bisa melindungimu dari kejauhan, dari sana, aku bisa melindungi bukan saja dari musuh di depanmu, tapi dari belakangmu juga."    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang