163

92 12 0
                                        

Pertarungan terus berlanjut, Mary di angkasa telah menghabisi seluruh pasukan flyingboard yang berada di sekitarnya. Mary kembali ke sosok gadis kecil seperti semula, tangan mungilnya telah terwarnai oleh darah, yang masih menjatuhkan tetes demi tetes darah segar dari jari jemari ke lautan luas.    

Mary menoleh ke arah Aarifa berada, karena ia mengingat ucapan Anggi yang menginginkannya mengawasi dokter pemabuk itu. Tapi, Mary seraya menatap kosong melihat dokter itu yang berbaring di flyingboard sembari meminum teguk demi teguk bir dalam botol. Mary dapat melihat sisa air dalam botol hanya sekitar seperempatnya lagi. Aarifa meminumnya sedikit demi sedikit.    

"Dia perlu diawasi? Keadaannya tampak sangat terkendali bagiku."    

Mary lalu berpaling ke arah Bookmaster dan seorang manusia besar yang sedang di tengah pertarungan. Mary melihat Bookmaster hanya menghindar tanpa melawan balik, Mary mengernyitkan keningnya, mengamati kalau Bookmaster hanya menggunakan dua dari enam kekuatannya saja.    

"Apa dia takut dengan konsekuensinya? Hmm…"    

Mary menoleh ke tempat lain, ke lokasi di mana Anggi sedang berhadapan dengan pasukan Mu. Mary bisa melihat kalau Anggi telah dikerumuni oleh puluhan pasukan Mu, namun perempuan berkacamata itu masih bisa mendominasi. Ke dua Jenderal Mu tidak melakukan apa-apa, mereka sepertinya tampak mengamati keadaan.    

Mary mengernyit, merasakan keadaan telah terkendali di ke dua kapal induk. Dia pun memilih terbang ke tempat Anggi berada.    

"Butuh bantuan?" Tanya Mary kepada Anggi yang dengan mudahnya menhindari serangan seekor manusia burung, lalu mematahkan sayapnya dengan enteng.    

"Hmm, bagaimana menurutmu?"    

"Tidak sama sekali."    

Mary pun menghilang, ia seketika muncul kembali di hadapan ke dua Jenderal yang tampak sedang berunding.    

"!!!"    

Merasakan keberadaan seseorang tiba-tiba muncul seluruh pasukan pengawal serta ke dua Jenderal langsung berubah ke mode bertarung, para pasukan di sekeliling Mary seraya menghunuskan berbagai senjata tajam ke arahnya.    

"Tidak usah panik. Saya tidak berniat melakukan apa pun kalau kalian diam. Hanya sedikit peringatan, sebaiknya kamu suruh pasukanmu mundur. Cepat atau lambat mereka akan habis di tangan perempuan itu."    

Cho mengerut, sedangkan perempuan rubah berdecak kesal.    

"Kenapa kami harus menerima perintah darimu?! Manusia apa pun di depan kami akan mati!"    

"Hmmm… kami tidak berniat menjadikan kalian sebagai musuh. Kami hanya punya urusan sedikit di sana."    

"Kalian yang menyerang Union?" Cho kini menimpali.    

"Iya, itu benar. Kami punya sedikit masalah dengan salah satu Kapten di bawah sana, setelah kami menyelesaikan, kami akan pergi. Setelah itu silahkan kalian mau menyerang mereka sepuasnya."    

Cho mengernyit, "Tidakkah kalian peduli pada mereka?"    

"Saya sendiri—tidak. Yang lainnya, entahlah."    

"Hahahaha! Manusia memang bengis, kalian memang layak untuk kami musnahkan!"    

Mary menoleh ke perempuan rubah yang tampak siap menerjangnya kapan saja. Ia lalu berpaling kembali ke Cho.    

"Pertama-tama, saya bukan manusia, tapi, hei! Harimau dan rubah, sungguh saya sarankan kalian diam saja."    

"Sudah kubilang, siapa yang menerima perintah darimu?!" Perempuan itu seraya menerjang Mary. Kipas di tangannya membesar dengan pisau tajam di ujungnya.    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang