98

88 16 1
                                        

Pada kamar pasien yang dihuni Vanessa.    

Diva cantik itu tidak perlu menunggu lama sebelum pintu kamarnya bergeser terbuka. Mungkin hanya sekitar satu setengah jam. Vanessa melihat sosok yang masuk ke kamarnya, dua orang lelaki dan seorang wanita. Ia mengenali wanita yang masuk sambil mendorong kursi terbang, dia adalah dokter Aarifa, orang yag selama ini merawatnya setelah ia berhasil diselamatkan.    

Ke dua orang lelaki lain, Vanessa tidak mengenalinya. Satu orang masih tampak sangat muda, mungkin masih belasan tahun, berdiri di belakang Aarifa sembari menjinjing koper kotak perak. Satu lelaki lainnya duduk di kursi terbang, masih terlihat muda pula, ia rasa berada di usia dua puluhan awal. Lelaki itu terlihat pucat dengan mata sayu, dengan raut wajah yang tidak memperlihatkan ekspresi apa pun. Vanessa seketika menyadari kalau lelaki inilah Guildmaster Bayu.    

'Saya tidak mengira kalau dia begitu muda,' pikir Vanessa ketika melihat sosok Bayu.    

Margareth di samping Vanessa, yang melihat juga Bayu masuk, langsung menatap kosong pada sosok lelaki itu yang kini duduk di kursi terbang.    

'Kenapa harus memakai kursi terbang?'    

Margareth merasakan kepalanya pusing melihat tingkah Bayu yang selalu berada di luar nalarnya, ia berpaling ke Aarifa, yang kemudian memberikan isyarat telunjuk di depan bibir sambil tersenyum kepadanya. Margareth sudah tidak mau berpikir lagi tentang ini, memilih diam seperti yang diisyaratkan Aarifa.    

Kembali ke beberapa jam yang lalu…    

Satu jam setengah adalah waktu yang diperlukan Bayu untuk bertemu dengan Vanessa. Kenapa begitu lama? Well, itu karena Bayu mencari kursi terbangnya yang ternyata sudah disimpan oleh Yudha di ruang penyimpanan pada ruangan bawah tanah.    

Orang-orang di sampingnya tentu bertanya-tanya mengapa Bayu masih membutuhkan kursi terbang itu.    

"Karena ini menyenangkan, image Bayu Rivertale sudah tergambar di Federasi Sentral sebagai guildmaster yang duduk di kursi terbang. Bagaimana bisa aku membuangnya begitu saja? Sayang, kan?"    

"Gwahahahaha!" Anggi tertawa lepas mendengar ini.    

"Jadi Guildmaster akan tetap memakai ini, bahkan di markas sekali pun?" Tanya Aarifa    

"Mmmm…. yup! Gawat jadinya kalau tiba-tiba ada tamu, kan?"    

"… Guildmaster—apa anda baik-baik saja?" Tanya Yudha agak cemas.    

"Huh? Apa maksudmu dengan itu? Tentu aku baik-baik saja."    

"…"    

Anggi terus tertawa, Aarifa tidak mau berpikir lebih lagi dan hanya menerima saja, Yudha—dia tidak bisa memproses pemikiran Bayu di otaknya, yang kini membuatnya bengong seperti seorang idiot.    

Bayu langsung saja duduk dengan nyaman di kursi terbang kesayangannya. Bersandar santai sambil mengeluarkan napas panjang. Ia lalu berpaling ke Aarifa dan Yudha, menyipitkan matanya merasa ada hal penting yang harus ia lakukan kepada ke dua orang ini.    

"Ah~ kalian berdua belum terdaftar dalam guild."    

Seketika keadaan hening, semua melihat Bayu dengan tatapan kosong.    

"Ehem! Yud, kalau tidak salah ada koper perak dari Federasi pada barang-barang kemarin. Tolong bawa kemari koper itu."    

"Baik, Guildmaster."    

Tidak berselang lama Yudha pergi mencari, ia kembali dengan koper yang dimaksud Bayu. Yudha membuka koper itu, menemukan sebuah benda berbentuk kotak dengan lubang untuk menyelipkan kartu. Di samping benda kotak tersebut juga, terdapat tumpukan kartu bening.    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang