Bulan-bulan pertama pernikahan 'paksa' adalah neraka yang dingin, sunyi, dan penuh ketegangan yang mencekik bagi Baek Hyunwoo. Apartemen mewah yang seharusnya menjadi tempat berlindung, kini terasa seperti medan perang beku yang harus ia lalui setiap hari. Keberadaan Hong Haein yang konstan, meskipun ia telah dengan tegas membagi ruang menjadi 'wilayah kekuasaan' yang ketat-kamar dan ruang kerjanya menjadi benteng tak tertembus-terus-menerus terasa seperti invasi pribadi yang mengganggu ketenangannya yang berharga.
Setiap pagi, ia terbangun bukan oleh jam weker, tetapi oleh kesadaran yang menusuk bahwa ada orang lain di rumahnya, di balik dinding yang tipis. Suara langkah kaki Haein di lorong, dentingan cangkir kopi dari dapur bersama, atau bahkan hanya bayangan siluetnya di sudut pandang Hyunwoo, sudah cukup membuat punggungnya menegang. Setiap malam, ritualnya adalah memastikan pintu kamarnya terkunci rapat, seolah-olah itu adalah garis pertahanan terakhirnya dari 'gangguan' yang bernama Hong Haein. Dalam keheningan kamarnya, ia bisa menarik napas lega, menikmati kesendirian yang sangat ia dambakan.
Hong Haein di sisi lain, memulai pernikahan ini dengan semangat yang salah. Mungkin bukan cinta, tapi tekad yang membara untuk membuat pernikahan 'paksa' ini berhasil, atau setidaknya, membuat Baek Hyunwoo melihatnya, mengakuinya, bahkan mungkin.. menyukainya. Ia adalah wanita yang berani, penuh energi, dan tidak mudah menyerah. Catatan kecil yang ceria ditinggalkan di meja dapur, ajakan sarapan yang diucapkan dengan nada riang setiap pagi, atau kemunculan tiba-tiba di ambang pintu kamar Hyunwoo dengan alasan remeh seperti "Apa kau melihat kunci mobilku?" atau "Kurasa ada laba-laba di ruang tamu," adalah bentuk-bentuk 'serangan' halus yang ia lancarkan.
Namun, Baek Hyunwoo adalah benteng yang terbuat dari es dan baja. Penolakannya bukan hanya dingin, tetapi juga sistematis dan tanpa celah. Tatapan matanya yang datar, jawaban-jawaban singkat yang mematikan harapan, dan aura ketidakpedulian yang sengaja ia pancarkan, adalah senjata yang lebih efektif daripada amarah.
"Selamat pagi, Hyunwoo-ssi! Aku membuat sup rumput laut. Mau sarapan bersama?" sapa Haein suatu pagi, berdiri di pintu dapur dengan senyum ceria.
Hyunwoo bahkan tidak mendongak dari korannya. "Tidak. Sudah makan." Nada suaranya datar.
"Oh.. Baiklah. Nanti malam mau makan di luar? Ada restoran Italia baru yang buka-"
"Tidak."
"Aku bisa pesan antar jika kau lelah?"
"Tidak perlu. Aku bisa urus sendiri."
Atau di malam hari, Haein akan mencoba mendekati ruang kerjanya. "Masih sibuk, Hyunwoo-ssi? Jangan terlalu memaksakan diri. Kau butuh istirahat."
Hyunwoo akan berhenti mengetik sebentar, mendongak, tatapannya seperti melihat serangga. "Apa maumu, Hong Haein-ssi? Aku sedang bekerja. Jangan ganggu."
Kata-kata itu, diucapkan dengan tenang namun menusuk, berulang kali. Penolakan yang tak pernah goyah. Tatapan dingin yang seolah menelanjangi dan menghakimi setiap upayanya. Perlahan, sangat perlahan, semangat Hong Haein yang paling membara sekalipun mulai terkikis. Ia mulai merasa lelah, lelah sampai ke tulang sumsum. Upayanya selalu mental mentah-mentah, seperti bola tenis yang dilempar ke dinding beton tebal. Bekas luka tak terlihat menumpuk di hatinya. Tekadnya tetap ada, tetapi energinya untuk terus menerus berperang demi perhatian Baek Hyunwoo mulai menipis.
Haein tidak lagi meninggalkan catatan ceria yang diabaikan. Meja dapur Hyunwoo kosong dari pesan berwarna-warni. Ajakan sarapan atau makan malam berhenti dilancarkan. Ia tidak lagi tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar Hyunwoo dengan alasan remeh. Dia masih tinggal di sana, masih ada di ruang yang sama, tapi kehadirannya tidak lagi berbentuk serangan frontal atau upaya genit. Ia lebih sering terlihat di ruang tamu, sibuk dengan laptopnya, berbicara di telepon - tentang pekerjaan, teman-teman, hal-hal yang jelas tidak ada hubungannya dengan Hyunwoo - atau hanya duduk diam di sofa, tenggelam dalam buku atau majalah. Ada keheningan baru dalam dirinya, keheningan yang datang dari kekalahan kecil yang terus menerus ia alami.
