Keesokan harinya, pagi hari di markas Mata Libra, Kota Kembang.
Di lapangan latihan yang sudah diperbaiki, walaupun lapisan pelindung yang akhirnya tetap memakai lapisan kelas emas, karena kurangnya biayanya. Berdiri di sana, seorang perempuan yang diselimuti pedang kayu ke robot otomatis yang melayang menyerang si pemakai pedang. Perempuan itu adalah Citra, yang kemarin baru saja bergabung dengan Mata Libra dan telah menyelesaikan seluruh proses kepindahannya ke tempat tinggalnya.
Kini setelah bangun tadi subuh, ia langsung berlari naik turun bukit, dan sekarang berlatih pedang di lapangan latihan guild dengan robot otomatis, yang merupakan fasilitas yang sekalian Bayu beli ketika memperbaiki lapangan.
"Haiiii!"
Citra melesatkan tebasan demi tebasan ke robot yang mampu menahan serangan dari kelas emas sekali pun. Melatih dirinya hingga mentari mulai hangat, barulah Citra berhenti, kembali ke ruangan untuk mandi, sebelum pergi ke lobi mencari sarapan pagi.
Di lobi sudah cukup banyak orang berkumpul, teman-temannya seperti Sasha dan Roxanne sudah menyelesaikan sarapan, mulai bersiap untuk mengerjakan misi pertama mereka. Lalu Rakha yang duduk seorang diri melihati ponselnya di salah satu meja di pojok ruangan, Darius di meja resepsionis sedang mengetik dan Mutia di konter bar. Citra menghampiri ke dua teamnya.
"Yo, Citra! Beres latihan paginya?"
Citra mengangguk, “Kalian sudah mau berangkat?”
"Ya, Saya akan pergi ke tembok untuk ikut membantu kewaspadaan di sana. Sedangkan, Rox akan pergi ke SMA di selatan Kembang untuk mendemonstrasikan kekuatan aura pada siswa di sana."
Pada awalnya misi yang dibuat oleh Bayu hampir kebanyakan kebanyakan berburu buronan. Tapi, Darius berpikir kalau misi itu terlalu dini untuk anggota yang baru saja lulus dari kuliah. Oleh karena itu, sebelum Guild Fair diadakan, Darius berkeliling Kembang mencari kerja sama dengan berbagai instansi untuk memakai jasa mereka.
Pada akhirnya, meski tidak terlalu banyak, namun misi bagi kelas perunggu banyak Darius dapatkan. Sebelum para klien datang ke guildnya, hal ini akan terus dilakukan oleh Darius. Dia hanya berharap kalau Guildmaster Bayu mau lebih banyak merekrut staf baru, karena pekerjaannya semakin menumpuk. Bayu mengerti itu dan sudah menyebarkan lowongan, hanya saja tidak ada peminat yang mau bekerja dengan guildnya.
“Semoga beruntung kalau begitu, aku juga akan berangkat setelah sarapan,” ujar Citra, lalu berjalan ke konter bar dengan Mutia menjaga di sana.
Pada malam hari kemarin, setelah Bayu pulang, Citra dan teman-temannya dikenalkan dengan para staf yang ada di guild. Dan kini ia tahu kalau guild begitu kekurangan staf sehingga para pegawai ini melakukan dua pekerjaan sekaligus. Citra juga diperkenalkan dengan avonturir sekaligus dokter yang bernama Aarifa.
Wanita sensual yang tampak santai. Aarifa berkata walau dia avonturir, tapi pekerjaan utamanya adalah dokter, jadi dia akan jarang melakukan misi. Wanita itu juga berkata kalau mereka terluka, bisa langsung datang memanggilnya.
Citra tidak tahu harus berkata apa, karena dalam guild Mata Libra benar-benar ada seorang dokter. Dokter itu juga bilang kalau dia seorang avonturir, tapi ia tidak memberitahukan kelasnya yang membuat Citra penasaran.
"Selamat pagi Mutia, ada sarapan apa saja?"
"Pagi Citra, hari ini ada nasi kuning dan kupat tahu, apa yang kamu mau?"
"Nasi kuning kalau begitu."
Mutia pergi ke dapur mengambil pesanan Citra sebelum kembali dengan cepat, meletakkan piring di depan Citra.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
ActionKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
