Pada lobi lantai pertama markas Mata Libra.
Bison yang melihat kondisi Fox mulai panik, ia tahu kalau racun adalah penyebabnya. Ia lalu mengambil gelas yang tadi dipakai temannya, mencoba menciumnya. Tidak mendapati bau apa pun yang mencurigakan selain harum wine.
Kondisi Fox kian semakin parah, dengan temannya mulai mengerang tanpa suara. Sekujur tubuh Fox mulai kejang-kejang, dengan busa yang mulai keluar dari mulut. Bison segera berlari ke meja konter, menggeledah sana-sini, mencari antidote yang seharusnya guild ini punyai kalau memiliki sebuah racun. Tapi ayal, nihil ia temui setelah bergegas mencari. Bison kini melihat Fox dengan pandangan mata yang mulai meredup.
"Tidak tidak tidak tidak! Brengsek! Di mana antidotenya?!" Bison berteriak lantang sehingga terdengar ke seluruh gedung.
"Kamu tidak akan menemukannya di manapun~"
Suara seorang wanita yang mendayu seketika terdengar dari balik punggung Bison, dari arah pintu depan markas. Semerta tubuhnya merinding berkeringat dingin, merasakan hawa yang tidak enak masuk ke ruangan. Bison perlahan melirik ke belakangnya, dan di sana... ia terbelalak mematung melihat tubuh wanita yang seharusnya telah mati, kini tubuh itu berdiri di bawah pintu sembari membopong kepalanya yang telah terpenggal.
"Ba-ba-bagaimana bisa?!" Sekujur tubuh Bison seketika bergetar ketakutan melihat sosok wanita di depannya. Pada kepalanya yang terpotong itu, senyum manis si wanita itu malah semakin membuat ke dua lututnya lemas. Otaknya tidak sanggup memproses apa yang saat ini sedang ia lihat.
Di sana, tubuh Aarifa yang seharusnya kaku tanpa nyawa, kini di depannya mata Bison wanita itu masih bisa berdiri normal. Darah yang tadi mengalir deras dari bekas potongan di lehernya pun, seperti suatu mahluk hidup, secara perlahan merangkak naik dari permukaan tanah menyusuri tubuh elok Aarifa, kembali ke dalam tubuhnya melewati bekas potongan yang dibuat oleh Fox.
Bison semakin ngeri menyaksikan kejadian yang seharusnya hanya ada dalam film horor itu. Ia dengan susah payah merangkak menjauh, meninggalkan Fox yang semakin sekarat dan akan mati kapan saja.
Untuk Bison, ini merupakan salah satu hal terseram yang pernah ia rasakan. Hatinya terus berkata kalau wanita itu bukanlah orang yang mampu ia lawan. Jadi baginya, lari adalah prioritas. Sayangnya, tidak lama dia merangkak, seketika tubuhnya tidak bisa digerakkan.
'!!!'
Bison semakin panik, mencoba menggerakkan seluruh tubuhnya namun naas, semua tubuhnya seperti mematung, sekuat apa pun ia ingin bergerak, tidak satu inci pun tubuhnya menuruti keinginan otak dan ototnya.
'Apa yang terjadi padaku?!'
Tap tap tap tap tap
Suara langkah kaki pelan terdengar mendekat dari balik pundaknya, membuat jantung Bison berdetak semakin kencang tidak beraturan. Ia kemudian mendengar suara-suara mencurigakan nan seram dari belakangnya. Erangan dari temannya, dan suara cekikikan wanita membuat kengerian semakin menjadi pada dirinya.
Tap Tap
Kini ia melihat sepasang kaki berkulit putih mulus tepat di depannya, dia tahu kalau wanita itu kini tiba.
Gulp
Bison menelasn ludahnya, mulai merasakan kematiannya hanya tinggal hitungan menit.
"Kamu tahu, aku bukan seseorang yang suka membunuh, jadi tidak perlu takut. Temanmu juga sudah kusembuhkan, walaupun bisa dibilang seluruh tubuhnya kini lumpuh. Hehehe~ oh ya, kamu mau kabur ke mana? Malam-malam datang bertamu memotong kepala orang seenaknya, kalian ini tidak tahu sopan santun ya~"
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
AcciónKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
