Keesokan harinya, markas Mata Libra, Kembang.
Keadaan markas telah kembali normal. Yudha dan Lamria telah memesan furnitur pengganti, setelah banyak kehancuran akibat penyerangan Jasper. Begitu pula dengan berbagai minuman alkohol yang tersisa sedikit. Hal ini membuat Aarifa beraut masam setelah ia berhasil merawat semua korban terluka. Tidak ada yang mati, semua berhasil diselamatkan. Hanya dengan kualitas peralatan di klinik, tidak cukup untuk menghilangkan bekas luka pada tubuh beberapa kali.
Misalnya, Sasha dengan bekas luka besar di kedalaman, dan Vin yang hampir dua pertiga badannya telah memenuhi luka bakar. Oleh karena itu, Aarifa merujuk mereka berdua untuk melihat perawatan di rumah sakit utama kota.
Lamria telah berhasil mendapatkan tiga perawat yang bersedia bergabung ke guild. Dua dari tiga telah tiba di markas pagi ini dan langsung bekerja. Sedangkan satunya lagi masih dalam perjalanan karena jarak yang cukup jauh.
Lamria sendiri setelah ia mengunggah videonya ke media sosial tentang pernyataan bahwa Mata Libra akan menyerang Hakam. Kini dia sangat sibuk di kantornya untuk menerima berbagai panggilan telepon dari perusahaan-perusahaan yang bekerja sama, Pemerintah Nusa, Federasi Nusa, berbagai media dan tentu saja beberapa masyarakat.
Bahkan saat ini bisa terlihat di depan gerbang markas terdapat kumpulan masyarakan Kembang yang melayangkan protes terhadap mereka, dan menyuruh Mata Libra untuk menarik pernyataan yang ditayangkan kemarin.
Mata Libra tidak menggubris mereka yang ada di luar sana. Namun, massa mulai menangkap aktivitas guild, seperti menahan pihak mebel untuk mengirimkan furnitur yang telah dipesan, menahan klien yang ingin datang hingga memblokir gerbang agar tidak ada avonturir yang keluar dari markas.
Berbagai media pun mulai bermunculan, memakirkan mobil mereka di depan gerbang, memulai liputan dadakan, dengan tajuk protes massa terhadap Mata Libra.
Bayu tidak memedulikan para protes itu, tapi dia mulai kesal dengan suara gaduh mereka yang mulai mempengaruhi mental para pegawainya. Lamria menghubungi kepolisian untuk membubarkan massa, hanya saja Kepolisian Kembang tidak mau ikut campur dalam urusan Mata Libra.
Lamria tertawa, menceritakan tanggapan polisi pada Bayu. Pada akhirnya, Bayu menyuruh Anggi keluar.
"Hei! Ada yang keluar!"
"Wooooo! Anjing! Nyari mati jangan bawa-bawa orang!"
Segala jenis umpatan terlayangkan pada diri Anggi yang berjalan tenang ke gerbang sambil merokok. Anggi meniupkan rokoknya lalu memutar lebar.
Luar biasa!
Tekanan aura segera Anggi keluarkan, membuat seluruh orang di sana seketika terjatuh tertelungkup di tanah. Tekanan aura yang dikeluarkan Anggi bagai gravitasi yang menekan seluruh protes dan pihak media yang ada di sana.
Napas berat, keringat deras, dengan tubuh yang bagai terhimpit tembok berton-ton.
"Aaaagghhh!"
Tangis, ringkih, erangan, semerta menggantikan suara protes barusan. Anggi hanya melihat mereka dengan tenang, melihat wajah pucat mereka yang mengira kalau kematian akan datang.
Ctek!
Anggi menjetikkan jarinya, memasukkan kembali auranya. Keadaan hening seketika, para massa yang tadi ribut kini terdiam dalam telungkup, menengadah melihat Anggi dengan tatapan horor.
Seorang reporter berusaha berdiri dengan kaki gemetar, melayangkan kekesalannya walau rasa takut menghampiri.
"Ka-ka-kamu! Berani memakai kekuatan terhadap orang biasa! Apa Mata Libra tidak malu?!" Teriak Reporter itu seraya mengetahui kalau sedari tadi kamera mereka telah merekam segala perbuatan Anggi. Dalam hatinya ia tersenyum, karena mungkin akan mendapatkan berita viral akibat tindakan keji Mata Libra.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
ActionKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
