Siang hari di lapangan latihan tepat di belakang markas Mata Libra.
Geri yang datang berkunjung sebagai pengawas tidak memercayai matanya yang kini melihat lapisan pelindung yang menyelimuti lapangan telah hancur berkeping-keping. Dia menelan ludahnya, mengingat kembali kejadian yang baru saja terjadi. Kejadian yang membuatnya berkeringat dingin karena membayangkan betapa mengerikannya kekuatan guild ini.
Beberapa menit yang lalu…
Vanessa bersiap menyerang Anggi dengan segala kemampuannya saat ini. Ia melepaskan aura dalam dirinya, aura yang sangat berlimpah bahkan membuat Geri yang menyaksikan dari jauh seketika merinding. Matanya lebar terbuka karena merasa aura ini bukanlah sekelas emas, namun telah melebihi dari itu.
'Kualitas dan kuantitas aura ini tidak ada bedanya dengan yang kulihat pada Nathan baru-baru ini. Tidak—mungkin sudah melebihinya, kalau begitu bukankah Vanessa ini sudah mencapai tingkatan platinum?! Ini…'
Geri sungguh tidak memercayai apa yang dilihat oleh mata dan dirasakan oleh tubuhnya saat ini. Ia lalu mengeluarkan alat pengukur kekuatan yang diciptakan oleh Hamish semasa ia hidup. Alat ini tidak terlalu akurat tapi cukup untuk membantu Federasi mengukur kemampuan dasar seorang avonturir.
Geri pindai sosok Vanessa di lapangan sana dengan alatnya, dan benar saja, pada layar dia mendapati kalau kualitas dan kuantitas aura Vanessa telah mencapai platinum. Geri menelan ludahnya, jantungnya berdegup kencang menantikan apa yang akan dilakukan Vanessa. Dia tahu kalau kemampuan bertarung perempuan cantik itu masih sangat rendah, amatir bahkan, oleh karenanya masih tidak mungkin kalau Vanessa bakal jadi kelas platinum.
Saat ini, estimasi Geri adalah Vanessa berada di kelas perak, tapi kalau serangan yang nanti dilakukan mampu melukai Anggi, bukan tidak mungkin perempuan itu bisa langsung menjadi kelas emas.
Bayu pun di samping Geri berpikiran sama, bedanya, Bayu tidak terlalu kaget akan kualitas aura Vanessa. Karena dia sudah memperkirakan hal ini semenjak ia menyuruh diva itu untuk mengontrak [Nogo Siluman].
'Sekarang, apa dia akan memakai artifaknya atau tidak? Ini akan menarik sekali.'
Anggi yang berada tepat di depan Vanessa, tersenyum dengan lebar, tidak mengira kalau aura perempuan di depannya akan sangat berlimpah. Sekarang Anggi mulai berekspektasi tinggi pada serangan yang akan dilancarkan Vanessa.
"Gak begitu buruk, kuharap seranganmu tidak mengecewakanku," ucap Anggi seketika melepaskan aura yang mulai menekan tekanan aura Vanessa di sekelilingnya.
Vanessa semakin bersemangat melihat ini, ia tahu kalau Anggi di depannya itu sangatlah kuat. Oleh karenanya, ia akan mengeluarkan serangan terkuatnya. Hanya saja masalahnya, Vanessa belum bisa mengendalikan keris [Nogo Siluman], sekarang dia bingung harus melakukan serangan seperti apa.
Namun mendadak suara seorang lelaki tua yang terdengar berwibawa tiba-tiba berbisik di pikirannya.
'!!!'
Vanessa terkaget mendengar suara yang langsung ia ingat sebagai suara roh naga yang pernah berkomat-kamit mengucapkan mantra yang menyakiti pikirannya.
'Kamu masih hidup?!'
'Apa?!'
'Kalau benar perkataanmu, saya akan menurutinya, Kakek Naga!'
Vanessa dengan seksama mendengarkan perkataan roh naga yang ada di dalam dirinya. Bila dilihat dari sudut pandang penonton, Vanessa tampak sedang kebingungan dengan raut wajah yang berubah-ubah. Perempuan itu terus mengeluarkan auranya tapi tidak melakukan apa pun, kalau ini terjadi pada pertarungan yang sebenarnya. Ia mungkin sudah kehilangan nyawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
AçãoKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
