Beyond the Boundary 20

532 76 12
                                        

​Sekitar pukul tujuh malam, setelah empat jam perjalanan yang tenang, mobil mereka akhirnya memasuki area terpencil di pantai Haeundae, Busan. Jalanan berliku membawa mereka ke sebuah kompleks vila privat yang tersembunyi, jauh dari keramaian turis.
​Begitu mobil berhenti, Baek Hyunwoo segera mematikan mesin. Ia buru-buru keluar, berjalan memutar untuk membuka pintu Hong Haein.

​"Kita sampai, sayang," kata Hyunwoo.

​Haein keluar dari mobil, ia meregangkan tubuhnya yang terasa kaku karena duduk lama. Hal pertama yang menyambutnya adalah suara deburan ombak yang lembut dan aroma kuat udara asin khas laut. Dia menghirupnya dalam-dalam.

​"Ah, ini yang kubutuhkan," bisik Haein, senyum lebar terukir di wajahnya.

​Hyunwoo memegang pinggang Haein, menuntunnya melewati pintu masuk vila kecil yang elegan. Meskipun ini adalah tempat peristirahatan, tata letaknya masih mewah, tetapi lebih fokus pada kenyamanan dan privasi daripada kemegahan Mansion.

​"Aku sudah memastikan semua staf di sini menandatangani perjanjian kerahasiaan. Tidak akan ada yang mengganggu kita," jelas Hyunwoo, sambil membuka pintu utama.

​Mereka masuk ke ruang tamu yang didominasi jendela kaca besar. Di luar, pemandangan laut yang gelap, dihiasi cahaya rembulan, terhampar luas.

​Haein berjalan lurus menuju jendela, meletakkan tangannya di kaca dingin. "Ini indah, Hyunwoo. Terima kasih," katanya.

​"Tentu," jawab Hyunwoo, yang sudah sibuk memeriksa suhu ruangan dan memastikan tas mereka sudah diletakkan di kamar tidur utama. "Tapi kau harus segera beristirahat. Dokter Park melarangmu lelah akibat perjalanan."

​"Aku tidak lelah, aku berenergi!" protes Haein, tetapi Hyunwoo sudah memegang tangannya.

​"Tidak ada energi sampai setelah tidur sebentar," tegas Hyunwoo, nadanya protektif. "Aku sudah menyiapkan bathrobe terlembut, dan ada teh krisan hangat di meja samping. Kau harus berbaring. Biarkan aku yang mengurus sisanya."

​Haein, yang mengetahui bahwa perdebatan hanya akan membuang energi, mengalah dengan senang hati. Hyunwoo membantunya berjalan ke kamar tidur yang luas, yang juga menghadap ke laut.

​Haein berbaring di ranjang, di bawah selimut katun yang sejuk. Hyunwoo duduk di sampingnya, mengusap dahinya.

​"Tidurlah sebentar, Haein. Aku akan tetap di sini, mengerjakan sedikit email yang tertunda, tapi aku tidak akan kemana-mana," janji Hyunwoo. "Setelah kau bangun, kita akan makan malam, dan kau bisa berjalan-jalan di pantai privat kita."

​Haein menutup matanya, merasakan kedamaian yang lama hilang. Jauh dari Seoul dan Dewan Direksi, di tempat yang sunyi ini, ia hanya seorang wanita yang dicintai, menantikan anaknya.

​"Baiklah," bisik Haein, sudah setengah tertidur.

​Sesaat kemudian, Haein sudah terlelap, wajahnya tenang. Hyunwoo hanya duduk di kursi berlengan yang terletak di sudut kamar, tablet di pangkuannya. Cahaya lembut dari lampu samping tempat tidur menjadi satu-satunya penerangan, membiarkannya bekerja tanpa mengganggu tidur Hong Haein. Di luar jendela, suara konstan deburan ombak di pantai Haeundae memberikan latar belakang yang menenangkan.

​Di layar tabletnya, Hyunwoo sedang meninjau email. Bukan email mendesak Queens—karena itu adalah wilayah Haein—tetapi laporan rutin dari KS Group. Matanya bergerak cepat memindai angka-angka dan strategi investasi, tetapi pikirannya hanya terbagi separuh.

​Setiap beberapa menit, matanya akan terangkat dari layar dan tertuju pada Haein yang terlelap. Istrinya tidur meringkuk di bawah selimut, wajahnya tampak damai, tanpa sedikit pun kerutan yang biasanya muncul saat ia sedang berhadapan dengan Dewan Direksi. Di sinilah letak kedamaian yang sesungguhnya. Jauh dari Seoul, Haein bisa menjadi dirinya yang paling murni dan paling rentan.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang