Tazkia mendekati cermin besar di meja riasnya. Pada pantulan cermin, Tazkia melihat bayangannya sendiri, menyimpan telunjuk di depan mulut, mengisyaratkan Tazkia untuk tidak berbicara. Tazkia mengangguk mengerti.
Tazkia tentu tertegun ketika melihat bayangannya bergerak sendiri. Namun, ia dibuat lebih terkejut lagi ketika ke dua tangan bayangannya itu, keluar dari cermin lalu menggenggam lengannya. Tazkia sontak ingin berteriak, namun sebelum sempat ia membuka mulut, ke dua tangan itu telah menarik tubuhnya masuk ke cermin. Sedangkan tubuh bayangannya keluar dari cermin menggantikannya di dunia nyata.
Sewaktu Tazkia masuk, ia ingin langsung kembali, namun sebuah cengkraman di pundak menghentikannya. Tazkia melihat pemilik tangan itu yang ternyata adalah ibunya, Lamria. Tazkia ingin berucap, namun ibunya menempelkan telunjuk di bibir Tazkia.
Lamria lalu berpaling ke Mary yang melayang tidak jauh darinya. Mary tanpa pikir panjang langsung melucuti pakaian Tazkia dengan membakarnya.
"!! Apa yang kau lakukan?!" Tazkia kali ini tidak menahan suaranya, melihat dirinya kini telanjang membuatnya naik pitam. Tazkia menutupi bagian terpenting tubuhnya dengan ke dua tangan.
"Kita tahu kau disadap, lebih cepat membakarnya daripada mencarinya."
"Hah?!"
Lamria tertawa kecil, ia lalu mengeluarkan pakaian yang sudah disiapkan dari dalam tas yang dibawanya.
"Sudah, sudah, ini pakai, Mama sudah siapkan gantinya, kok."
"Terima kasih, Ma," Tazkia segera berbalik untuk memakai baju yang diberikan Lamria, ketika memakainya, sebuah kemeja dengan celana jeans, Tazkia tidak menyangka kalau sepasang pakaian itu sangat pas pada tubuhnya.
'Mama masih ingat dengan ukuran bajuku.'
Takzia tersenyum manis, sebelum ia berbalik kembali, kini dengan raut serius.
"Ada apa repot-repot membawa saya kemari?" Tanya Tazkia.
"Kamu bilang mau bekerja sama dengan Mata Libra, kan? Guildmaster mau berbicara denganmu."
Tazkia mengangguk mengerti, lalu ia berpaling ke cermin, melihat bayangannya di dunia nyata kini tengah berbaring di tempat tidur.
" … "
"Tidak perlu dipikirkan, bayanganmu adalah replika sempurna dari dirimu. Begitu pula dengan penyadapnya. Kamu tidak perlu khawatir akan ketahuan," tukas Mary yang tampak mengerti dari raut Tazkia.
"Baguslah kalau begitu. Saya tidak mau mati gara-gara ini."
Mary menyeringai mendengar itu. Gadis kecil itu lalu mengeluarkan cermin besar lain yang merupakan gerbang ke dunia cermin yang memantulkan markas Mata Libra. Ke tiganya masuk, sampai di dunia cermin markas, lalu keluar ke dunia nyata melalui cermin besar yang tertempel di lantai dua markas.
Cermin besar hampir ada di setiap gedung markas Mata Libra. Hal ini dilakukan oleh Lamria agar Mary bisa mengawasi dan melindungi markas dari serangan yang tidak terduga.
Seraya keluar, Lamria langsung menuntun Tazkia ke ruangan Bayu.
"Guildmaster, sudah menantimu sejak tadi, namun mengetahui situasimu saat ini. Dia memilih untuk menunggumu pulang ke rumah."
Lamria dan Tazkia tiba di depan pintu Bayu. Lamria mengetuk lalu mendengarkan suara Bayu yang menyuruhnya masuk.
Semerta masuk, Lamria dan Tazkia melihat Irina berada di dalam sana, sepertinya baru saja selesai memberikan laporan. Irina melihat Tazkia datang, tersenyum sebentar, sebelum mengangguk menyalami lalu keluar berlalu ke lobi.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
AzioneKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
