Sore hari di markas Mata Libra, Kota Kembang.
Setelah mendapatkan misi darurat yang diberikan Bayu, reaksi ke tiga orang yang mengenal identitas Panji langsung melihat Bayu dengan perasaan menggelikan.
"Panji~ selesaikan masalah yang kamu buat…" ujar Aarifa sembari meminum bir di sofa.
"Hahaha! Jadi Bos, apa yang kau inginkan? Bunuh atau tangkap?" Anggi bertanya setelah tertawa mendengar Aarifa.
"Bebas, aku tidak terlalu peduli."
"Apa kata Panji?"
"… dia tidak mau memikirkannya sama sekali. Dia ingin libur."
"Huahahaha!" Anggi tertawa begitu puas, sebelum melihat kembali misi. Ia berpikir untuk memulai misi secepatnya. Tapi, dari deskripsi, posisi lokasi tepat ke dua orang pembunuh itu tidak diketahui. Itu berarti bosnya tidak mempunyai buku ke dua pembunuh.
'Sepertinya aku harus mulai dengan melihat markas Hayam Mahkota.'
Di sisi lain ruangan, Vanessa yang baru saja bergabung, mendapatkan misi darurat di ponselnya. Melihat itu, tidak seperti orang lain yang tahu akan identitas Panji, ia malah lupa kalau dalam guild Mata Libra bahkan ada sosok yang bernama Panji the Killer. Tapi itu tidaklah penting baginya, karena saat ini dia sangat senang bisa melihat misi yang mungkin ia bisa kerjakan.
"Oooo… bolehkah saya ambil misi ini?" Vanessa bertanya pada Sukma di depannya.
Sukma tidak tahu apa yang harus ia katakan, karena Vanessa belum sampai sepuluh menit terdaftar dalam keanggotaan guild sebagai avonturir. Belum lagi, walau berkelas emas, Sukma tidak yakin kalau Vanessa mampu melakukan misi tingkat A.
Hal ini juga dirasakan oleh Margareth yang dapat membaca pikiran sahabatnya itu, ia berteriak dari meja konter barnya, "Jangan lakukan Vanessa! Kamu masih kurang berpengalaman untuk menjalani misi ini!"
"Eeeee…" Vanessa mendengar teriakan Margareth semerta kecewa. Ia berjalan ke konter bar, mendekati sahabatnya.
"Jangan kecewa begitu, lagipula ada yang harus kita bicarakan malam nanti."
"Bicarakan? Tentang apa?"
"Masa depan kita."
Vanessa melihat raut Margareth, berpikir kalau pembicaraan nanti pastilah sesuatu yang serius. Vanessa lalu tersenyum manis, menyetujuinya, ia kemudian memberikan anting libra miliknya kepada Maragreth, meminta tolong agar dipasangkan di telinga kirinya.
Anggi memandangi Vanessa sebentar lalu berpaling ke Aarifa yang kini terbaring di sofa.
"Kau juga tidak akan ikut, Dokter?"
"Hmm~ nggak… aku mau diam di markas saja."
"Kau tidak ada bedanya sama Panji."
"Hehehe~"
Anggi mengeluarkan napas panjang, "Haaa… pada akhirnya misi darurat ini hanya aku yang bisa mengerjakannya. Bos, kita benar-benar perlu avonturir lainnya."
"Yeah, aku tahu."
Anggi menghabiskan rokoknya sebelum berlalu ke kamarnya, mempersiapkan kebutuhan untuk pergi menjalankan misi. Sebelum dia pergi, ia berpesan kepada Margareth untuk memberitahunya tanggal pasti mereka akan pergi ke Hexagone, kalau-kalau rencananya disetujui Vanessa. Margareth mengangguk mengerti.
Bayu setelah melihat Anggi pergi, ia dan yang lainnya langsung makan malam bersama sebelum semua orang bubar. Para staf telah beres bekerja sejak senja tadi sekitar jam lima, namun Sukma tetap ingin menunggui meja resepsionis hingga jam delapan malam. Dikarenakan tidak adanya pegawai malam, dan takut ada klien yang akan datang malam-malam.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
AzioneKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
