101

75 10 0
                                        

Siang hari di markas Mata Libra.  
 
Di depan pintu markas, sepasang lelaki dan perempuan berdiri menyiapkan diri sebelum akhirnya mereka membuka pintu kayu besar di depannya.    

Ketika masuk, mereka berdua melihat ruangan di dalamnya yang terlihat pengunjung sepi. Hanya terdapat seorang lelaki di meja resepsionis dan seorang perempuan yang duduk di meja konter bar, tanpa ada bartender yang menjaga. Ke duanya merasa bayangan mereka akan sebuah guild yang biasanya banyak hilang begitu saja.    

"Apa ini benar-benar sebuah guild?" bisik Sukma yang mulai ragu dengan tempat ini.    

Darius tidak menjawab, ia melihat tata ruang di depannya yang begitu sederhana namun terasa nyaman. Ketika dia melihat markas dari luar tadi, dia sedikit skeptis karena menemukan sebuah markas yang terbuat dari kayu, hal yang sudah jarang sekali ditemukan saat ini. Tapi, sekarang dia merasa selera kalau pemimpin guild ini sangat bagus dan menarik perhatiannya.    

“Ayo,” ajak Darius kepada Sukma yang mulai ragu, berjalan menuju meja resepsionis.    

Sesampainya di sana, ia disambut oleh resepsionis lelaki yang tampak muda sekali.    

"Selamat datang di Mata Libra, ada yang bisa saya bantu?"    

"Ehmm…"    

"Kami kemari untuk sesi wawancara. Ini undangannya," ujar Darius sambil menampilkan gambar undangan dari Bayu di layar ponselnya. Melihat ini Sukma juga langsung menampilkan undangan yang ia terima.    

Yudha melihatnya, tersenyum ramah sambil mengangguk setelah mengkorfimasi keaslian undangan tersebut.    

“Kalian berdua sudah kami tunggu kehadirannya, mari saya tunjukan mengarahkan,” ucap Yudha sambil melangkah keluar dari meja presentasi untuk mengantarkan calon karwayan baru ke ruangan kantor Bayu di lantai dua.    

Sukma dan Darius mengikuti lelaki yang tampak lebih muda dari mereka itu, menaiki tangga ke lantai atas, sebelum akhirnya mereka tiba di sebuah pintu yang berpelatkan 'guildmaster' tergantung di badan pintu. Yudha mengetuk dua kali, sebelum akhirnya membuka pintu setelah terdengar perintah masuk dari dalam. Mereka bertiga pun masuk.    

“Guildmaster, para pelamar telah datang,” ujar Yudha sambil menunjuk dua orang di belakangnya. Sukma dan Darius pun maju, agak membungkuk kepada Bayu yang duduk di belakang meja kerjanya. Dalam diri keduanya, rasa kaget kembali muncul karena mendapati seorang guildmaster yang masih sangat muda.    

"Oh, kalian sudah di sini rupanya," Bayu menurunkan buku yang sedang dibacanya, menilik ke dua orang di depannya. Seorang perempuan dengan tinggi sekitar 165 cm, dengan rambut sebahu bergelombang berponi disisir ke samping kanan, mengenakan pakaian formal jas hitam dan kemeja pink serta rok hitam selutut. Wajahnya agak pucat, mungkin karena gugup.    

Satunya lagi merupakan seorang laki-laki dengan tinggi sekitar 175 cm, rambut pendek rapi, mengenakan jas biru tua dan celana cokelat tua. Raut wajahnya menunjukan suatu kepercayaan diri dalam dirinya.    

"Darius dan Sukma, kan? Silahkan duduk," ujar Bayu menyilahkan duduk di kursi di sebrang mejanya. Bayu lalu melambai ke Yudha menyuruhnya pergi.    

Sukma duduk, ia menilik guildmaster muda di depannya. Lelaki itu terlihat pucat dengan mata sayu, wajahnya terlihat tanpa ekspresi. Ia melihat mata lelaki yang hitam pekat itu, merasakan pandangannya menguliti seluruh tubuhnya bahkan hingga ke rahasia terdalam yang ia miliki. Sukma seketika merinding melihat guildmaster di depannya.    

Gulp    

Sukma menelan ludahnya, suasana yang hening semakin membuatnya kurang enak.    

"Kau tak perlu gugup," tiba-tiba Bayu berkata, setelah melihat raut Sukma, "Pada dasarnya kalian sudah bisa bergabung kapan saja, karena bagaimana pun guild ini termasuk baru dan kami membutuhkan tenaga untuk membuatnya bekerja."    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang