Ignited Touch 19

629 91 50
                                        

Pintu apartemen tertutup di belakang Kim Soohyun, meninggalkan Kim Jiwon sendirian dalam kesunyian. Jiwon menyentuh bibirnya, merasakan sisa kecupan Soohyun. Ia menghela napas panjang, tersenyum.

Setelah Soohyun pergi ke kantor, suasana apartemen terasa berbeda. Bukan lagi hampa, melainkan penuh dengan jejak keberadaan Soohyun, aroma cologne maskulinnya yang samar masih tertinggal di udara, cangkir kopi bekas sarapannya tergeletak di meja, dan kenangan intens semalam masih melekat kuat di benak Jiwon.

Jiwon beranjak dari dapur. Hal pertama yang ingin ia lakukan adalah membereskan kamar tidur. Ia masuk kembali ke kamar, di mana seprai masih sedikit kusut dan bantal-bantal bergeser dari posisinya semula. Dengan senyum tipis, ia merapikan seprai, mengembalikan bantal ke tempatnya, dan melipat selimut yang sedikit teronggok di ujung ranjang. Setiap sentuhan pada seprai seolah membawa kembali kenangan pelukan Soohyun, tawa mereka, dan desahan gairah yang memenuhi ruangan semalam.

Setelah kamar tidur rapi, Jiwon merasa tubuhnya lengket dan membutuhkan kesegaran. Ia membersihkan diri di kamar mandi. Air hangat yang membasuh tubuhnya terasa menenangkan, menghilangkan sisa-sisa kelelahan dari malam yang panjang. Ia membiarkan air mengalir membasahi rambutnya, memijat lembut kulit kepalanya. Aroma sabun mandi favoritnya kini berpadu dengan aroma Soohyun yang samar-samar masih menempel di kulitnya. Jiwon menghabiskan waktu lebih lama di bawah shower, merenungkan semua perubahan drastis dalam hidupnya.

Ketika keluar dari kamar mandi, Jiwon merasa lebih segar dan ringan. Ia mengenakan pakaian yang nyaman—celana longgar dan kaus katun. Rambutnya ia biarkan terurai, sedikit basah. Ia melangkah ke ruang tengah, mengambil salah satu buku dari rak bukunya.

Mencoba menyibukkan diri dengan membaca adalah cara Jiwon untuk mengalihkan pikiran dari rasa gugup sekaligus antusiasme yang membuncah. Ia duduk di sofa favoritnya, membolak-balik halaman buku yang sudah lama ingin ia baca. Namun, fokusnya tidak sepenuhnya pada cerita. Pikirannya terus melayang pada Soohyun, pada pernikahan yang akan datang, dan pada bayi yang tumbuh di dalam dirinya.

Ia melirik jam dinding sesekali. Pukul sepuluh pagi. Dahyun mungkin akan tiba sebentar lagi. Jiwon membayangkan bagaimana pertemuan itu akan berlangsung. Ia belum pernah berinteraksi secara intens dengan perencana pernikahan, dan ini akan menjadi pengalaman baru baginya. Ia merasa sedikit cemas, namun juga ada kegembiraan. Ini semua nyata. Ia benar-benar akan menikah dengan Kim Soohyun.

Rasa lapar mulai terasa lagi. Jiwon beranjak ke dapur, mengambil beberapa buah apel dari keranjang. Ia menggigit apelnya perlahan, memandang keluar jendela. Langit Seoul tampak cerah. Sebuah awal yang baru, pikirnya.

Tak lama kemudian, suara bel terdengar. Jantung Jiwon berdebar. Dahyun sudah datang. Jiwon mengambil napas dalam, merapikan kausnya, dan berjalan menuju pintu dengan senyum yang sudah ia siapkan.

###

Setelah meninggalkan apartemen Kim Jiwon, Kim Soohyun langsung masuk ke dalam mobil mewahnya yang sudah menunggu. Pintu tertutup rapat, memutusnya dari kehangatan pagi yang baru saja ia nikmati bersama Jiwon. Seketika, aura di sekeliling Soohyun berubah. Senyum lembut di bibirnya lenyap, digantikan oleh ekspresi serius dan sorot mata tajam yang biasa ia tunjukkan sebagai CEO Kim Pharmaceutical. Medan perangnya menanti, dan ia siap menghadapinya.

Selama perjalanan menuju kantor, Soohyun tidak membuang waktu. Ia mengeluarkan tabletnya, membaca briefing terbaru dari tim hukum dan keuangan. Otaknya bekerja cepat, menganalisis setiap detail, menyusun strategi. Insiden rapat kemarin sudah cukup membuktikan bahwa Kim Dohon akan melakukan apa saja untuk menjatuhkannya. Soohyun tidak akan membiarkan itu terjadi lagi. Ia harus menegaskan otoritasnya.

Sesampainya di kantor, Soohyun langsung melangkah ke ruangannya, disusul oleh Sekretaris Choi yang sigap. "Sekretaris Choi," Soohyun berkata, suaranya tegas dan tanpa basa-basi, "beritahu semua dewan direksi untuk melakukan rapat darurat dalam satu jam ke depan. Terutama Tuan Kim Dohon. Pastikan mereka semua hadir."

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang