Where the Heart Leads (After Married) 1/4

669 81 5
                                        

Apartemen yang kini mereka sebut rumah terasa hangat dan penuh cinta. Sentuhan Haein terlihat dari vas bunga segar di meja ruang tamu dan rak buku yang tertata rapi, sementara Hyunwoo memastikan pencahayaan di setiap sudut terasa nyaman dan pas. Foto pernikahan mereka, dengan senyum bahagia yang merekah di wajah keduanya, terpajang di dinding, menjadi pengingat akan janji suci yang telah mereka ikrarkan. Meski kesibukan di rumah sakit seringkali menguji, rumah ini adalah tempat mereka kembali, tempat di mana mereka bisa menjadi diri sendiri dan menemukan kedamaian.

Pagi itu, alarm berbunyi tepat pukul enam pagi. Hyunwoo meraihnya dengan mata masih terpejam, mematikannya sebelum membangunkan Haein yang masih terlelap di sampingnya. Ia mengamati wajah istrinya yang tampak damai dalam tidurnya. Rambutnya yang sedikit berantakan menutupi sebagian wajahnya, namun justru menambah kelembutan auranya. Hyunwoo mengecup kening Haein perlahan, merasakan kehangatan kulitnya.

Tak lama kemudian, Haein menggeliat dan membuka matanya. "Selamat pagi," sapa Hyunwoo lembut, senyumnya merekah melihat Haein terbangun.

"Selamat pagi," balas Haein dengan suara serak khas bangun tidur, lalu memeluk Hyunwoo erat. "Sudah jam berapa?"

"Sudah hampir jam enam lewat lima belas. Aku harus segera bersiap," jawab Hyunwoo sambil mengusap punggung Haein. "Kamu masih bisa tidur sebentar lagi."

Haein menghela napas pelan dan melepaskan pelukannya. "Aku juga harus bangun. Jadwal operasiku pagi ini dimulai pukul tujuh."

Mereka berdua bangkit dari tempat tidur dan memulai rutinitas pagi mereka. Hyunwoo menuju kamar mandi lebih dulu, sementara Haein merapikan tempat tidur. Suasana di kamar terasa tenang, hanya diisi oleh suara air mengalir dari kamar mandi.

Saat sarapan di dapur, mereka hanya memiliki waktu singkat untuk bertukar cerita. Haein menyiapkan roti panggang dan telur untuk mereka berdua, sementara Hyunwoo membuatkan kopi.

"Semalam operasimu berjalan lancar?" tanya Haein sambil mengoleskan selai di rotinya.

"Lumayan lancar," jawab Hyunwoo sambil mengangguk. "Pasiennya stabil setelah operasi. Tapi sepertinya akan ada kasus darurat lagi hari ini."

"Aku juga ada operasi besar pagi ini," timpal Haein. "Aneurisma aorta yang cukup berisiko. Mohon doanya ya."

"Tentu saja," kata Hyunwoo sambil menggenggam tangan Haein di atas meja. "Aku yakin kamu pasti bisa. Kamu dokter bedah jantung terbaik yang kukenal."

Haein tersenyum mendengar dukungan dari suaminya. "Terima kasih, sayang. Aku jadi lebih percaya diri."

Mereka berdua terdiam sejenak, menikmati kebersamaan singkat di pagi hari yang sibuk ini. Meskipun waktu mereka terbatas, mereka selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap detik yang ada.

"Nanti malam kamu ada jadwal jaga malam?" tanya Hyunwoo sambil melihat jam di dinding.

Haein menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku libur malam ini. Bagaimana kalau kita mencoba restoran Korea baru di dekat kantor polisi?"

Mata Hyunwoo berbinar mendengar tawaran Haein. "Itu ide yang bagus sekali! Aku sudah lama ingin mencoba tempat itu. Aku akan usahakan pulang lebih cepat."

Setelah sarapan, mereka berdua berpamitan dengan ciuman singkat namun penuh makna di depan pintu apartemen. "Hati-hati di jalan," pesan Hyunwoo. "Jangan terlalu lelah."

"Kamu juga," balas Haein sambil melambaikan tangan saat Hyunwoo masuk ke dalam lift.

###

Malam itu, Hyunwoo benar-benar berusaha untuk pulang lebih awal. Ia sudah memesan tempat di restoran Korea yang Haein sebutkan. Saat Haein tiba di restoran, Hyunwoo sudah menunggunya di meja dengan senyum lebar.

Oneshoot!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang