193

91 12 1
                                        

Markas Mata Libra, Kota Kembang.   

Pada hari yang sama dengan rombongan Presiden berada di Kota Anjuran. Siang harinya. Bayu terbangun dari tidurnya di atas tempat tidur dalam kamarnya. Seketika ia membuka mata, di depan wajahnya langsung terlihat rambut yang untaiannya menggelitik leher Bayu.    

Bayu mengernyit, merasakan dadanya berat karena seorang gadis kecil ternyata tidur di atas badannya. Memeluknya dengan erat serta air liur yang membasahi baju dan dadanya.    

Bayu mengusap-ngusap kepala gadis kecil itu, lalu secara perlahan memindahkannya ke samping. Ia melihat gadis kecil itu, Aruna, tertidur lelap. Menggerakkan tubunya ke samping setelah dipindahkan Bayu lalu menghisap ibu jarinya.    

"Mmm, munya~ munya~"    

" … "    

Bayu melihat Aruna dengan pandangan kosong. Kalau tidak salah ia pernah melihat Lamria menampar tangan Aruna yang ibu jarinya sedang dihisap. Mengingat itu, Bayu pun melepas jempol itu dari mulut Aruna. Namun, sedetik jempol itu keluar, detik kemudian Aruna berbalik badan, kembali memasukkan jempol ke mulutnya.    

" … "    

Bayu lalu melihati dirinya, atau lebih tepatnya bajunya yang terbasahi oleh air liur. Dia mulai berpikiran kalau bajunya pasti basah karena air liur yang mengalir ke ibu jari Aruna lalu keluar membasahi bajunya. Bayu mengernyit. Ia kembali melepaskan jempol itu. Namun seperti sebelumnya, Aruna langsung menghisapnya kembali.    

Hingga pada akhirnya, setelah keempat kalinya Bayu melepaskan ibu jari itu. Yang dilihatnya kini bukanlah jempol yang masuk kembali, melainkan tatapan tajam Aruna yang melihatnya dengan kesal.    

" … jangan ngempeng. Nanti Mamamu marah kalau jadi kebiasaan."    

"Hmph!" Aruna membalas omongan Bayu dengan cemberut, berbalik membelakangi Bayu lalu menghisap kembali ibu jarinya. Bayu kembali mencoba melepaskannya, namun kali ini ditahan oleh Aruna dengan kuat sehingga tidak bisa terlepas. Aruna mengerutkan dirinya untuk memperkuat diri dari serangan Bayu.    

Bayu pun menghembuskan napas panjang, sudah tidak peduli lagi dan berjalan keluar. Aruna di tempat tidurnya, tersenyum lebar, merasa telah menang. Lalu merubah ke posisi nyaman sebelum melanjutkan tidur … tentu dengan menghisap jempolnya.    

...    

.    

Bayu keluar dari kamarnya, berpindah ke ruang tengah. Dari arah dapur ia mendengarkan suara seseorang yang sepertinya sedang sibuk memasak. Bayu pun berjalan mendekati asal suara.    

Di dapur ia melihat ibunya, Olivia, yang tampak sedang membuat adonan kue.    

"Ah, Bay! Sudah bangun kamu rupanya. Lapar?"    

Bayu mengangguk.    

"Di kulkas masih ada ayam kodok sisa tadi malam. Panaskan dulu sendiri di oven."    

"Siap, Ma."    

Bayu pun berlalu membuka kulkas, melihat ada satu piring ayam kodok yang masih tersisa setengahnya. Mata Bayu agak bersinar, lalu mengambil ayam itu. Dirinya sudah lama tidak memakan ayam kodok. Jadi Bayu sangat tergiur dengan santapan kali ini.    

Ibunya, Olivia serta kakaknya, Maya, tiba kemarin malam dari Sentral karena perintah Presiden untuk mengevakuasi Sentral. Sesuai yang Bayu rencanakan mereka berdua akan tinggal di kamar atau bisa dibilang apartemen pribadinya di lantai tiga markas. Hanya saja ada dua kamar di tempat Bayu, dan ia berniat untuk tidur di ruang tengah, menyerahkan kamarnya untuk Maya.    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang