Retakan dimensi stasiun Buitenzorg, malam hari sekitar pukul delapan.
Citra berjalan di tengah jalan pemukian sambil memperhatikan sekelilingnya. Lima meter di belakangnya, Rakha mengikuti tanpa bicara kata apa pun sejak kejadian tadi di lubang masuk retakan. Sama seperti Citra, ia memperhatikan sekelilingnya dari balik mata yang tertupi rambut. Ia memandangi Citra di depan sana, yang berjalan tegap dengan tangan selalu memegang gagang pedang di pinggulnya.
Rakha lalu melihat ke langit yang hitam pekat, tidak ada bintang maupun bulan di sana, padahal dari layar ponselnya ia tahu kalau ini sudah malam.
'Seperti inikah rasanya berada di retakan dimensi?'
Ngiiiing
Tiba-tiba terdengar suara peringatan akan adanya musuh yang mendekat. Rakha langsung memancarkan auranya ke sekitar sambil mencabut pistol aura yang tergantung di sabuk celananya.
Citra merasakan pancaran aura yang disebar oleh Rakha, ia melihat ke belakangnya dengan dahi mengerut.
Wah!
Sewaktu dia kembali melihat Rakha, lelaki itu seketika menembakkan pistolnya, peluru aura melesat melewati pipi Citra, mengenai arwah gentayangan yang tiba-tiba muncul. Citra melompat ke samping, mengeluarkan pedangnya.
Bang bang bang
Rakha tidak kenal ampun, ia menembakkan pistolnya berkali-kali sampai arwah itu musnah. Melihat arwah itu telah tiada, Rakha langsung berteriak pada Citra.
"LARI!"
Citra mengernyit mendengar teriakan Rakha sebelum dirinya akhirnya merasakan banyak hawa keberadaan mahluk lain yang serentak mendekat.
"""!"" ...!""!"!""!"!""!"!""!"!""!"!""!"!""!"!""!"!""!"!""!"!""!"!""!"!"!""!"!"!""!"!"!"!"!"!"!"!"!"!"!"!"!"!"!"!"!"!"!"!"!"!"!"!"!"!"!"!"!"!"!"
Citra tertegun ketika di tengah-tengah sedang merasakan hawa musuhnya, tangan tiba-tiba ditarik oleh Rakha, berlari dari tempatnya berdiri.
"Oi! Jangan seenaknya pega—!"
Bruar!
Tidak sampai tiga detik kemudian, seekor cacing raksasa muncul dari tempat Citra berdiri tadi. Rakha terus menarik Citra, mendengarkan terus-menerus mendengung mengingatkannya akan bahaya di dalam jarak aura yang disebarnya sekitar dua puluh meter dari dirinya.
'Terlalu banyak! Ada apa ini? Apa kita terpaksa harus bertarung?'
Sembari berlari Rakha berpikir tentang situasi di depannya. Citra yang sedari tadi mengikuti Rakha mulai menghangat wajahnya karena tangannya yang masih ditarik. Tidak tahan lagi, ia lepas paksa tarikan itu, mulai berlari di samping Rakha.
"Hentikan! Saya bisa berlari sendiri!"
Rakha tidak memedulikan tingkah Citra saat ini, karena suara dengung di telinganya semakin nyaring. Dia tahu sesuatu yang buruk akan datang, itu berasal dari depannya. Di belakang, mereka dikejar oleh puluhan arwah dan cacing raksasa, dan di depan mahluk berbahaya yang ia tidak tahu.
Rakha langsung menarik kerah belakang baju Citra yang lari di depannya, menariknya untuk berbelok ke sebuah rumah di samping.
"Aaaahh! Ugh!" Citra yang tertarik, merasa tercekik, ia melihat Rakha tajam.
"Ke sini!"
Namun Rakha tidak melihat Citra sama sekali, ia berlari ke depan pintu. Menendangnya terbuka terus berlari maju, hingga sampai di jendela belakang, ia tendang hingga pecah, sebelum akhirnya melompati jendela yang kini terbuka. Citra mengikuti Rakha dari belakangnya, ia melihat rekannya itu bersiap mendobrak rumah lainnya sembari beberapa kali menoleh ke kiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
AzioneKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
