Gelap. Tazkia menatap kosong pada kehampaan di sekelilingnya. Dia tidak tahu bagaimana bisa berada di sana. Tubuhnya bagai melayang di tengah kegelapan, dengan hawa dingin merasuk kulit menusuk tulang, ia satukan ke dua tangan, merasakan tubuhnya menggigil. Tidak yakin apa menggigil karena dingin atau karena rasa takut.
Tazkia tahu matanya terbuka, tapi padangannya gelap gulita. Tangannya yang ia rapatkan, dapat dirasakan tapi tiada tampak. Saking gelapnya, ke dua matanya tidak bisa melihat tubuhnya sendiri.
"Di mana ini?"
Tazkia mengingat kembali kejadian dirinya sebelum ia berakhir di tempat ini. Ia ingat sebelum hilang kesadaran, ia bertemu dengan Panji.
"Apa saya telah meninggal?"
Tazkia mulai berpikir kalau ini mungkin ajal yang ia terima. Tazkia tersenyum tipis, matanya mulai berair namun tiada tangis mengalir.
"Pada akhirnya tidak ada apa pun yang dapat teraih,"
Tazkia tertawa kering, mengingat kembali hidupnya. Mengingat kembali masa kecilnya di mana ia bisa tertawa lepas bersama ayah dan ibunya. Bermain riang bersama ke dua kakaknya. Melihat kesibukan ke dua orang tuanya, yang tetap mampu menghiburnya setiap hari. Ayahnya yang selalu mengajaknya bermain ketika pulang, Mamanya yang membaca dongeng padanya sebelum tidur.
"Ke mana senyummu, Tazkia?"
Hilang. Setelah ayahnya meninggal, Lamria menjadi sangat sibuk sebagai orang tua tunggal. Tazkia dan kakak-kakaknya lebih sering tinggal di rumah kakeknya. Mereka hanya bisa bertemu dengan sang ibu pada saat pagi hari, akibat Lamria yang selalu pulang telat bertepatan waktu mereka tidur.
Pernah satu hari Tazkia menunggui kedatangan ibunya, menunggu hingga jam satu dini hari. Lamria terkejut, membawa Tazkia muda ke kamar Lamria, mengajaknya tidur bersama. Tazkia bahagia, walau tidak ada dongeng maupun obrolan sejenak karena lelah Lamria yang membuatnya tertidur seketika. Tazkia senang walau kala itu sangat singkat.
Waktu begitu berwarna sampai Tazkia beranjak remaja. Hingga pada waktu seorang pria asing dipertemukan kepada ibunya oleh sang kakek. Pria itu selalu berbicara tentang membuat Nusa yang lebih baik, menjadikan para warganya sejahtera. Hal yang abusrd di dunia masa kini.
Tidak lama, entah bagaimana, pria tersebut berhasil menikahi Lamria. Menjadi ayah baru bagi Tazkia. Sang perempuan muda tidak menyukai ayah barunya, sejak saat itu Tazkia sudah mulai mencari rumah di luar. Pergi dari rumah menjauh dari ke dua orang tuanya.
Bertahun-tahun Tazkia menyibukkan diri dengan studi kuliah dan karirnya, pergi ke sana kemari melancong ke luar negeri. Hingga kabar sang kakek jatuh sakit membuatnya harus pulang ke rumah.
Sewaktu Tazkia mengunjungi kakeknya yang sakit. Sebelum ia sempat sampai ke kamar kakeknya, ia menyadari kalau ada beberapa orang lain di dalam kediaman kakeknya. Orang-orang yang tidak ia kenal memakai baju serba hitam. Menyadari akan adanya bahaya, Tazkia bersembunyi di dalam sebuah almari.
Selama ia bersembunyi, Tazkia tidak sengaja mendengar suara seseorang yang familiar di telinganya. Endra, suara tenang nan dalam ayah tirinya begitu berbekas di ingatan Tazkia kala itu. Suara ayahnya itu bisa diperkirakan keluar dari proyeksi sebuah ponsel. Orang asing dan ayahnya berbicara sesuatu yang membuat dirinya tidak percaya apa yang telah didengar.
"Satu tumbang, tinggal satu lagi. Kalau Mama tidak menyerah, habisi saja. Hehe~ memangnya akan kubiarkan itu terjadi," gumam Tazkia yang melayang meratapi masa lalu.
Setelah orang-orang asing itu pergi, Tazkia keluar lalu pergi mendapati kakeknya memang benar telah tiada. Dokter yang dipanggil setelah itu berkata kalau kakeknya meninggal karena penyakitnya, darah tinggi. Tapi, Tazkia tahu itu bohong. Dokter saat itu pasti telah dibayar, karena seminggu setelahnya, dokter itu ditemukan tewas di negara Tara. Asosiasi mencabut gelar kedokteran dari dokter tersebut karena bukti kuat akan menerima suapan dari berbagai pihak.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
AksiyonKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
