Pada langit Samudra Pasifik, pertarungan Anggi dan Cho berhenti sejak kubah merah dari Panji mengurung mereka. Cho menyuruh para pasukan Mu untuk bersiaga karena ia tidak tahu sifat dari kekuatan kubah merah yang menyelubungi seluruh wilayah pertarungan.
Anggi melihat lawannya diam, ia pun seraya berhenti lalu memantik rokoknya. Anggi termasuk orang yang sangat suka pertarungan, namun ia tidak semaniak yang orang lain bahkan bawahannya dulu di PIN kira. Anggi selalu berusaha melakukan segala halnya dengan kepala dingin. Walau ia tahu kalau Cho itu kuat dan akan menarik bertarung dengannya, namun tujuan awal mereka kemari bukanlah untuk melawan pasukan Mu.
Bila Cho tidak mau melawan, Anggi pun akan mengikutinya. Namun, jika Cho dan pasukan Mu membuat pergerakan maka ia akan menghalanginya. Simpel. Anggi menghisap rokoknya lalu mengeluarkannya dengan nikmat.
'Fuuuu~ lagipula tidak asik bertarung di flyingboard.'
Anggi menoleh ke Panji di bawah sana yang sedang bertarung dengan Hakam. Dentuman benturan serangan ke duanya bahkan sampai ke tempatnya yang jauh di udara. Dari atas, Anggi dapat melihat gelombang benturan yang mengakibatkan riak besar yang berpusat di kapal induk yang kini hancur lebur. Gelombang riak besar itu menyapu sekelilingnya, melahap sekoci darurat Union yang berisikan awak kapal. Semerta tenang, puing-puing sekoci mengapung di permukaan. Entah bagaimana nasib manusia yang ikut terlahap tadi.
'Guna kubah ini masih belum diketahui, tapi di sana tampaknya Bos bukan saja memakai serangan ajian milikku, tapi ia juga memakai serangan yang sama dengan Hakam. Apa itu berarti, Bos, bisa menyalin serangan orang lain?'
"Oi!"
Anggi menoleh ke lelaki berambut perak yang memanggilnya.
"Ada apa? Masih mau lanjut?"
Cho mengerutkan wajahnya, "Apa lelaki bertopeng di bawah sana itu kawanmu?"
"Ya, memangnya kenapa?"
"Apa gunanya kubah merah ini?"
"… kau pikir aku akan memberitahumu?" Timbal Anggi, padahal ia pun tidak tahu apa guna dari kubah luas yang menyelubungi mereka.
Mereka berdua terdiam saling tatap saling memerhatikan apa yang akan dilakukan musuhnya.
"Di mana Mirai?"
"Mirai? Aaah~ maksudmu perempuan yang bersamamu tadi," Anggi mengangkat bahunya, "Entahlah, besar kemungkinan ia dijadikan mainan oleh Mary."
"Grrrrr!"
Cho seketika menggeram, tubuhnya membesar dua kali lipat dengan bulu perak seraya tumbuh memenuhi seluruh tubuhnya.
"Kembalikan dia, atau kau akan merasakan akibatnya!"
"Ooh~ aku menanti akibat yang kau katakan itu kucing putih."
Whooosh
Cho menghilang dari pandang Anggi, ia tiba-tiba berada di samping perempuan berkacamata itu melayangkan serangan cakar yang bersinar perak dengan bentuk bagai sabit dewa kematian. Kecepatan Cho saat ini memang membuatnya seperti menghilang, tapi di mata Anggi kecepatan harimau perak itu masih berada di bawah Dimitri.
Cho yang sudah merasakan serangannya akan mengenai Anggi, tidak menyangka malah melihat perempuan itu menoleh ke arahnya seketika, menghindari lima serangannya sembari mendekat padanya lalu memukulnya keras mengarah ke lautan.
"[Pulo Kali]."
BUAAKKK
Cho terhempas, tubuhnya meluncur tajam ke dalam laut. Cho tidak mengira kalau serangannya dapat diantisipasi dengan mudah oleh musuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
AksiKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
