125

99 16 0
                                        

Bayu membuka matanya, melihat lingkungan sekitarnya setelah ia ditarik masuk ke dalam cermin. Lingkungan sekitarnya masih sama seperti pada kamar mandinya, hanya posisinya menjadi terbalik. Toilet yang seharusnya berada di kanan Bayu kini berada di kiri, pintu keluar yang berada di kiri sekarang menjadi di kanan, begitu pula dengan hal lainnya seperti shower dan gantungan baju.
  
Bayu berbalik, melihat cermin di belakangnya yang menunjukan ruangan gelap gulita.    

'Apa lilinnya mati?'    

Bayu berbalik kembali, berjalan keluar kamar mandi. Bayangan seram dirinya sama sekali tidak ia temukan di mana pun. Bayu melihati ruangan tengah kamarnya yang hening, bahkan Bayu merasa lingkungan tempatnya berada kini terlalu hening, sehingga telinganya mampu mendengar suara detak jantung dan gemuruh perutnya.    

'Tempat ini seperti tidak mempunyai suara sama sekali.'    

Bayu lalu membuka pintu balkon kamarnya, melihat hantaran hutan pinus di luar sana, yang diam tanpa ada angin yang mengusiknya. Tidak ada serangga yang hinggap bahkan burung yang biasa bernyanyi kegirangan. Tempat itu seakan cerminan dunia tanpa mahluk hidup. Bayu masih bisa melihat warna ruangan dan lingkungannya, tapi—hanya abu-abu yang ia rasakan.    

Bayu lalu melihat ke bawah sana, ke tempat lapangan latihan guildnya. Di sana ia melihat seorang gadis kecil dengan rambut pirang pucat, kulit putih pucat dengan mata merah menyala, tersenyum padanya yang berada di balkon. Gadis kecil itu mengenakan gaun khas era victroria, yang berwarna merah darah dengan selingan hitam.    

Bayu dan gadis kecil itu saling bertatap pandang. Bayu lalu membungkuk sebelum berbalik berjalan turun ke lantai satu. Dari sana ia keluar melalui pintu belakang menuju lapangan latihan guild. Sesampainya di sana, ia melihat gadis kecil tadi sedang melayang memandangi hutan pinus yang hening di depannya.    

Bayu berjalan mendekat berdiri di samping gadis kecil.    

"Sewaktu kau menyerangku dengan auramu, aku merasakan aura yang sangat familiar. Jadi—Bookmaster ke berapa dirimu ini?" gadis kecil itu bertanya, tubuh gadis kecil itu layaknya seorang gadis berumuran sekitar sepuluh hingga dua belas tahun.    

"Keenam."    

"Keenam? Hmm… aku merasa bertemu dengan yang kelima sudah lama sekali. Ternyata sepertinya belum selama itu."    

"Kau berbicara seolah tahu Bookmaster yang lainnya selain kelima."    

Gadis kecil itu tersenyum lebar, "Selain Bookmaster pertama dan keempat, aku mengenal atau pernah bertemu dengan sisanya. Termasuk kamu. Sayangnya, Bookmaster Kelima, membatalkan ritual pemanggilan di tengah jalan setelah melihatku. Kejadian itu benar-benar lucu dan menghibur. Ia tampak ketakutan setengah mati melihatku. Hiahahahaha~"    

'… apa itu benar?'    

Bayu kembali memandangi gadis kecil itu, "Kau bicara tentang Bookmaster Kedua, tak kukira kau setua itu."    

"Huh?!" Gadis kecil memicing menatap tajan Bayu sebelum akhirnya ia tertawa terbahak-bahak.    

"Hiahahahaha! Bookmaster selalu sama, mereka tidak punya ekpresi sama sekali … Yup! Betul, bisa dibilang aku merupakan salah satu sosok kuno."    

Gadi kecil itu lalu melayang berpindak ke depan Bayu, "Cukup berbasa-basinya, sekarang beritahu aku, kenapa kau memanggilku? Bookmaster Keenam."    

Bayu kini melihat sosok itu mulai serius dengan aura dan inten di sekelilingnya mulai membuat atsmosfer sekitar menjadi goyang.    

"Aku membutuhkan bantuanmu."    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang