Keesokan harinya, Situs Sugessava pada wilayah reruntuhan Kota Anjuran.
Malam hari telah tiba. Sebuah rombongan yang terdiri dari Presiden Nusa, Jihan Wiyata, Gunawan dari Asosiasi Sejarawan Mitos Nusa, Rosa Anggraeni selaku Direktur Pasukan Inteligen Nusa (PIN), beberapa orang dari Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Luar Negeri serta segerombolan prajurit dari PIN dan militer Nusa yang dengan tertib mengikuti langkah sepasang lelaki dan perempuan muda di depan rombongan.
Pasangan lelaki dan perempuan itu adalah Rakha dan Roxanne yang ditugasi oleh guildnya, Mata Libra, untuk membimbing para delegasi negara Nusa ke Kerajaan Parahyangan.
Dalam keadaan hutan yang gelap, seluruh orang yang belum pernah ke Situs Sugessava mulai bergemetar. Belum lagi dengan suara para monster di sekeliling mereka yang membuat suasana semakin mencekam.
Gunawan yang berada dalam rombongan agak pucat. Masih belum yakin dengan rencana yang Bayu buat. Begitu juga dengan Presiden Jihan yang tidak disangka menyetujui rencana gila Guildmaster Mata Libra tersebut.
Gunawan mengingat kembali peristiwa kemarin, ketika ia mendengarkan saran yang diberikan Bayu kepadanya.
Jujur, sewaktu ia mendengar saran itu, Gunawan berpikir kalau Bayu tengah mengkhayal. Karena saran yang Bayu berikan adalah menjalin sebuah hubungan diplomasi dengan sebuah kerajaan gaib. Dengan begitu, Nusa tidak selalu harus bergantung pada Federasi dan guild bila keadaan darurat seperti sekarang terjadi.
Gunawan bisa mengerti logika dari saran yang diutarakan Bayu. Namun, ia tidak tahu apakah itu bisa dilakukan.
"Nusa sudah mencoba melakukan hubungan kerja sama dengan Kerajaan Laut Selatan, namun seperti yang kau tahu, pada akhirnya ke dua negara hanya bisa melakukan gencatan senjata. Walau pada akhirnya, Laut Selatan melanggar perjanjian gencatan senjata itu juga. Saat ini, melakukan negosiasi dengan mereka akan sangat sulit, apalagi sudah ada kabar kalau Laut Selatan mau menyerang Akademi kembali. Jadi, saranmu itu agak mustahil dilakukan."
"Aku tidak pernah menyebutkan kalau kau harus benegosiasi dengan Laut Selatan."
" ...huh?"
Sungguh saat itu Gunawan kebingungan. Namun setelah mendengar kalau yang dibicarakan Bayu merupakan kerajaan gaib lain, yang ternyata terletak sangat dekat dengan Sentral dan Kembang. Ia seraya tersontak kaget.
"Apa yang anda bicarakan ini benar?!"
"Kenapa aku harus berbohong?"
Kerajaan Parahyangan. Kerajaan gaib yang dikatakan Bayu, bukanlah nama asing yang tidak diketahui oleh Gunawan. Sebagai sejarawan mitos, ia pernah membaca tentang keberadaan kerajaan tersebut di masa lalu. Namun, tidak pernah ia sangka kalau kerajaan masa lalu itu kini menjadi kerajaan gaib yang masih berdiri sampai sekarang.
Informasi yang diberikan Bayu itu sungguh mencengangkan, bahkan kalau salah bertindak dalam menangani informasi ini, maka akan terjadi banyak masalah.
Kerajaan yang berdiri dengan lokasi yang tepat diapit oleh dua kota besar Nusa, Sentral dan Kembang. Kalau diplomasi tidak berjalan lancar, perang besar yang akan melebihi Laut Selatan - Akademi akan terjadi.
Dan saat ini, Bayu malah menyarankan Nusa untuk melakukan diplomasi dengan Kerajaan Parahyangan, agar dapat meminta bantuan untuk melawan Endra. Gunawan tidak habis pikir. Karena bila negosiasi nanti batal, bukannya Nusa menambah kawan, malah mereka akan menambah lawan, yang kemungkinan besar kekuatannya melebihi pasukan kudeta.
Dan sialnya, bukan itu saja yang dikatakan Bayu. Setelah dia menyarankan tentang Kerajaan Parahyangan, kini Bayu membeberkan rencananya sendiri. Rencana yang berhasil membuat Gunawan terdiam seperti patung. Berharap kalau yang ia dengar dari mulut Bayu itu hanyalah omong kosong belaka. Namun, setelah melihat kembali wajah dingin pemuda itu, Gunawam hanya bisa menelan harapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
ActieKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
