178

89 14 0
                                        

Perpustakaan Kehidupan, alam bawah sadar Bayu.    

Tiga minggu telah berlalu, Bayu masih harus terjebak di perpustakaan pribadinya. Namun, kali ini berbeda dengan sebelumnya yang membuat ia kesal. Sekarang Bayu malah merasa selalu ingin berada di perpustakaannya, karena di dalam sana Bayu kembali ke masa hidupnya yang hanya tidur dan baca.    

"Haa, kaum rebahan memang terbaik."    

Bagi Bayu bisa bekerja santai seperti sekarang adalah impiannya, namun ia sadar walau saat ini bisa bersantai. Setelah bangun nanti, ia akan di hadapkan pada banyak permasalahan.    

Bayu yang berbaring di sofa panjang, melihat sekitar ruangan pribadinya di perpustakaan yang telah berubah banyak.    

Ayu, menata ulang semua furnitur di dalam ruangan. Membuat kamar ini menjadi seperti sebuah kamar kosan dengan dapur di satu sisi, dengan tempat tidur di satu sisi lainnya, Sofa di ruang tengah dirapatkan ke dinding sehingga hanya tersisa meja di tengah ruang sana dengan karpet empuk dan bantalan duduk.    

Tidak jauh dari meja, di dinding depannya terdapat televisi menggantung yang terhubung ke tiga konsol game dari perusahaan yang berbeda. Ayu yang tidak pernah bermain game konsol sebelumnya, beberapa minggu terakhir setidaknya ada satu hingga dua jam ia akan meluangkan waktunya untuk bermain.    

Menurut Ayu, game tersebut menarik, tetapi tidak semenarik cerita orang-orang nyata pada buku, makanan serta minuman yang belum pernah dicicipi dan tidak lupa meningkatkan skill memasaknya.    

Yup! Ayu setelah mendapatkan dapur di perpustakaan, kini sangat antusias dalam belajar memasak. Ayu belajar berbagai resep masakan dari buku yang ia baca, termasuk buku ibu dari Bayu, Olivia Rivertale.    

Kini setiap hari, Bayu akhirnya mendapat makanan lezat walaupun berada di alam bawah sadar. Bayu sungguh mesyukuri kedatangan Moreo.    

Ayu pada awalnya agak kesulitan dalam memasak, apalagi lidahnya walaupun bisa mengecap, namun ia tidak tahu yang namanya rasa manis, asam, asin dan lainnya. Ayu tidak pernah makan dan minum.    

Hingga pada akhirnya, butuh waktu dua minggu untuk Ayu beradaptasi dengan semuanya. Sehingga akhirnya barulah ia mulai bisa memasak masakan yang enak. Sungguh, minggu pertama merupakan neraka bagi Bayu, karena pertama kalinya Bayu merasakan rasa masakan yang tidak jelas rasanya. Asin sekali sehingga membuat kepala pusing, pedas dengan pahit yang membuat mual, bahkan asem ditambah asin di sebuah nasi goreng.    

Bayu sungguh takjub pada dirinya sendiri yang mampu melewati masa-masa menyeramkan itu. Dan sungguh ia tidak mau mengulanginya lagi.    
Kini Ayu sudah bisa membuat makanan dengan rasa normal. Walau masakan yang dibuat Ayu masih berupa masakan sederhana, seperti, bubur ayam, nasi kuning, dan lain sebagainya. Setidaknya itu sudah cukup disebut sebagai makanan, tidak seperti telur mata sapi yang rasanya sangat manis bagai permen.    

Di ujung sana, Bayu melihat Ayu yang sedang memasak. Dari bahan-bahan yang berupa sayuran mentah yang dipotong rapi, dengan saus kacang, Bayu tahu kalau Ayu sedang membuat karedok. Hanya saja, ada satu bahan yang membuat Bayu agak mengernyit.    

'Kenapa ada saus sambal di samping saus kacang? Dia tidak berencana memasukannya, kan?'    

Tidak menunggu lama, makanan pun siap. Ayu memindahkan dua piring karedok ke meja beserta dua gelas air putih, satu botol sambal, satu botol kecap, satu piring tahu goreng, dan satu toples kerupuk. Semua barang-barang itu Ayu pindahkan dengan kekuatan psikokinetik miliknya, sehingga melayang perlahan dan mendarat sempurna tanpa ada satu tetes air pun terjatuh.    

Bayu dan Ayu lalu duduk di bawah, memulai menyantap makanan malam hari ini. Bayu melahap makanan di depannya, mengangguk mengakui kalau karedok yang dibuat Ayu sudah sempurna. Ayu senang, ia pun mulai memakan bagiannya.    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang