Satu minggu telah berlalu sejak Sukma dan temannya Darius diterima bekerja sebagai pegawai Mata Libra. Sukma ditugaskan sebagai resepsionis sedangkan Darius sebagai staf administrasi. Darius dan Yudha bekerja di lantai pertama ruang bawah tanah, sedangkan Sukma harus menunggui meja resepsionis yang selalu sepi sendirian. Untungnya, di lantai pertama ini Sukma memiliki Margareth sebagai teman untuk diajak berbicara. Kalau bosan, Sukma akan menghampiri manajer Vanessa tersebut di konter bar.
Banya hal yang membuat Sukma terkejut ketika pertama kali dikenalkan oleh orang-orang dalam guild ini. Pernyataan guildmaster kalau guild ini absurd memang benar adanya. Dia bahkan mulai berpikir kalau tempatnya kerja merupakan suatu tempat yang lebih baik tidak dikenal banyak orang. Karena hal yang ada di dalamnya bisa membuat geger masyarakat Nusa bahkan dunia.
Sewaktu itu pulalah, Sukma dan Darius mengerti apa arti komitmen yang diminta guildmaster kemarin ketika wawancara.
Banyak hal yang membuat mereka sendiri lebih berharap tidak mengetahuinya sama sekali. Seperti, adanya empat kelas platinum dalam guild (mereka menghitung Panji dan Bayu sebagai dua orang berbeda, dan ya, Panji terdaftar sebagai anggota guild setelah proses 'negosiasi' dengan Federasi), yang jumlahnya hampir menyamai angka platinum di Nusa yang diketahui publik.
Belum lagi mereka juga akhirnya tahu keberadaan Vanessa yang menjadi misteri media hingga kini. Sukma dan Darius tertegun ketika bertemu Vanessa, yang dengan senyum mengenalkan dirinya sendiri sebagai salah satu anggota Mata Libra. Darius merasakan pening di kepalanya dengan semua fakta yang dibenturkan padanya. Ia kini merasa kalau pekerjaan yang diterimanya mungkin lebih besar dari pekerjaan yang ia impikan di kepemerintahan Nusa. Darius merasa tertantang.
Sukma sendiri setelah melihat Vanessa, sebagai salah satu fans, ia langsung menangis tersedu-sedu sambil meminta foto bersama dan tanda tangan sang diva. Tidak pernah terbersit kalau dia dan idolanya akan berada pada satu lingkup kerja yang sama. Sukma begitu bahagia, dan sejak itu dia selalu mengunjungi Vanessa, setelah jam kerjanya usai.
Kini seminggu telah lewat, dan guild masih sepi seperti biasa. Sukma melihat jam yag menunjukan pukul sepuluh pagi. Sukma beranjak dari mejanya, pergi ke konter bar menemui Margareth yang tampaknya sedang sibuk melatih pengendalian aura.
"Kak Marga, tampaknya kakak bakal jadi avonturir sebentar lagi?" ucap Sukma yang sudah dapat melihat aura Margareth yang keluar menyelimuti tangannya, walau masih terlihat tidak beraturan.
"Hmmm, walau saya jadi avonturir, dengan aura seperti ini, saya tetap tidak bisa melakukan apa-apa. Haa~"
"Tapi bukankah memang itu yang diingin kan Guildmaster? Kakak sebagai perunggu saja sudah cukup, karena tugas kakak masih sama seperti dulu. Sebagai manajer. Ngomong-ngomong, keluarga Kak Marga di Hexagone bagaimana?"
"Mereka aman, sebelum Federasi Nusa mengumukan kerahasiaan lokasi Vanessa, Guildmaster Bayu sudah meminta Federasi untuk mengungsikan keluarga saya dan Vanessa di Federasi Hexagone sana."
Mata Sukma seketika bekilau mendengar ini, "Guildmaster ternyata memang orang yang hebat ya… sampai saat ini saja, saya masih belum percaya kalau rencana penyerangan Sentral kemarin gagal karena informasi yang diberikan Guildmaster. Tapi—kenapa kita tidak dikenal sama sekali? Bukankah kita juga harusnya menjadi terkenal seperti Ishvara dan yang lainnya? Apalagi setelah memikirkan kekuatan sebenarnya Mata Libra."
Margareth tertawa kecil, "Ini sudah keinginan Guildmaster, kamu juga tahu, kan? Begitu banyak pihak yang mengincar Vanessa. Jadi, ini lebih baik, setidaknya sampai guild lebih berkembang lagi."
Sukma mengerti, guild mungkin memiliki tingkat kekuatan tinggi, tapi mereka tetap kekurangan tenaga kalau harus menghadapi banyak pihak. Margareth memberitahu juga kalau pihak yang berada dalam Nusa tidak akan menjadi masalah, karena ada beberapa orang yang sudah mengetahui betapa seramnya Guildmaster Bayu. Tetapi pihak dari luar, yang tidak tahulah, yang merupakan masalah bagi mereka. Bayu dan yang lainnya, tidak mau mengotori tangannya dengan pertarungan yang tiada arti.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
AçãoKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
