158

120 14 3
                                        

Dunia cermin. Serpihan kaca yang telah tidak terhitung jumlahnya membangun kembali pemandangan Kota Kembang yang kini telah musnah akibat serangan Mary.    
Mary terbang di langit Kembang dalam dunia cermin, sembari mengangkat tubuh Jasper dengan memegangi jubahnya. Tadi, sebelum serangan puluhan naga mengenainya, Jasper telah pingsan duluan. Mary langsung mengevakuasinya agar tidak hancur oleh serangan yang ia lesatkan.    

Mary pandangi area sekitranya yang sekiranya membutuhkan waktu lama agar bisa kembali seperti semula. Mary lalu melirik ke Jasper yang tergantung di tangannya. Tidak tahu harus ia apakan musuhnya itu.    

Hingga pada akhirnya ia mendengarkan suara memanggilnya.    

"Bookmaster…"    

Mary langsung membuat sebuah cermin di sampingnya, masuk ke dalamnya, berpindah tempat ke dunia cermin yang merupakan pantulan replika dari kediaman Rivertale. Mary pergi ke kamar Bayu, melihat sosok Bookmaster Keenam berada pada pantulan cermin di almari.    

"Sudah saya duga kau akan memanggil."    

Mary tanpa basa-basi langsung menarik Bayu dan Aarifa masuk ke dunia cermin. Mary dapat merasakan hawa kurang enak dari Bayu maupun Aarifa. Memang benar apa yang diperkirakannya, Bookmaster akan marah dengan kejadian tadi.    

Bayu sendiri, sesaat telah mengetahui kalau Mary turun tangan mengatasi masalah. Ia sebenarnya sudah tenang kembali. Namun, ia berpikir kembali, karena besar kemungkinan kejadian penyerangan ini akan terus terjadi kalau ia hanya diam tanpa mengambil sikap. Oleh karenanya, Bayu tadi menyuruh Irina pulang ke rumah ibunya, lalu menunggu hingga Mary selesai bertarung sebelum memanggilnya. 
Bayu mulai berpikir untuk menyerang balik. Menyerang akar dari semua permasalahan ini, bukan Union, tapi Hakam Justicien. Oleh karenanya, ia hanya membawa Aarifa bersamanya. Meninggalkan Citra dan Irina di Sentral untuk mengurusi beberapa keperluan guild.    

Setelah memasuki dunia cermin, Bayu menyuruh Mary untuk membawanya ke markas.    

Di markas, para pegawai guild masih membersihkan noda darah serpihan kayu serta kaca yang berserakan akibat pertarungan satu sisi oleh Jasper. Mendapati darah segar yang begitu banyak menggenang di lantai membuat hati para pegawai pilu. Mereka berharap para avonturir mereka bisa selamat dan tiada dari mereka yang menyerah sebagai bagian dari Mata Libra.    

Beberapa pegawai bahkan mengisak tangis, melihat betapa buruknya kondisi beberapa avonturir. Terlebih lagi Vin yang kini memiliki luka bakar di sekujur tubuh. Begitu pula dengan Sasha yang terluka dengan darah telah menghiasi badannya, tidak ada satu ruang pun yang bersih di kulit langsatnya, belum lagi melihat lubang di perut akibat tusukan bongkahan es dari Jasper. Melihatnya saja membuat para pegawai mual dan muntah.    

Kini para avonturir telah dibawa ke klinik dan diberikan pertolongan pertama sebisanya. Lamria telah menghubungi pihak rumah sakit agar segera mengirimkan tenaga medis ke guildnya. Namun, diperkirakan akan membutuhkan waktu setengah jam lebih untuk mencapai markas mereka yang jauh dari keramaian kota.    

Lamria hanya menanti pasrah pada kenyataan. Ia hanya berharap agar para avonturir bisa bertahan.    

Waktu terus berlalu, dua puluh menit telah lewat sejak Lamria memanggil rumah sakit. Dokter belum kunjung datang, Lamria dan Mutia yang merawat avoturir di klinik merasa kalau beberapa avonturir telah berada di napas terakhirnya. Lamria telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi situasi terburuk.    

Namun beruntungnya, sebelum situasi bertambah buruk. Pintu klinik terbuka, seorang wanita dengan tubuh sensual masuk, berjalan cepat langsung menyuruh Mutia dan beberapa pegawai guild yang ia bawa untuk memindahkan seluruh avonturir yang terluka ke ruang operasi.    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang