Baek Hyunwoo terbangun saat fajar Tokyo. Ia berbaring sejenak, merasakan lengannya yang pegal karena memijat kaki Haein semalam. Ia tersenyum tipis mengingat sentuhan spontan Haein dan kebohongan canggung tentang rambutnya. Momen-momen intim yang disamarkan sebagai ketegasan bisnis atau kekesalan pribadi itu kini menjadi favoritnya.
Ia perlahan bangkit dan menyelinap keluar dari sisi ranjangnya, memastikan tidak ada suara. Setelah menyesap air, ia kembali menatap Haein. Haein masih tidur nyenyak di sisi ranjangnya, wajahnya polos tanpa riasan dan tanpa topeng Ratu Es. Rambutnya tersebar di bantal sutra.
Hyunwoo berdiri di tepi ranjang. Ia menatap Haein, dan tiba-tiba, ia merasakan dorongan yang sangat kuat, dorongan yang murni, bukan gairah. Ia ingin mencium wanita itu. Bukan ciuman perjanjian kontrak, tapi ciuman terima kasih, ciuman perlindungan, ciuman janji ayah dan suami.
Ia perlahan mencondongkan tubuh ke depan, jantungnya berdegup kencang, suaranya terasa memekakkan telinga di keheningan pagi. Wajahnya semakin dekat dengan wajah Haein. Ia bisa merasakan kehangatan napas Haein yang lembut. Ia memejamkan mata, siap untuk menempelkan bibirnya ke kening Haein.
Tepat saat bibirnya hampir menyentuh dahi Haein, mata Haein terbuka.
Mata Haein, biasanya tajam dan waspada, kini tampak kabur karena baru bangun tidur, tetapi langsung fokus pada wajah Hyunwoo yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.
Hyunwoo membeku. Ia menarik dirinya kembali secepat kilat, tegak seperti tiang, wajahnya langsung memerah padam. Ia salah tingkah, merasa seperti anak kecil yang tertangkap basah mencuri permen.
"A-aku.." Hyunwoo tergagap, suaranya serak, matanya mencari-cari pelarian. Ia harus mencari alasan yang masuk akal, apa pun, kembali ke bahasa formal yang aman. "Aku hanya.. aku hanya ingin memastikan kau tidak demam, Haein. Ya, memeriksa suhu tubuhmu. Sebagai.. sebagai pengawal medismu. Itu ada di scope pekerjaanku."
Ia mengulurkan tangannya dengan canggung, berpura-pura menyentuh dahi Haein, tetapi tangannya hanya melayang di udara, gemetar sedikit.
Haein tidak menjawab segera. Ia hanya menatap Hyunwoo, matanya yang hangat berkedip sekali. Kemudian, perlahan-lahan, senyum kecil yang tulus dan sangat langka muncul di bibirnya. Senyum itu tidak mengejek, melainkan memahami dan mengampuni.
Haein tahu persis apa yang Hyunwoo coba lakukan.
"Suhu tubuhku normal, Hyunwoo," kata Haein, suaranya serak karena tidur, tetapi nadanya lembut, membiarkan kelembutan itu mengalir. Ia meraih selimutnya dan menutup tubuhnya. "Terima kasih atas 'pemeriksaan medisnya.' Meskipun aku yakin kau bisa menggunakan termometer untuk itu, daripada bibirmu. Dan sekarang, aku lapar."
Hyunwoo hanya bisa mengangguk bodoh. Ia merasa sangat malu, tetapi senyum Haein itu.. senyum itu adalah hadiah terbesar. Itu berarti Haein menerima dorongannya yang canggung itu.
"Tentu," jawab Hyunwoo, segera berbalik dan buru-buru menuju kamar mandi. "Aku akan menyiapkan teh herbal dan sarapan sehatmu. Aku harus mengevaluasi nutrisi harianmu."
###
Hong Haein merasakan kehadiran Baek Hyunwoo di samping ranjang. Ia bukan benar-benar tidur, hanya bersantai setelah bangun. Ia merasakan Hyunwoo mencondongkan tubuh. Kehangatan yang familiar itu. Ia tahu Hyunwoo hendak melakukan sesuatu yang canggung dan tulus, sesuatu yang murni.
Ketika ia membuka mata dan menemukan wajah Hyunwoo begitu dekat, matanya yang panik, dan kegagapannya, Haein harus menahan diri agar tidak tertawa terbahak-bahak. Pria sombong dan angkuh ini, Wakil Presiden Direktur yang bisa mengendalikan seluruh perusahaan, kini tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
