Pelelangan menjadi kacau setelah aksi penyerangan dari beberapa orang. Asap masih pekat memenuhi ruangan, jarak pandang hanya sekitar dua meter. Orang-orang yang tidak berhasil bereaksi cepat akan serangan musuh mulai berjatuhan satu persatu. Suara tembakan dan senjata tajam di dalam kabut asap memberitahukan adanya pertarungan sengit di dalam sana.
Pada balkon-balkon di atas, selain kelompok Roman, empat belas kelompok lain dapat mengantisipasi serangan sehingga tidak jatuh korban di antara mereka. Hanya saja, akibat pekatnya kabut, semua kelompok itu tidak bisa melakukan apa-apa.
Ke tujuh guild emas tampak frustasi menanti asap yang tiada lenyap, suara pertarungan di bawah sana semakin membuat mereka cemas akan para rekan anggota seguildnya. Belum lagi suara erangan dan teriakan para tamu yang mulai meramaikan suasana.
Pada tempat Ishvara, Daiva yang semakin cemas bukan karena khawatir pada Arvi, melainkan cemas akan artifak pusaka jika berhasil dicuri. Guildmaster Selina, berusaha keras mendapatkan artifak itu demi dirinya. Walau ia tahu nantinya harus bekerja keras bagai budak untuk membayar kembali ke Selina, untuknya dua tiga tahun menjadi budak sangatlah sebanding asalkan ia bisa menjadi platinum. Tapi sekarang, mimpinya itu bisa saja raib gegara aksi sekelompok orang ini.
"Tsk! Aaaaaa!"
Daiva sudah tidak sabar lagi, ia langsung melompat terjun menuju medan tempur di depan panggung sana.
"Daiva!"
Ratna berteriak memanggil, sayangnya ia telat, Daiva telah pergi menghilang ditelan kabut asap. Selina menyaksikan Daiva pergi, dalam kepalanya Selina tidak panik karena ia percaya pada Arvi di bawah sana. Selina juga merasakan adanya fluktuasi aura di sekitarnya yang memberitahu kalau avonturir lain dari para guild emas sudah mulai turun. Namun Selina merasa heran pada lima keluarga elit, pemerintah Nusa dan Mata Libra yang tidak terasa ada pergerakan sama sekali.
'Saya mengerti kalau lima keluarga tidak akan ikut campur karena orang-orang di bawah sana layaknya musuh yang bisa menggantikan tempat mereka di masa depan nanti. Kalau Gunawan, dia sulit ditebak, tapi kemungkinannya ia ingin melihat reaksi dari ke lima keluarga. Terakhir Mata Libra, mustahil Master Bayu tidak mengetahui penyerangan ini dengan kekuatannya. Itu berarti ada dua kemungkinan, pertama dia percaya kalau situasi ini bisa diatasi oleh orang-orang di bawah sana, dan kedua karena dia memang tidak peduli sama sekali akan situasi ini.'
Selina berpikir keras, "Tsk! Kemungkinan ke duanya benar sangat besar, mengingat Master Bayu, dia tidak akan peduli pada nyawa orang-orang di bawah sana."
Jadi apa yang sebenarnya terjadi di balkon VIP Mata Libra?
"Keluarkan lagi~ buat auramu stabil sembari bernapas teratur. Jangan biarkan auramu menyentuh kulit wajah, beri jarak antar selaput aura dan kulit wajah," setelah beberapa menit, "Bagus pertahankan itu. Ingat serangan asap seperti ini, apalagi yang telah diimbuhi oleh aura, bisa tetap merasuk ke auramu dan bercampur di dalamnya. Oleh sebabnya banyak avonturir di bawah sana yang gagal mengantisipasi ini dan menjadi korban. Untuk menghindari hal yang sama, kau hanya perlu memberinya jarak sedikit, lalu memerangkap asap itu dalam selaput aura yang kamu buat."
Yup, pada balkon Mata Libra, Bayu dan Aarifa dapat dengan mudah bereaksi pada serangan asap. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Irina dan Citra.
Bayu dengan sigap mengalirkan auranya ke Irina melindunginya dari asap, sedangkan Aarifa menolong Citra. Namun, setelah merasakan keadaan di bawah tidak telalu darurat, Aarifa mulai mengajari Citra cara mengatasi serangan seperti ini.
Citra sedikit demi sedikit melakukan setiap instruksi dari Aarifa dan akhirnya bisa berhasil setelah belasan menit. Suara erangan dan pertarungan sengit di bawah sana semakin keras, namun untuk mereka, Mata Libra, kejadian di bawah sana masih berada dalam kendali.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
ActionKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
