Cahaya rembulan menembus celah gorden, melukis pola abstrak di lantai marmer apartemen. Partikel-partikel debu menari anggun dalam sorotan tipis itu, seolah-olah ikut merasakan kesunyian yang mencekam. Hanya desiran lembut pendingin ruangan yang memecah hening, sebuah irama monoton yang justru semakin memperjelas kekosongan. Kim Jiwon, terbalut piyama sutra berwarna gelap yang jatuh lembut di tubuhnya, duduk di tepi ranjang. Jemarinya yang ramping memegang novel tebal, namun pandangannya jauh, menembus sampul buku itu, melayang ke alam pikirannya yang kalut. Di sisi lain kamar, Kim Soohyun, suaminya, masih terpaku di meja kerjanya. Cahaya biru dari layar laptop memantul di wajahnya yang dihiasi bayangan kelelahan, garis-garis tipis kerutan muncul di sudut matanya.
Setahun terakhir ini adalah badai tak berujung yang menerjang biduk rumah tangga mereka. Dimulai dengan masalah bisnis kecil Soohyun yang dengan cepat membesar, merembet menjadi tekanan finansial yang mencekik perusahaannya. Namun, badai sesungguhnya datang dalam wujud Kim Jungah, ibu Soohyun. Wanita yang dulunya hangat dan penuh kasih itu kini berubah menjadi tornado yang tak henti-hentinya meniupkan ketidaksukaan terang-terangan terhadap Jiwon. Setiap kali Kim Jungah datang berkunjung, atau sekadar panggilan telepon malam hari, bahkan makan malam keluarga yang seharusnya penuh kehangatan, semuanya terasa seperti medan perang tak terlihat bagi Jiwon. Sindiran-sindiran halus tentang masakan Jiwon yang 'terlalu sederhana' atau 'tidak seenak masakannya', pilihan pakaiannya yang kadang 'terlalu berani' untuk menantu keluarga terpandang, hingga latar belakang keluarganya yang 'tidak sepadan' dengan trah keluarga Kim yang terhormat, semuanya menjadi pedang-pedang kecil yang secara perlahan namun pasti mengoyak hati Jiwon. Setiap kata adalah tusukan, setiap tatapan adalah luka.
Jiwon menghela napas panjang, sebuah suara nyaris tak terdengar yang teredam dalam keheningan. Ia tahu Soohyun terjepit di antara dua wanita paling penting dalam hidupnya. Pria itu selalu mencoba menenangkan keduanya, berjanji untuk "bicara dengan ibu" atau "membuat ibu mengerti," tapi seringkali usahanya seperti mencoba menghentikan badai dengan tangan kosong. Jiwon bisa melihat kelelahan yang sama di mata Soohyun, beban yang dipikul suaminya. Namun, justru karena itu, ia memilih untuk menelan semua rasa sakit dan frustrasinya sendiri. Ia tidak ingin menambah beban di pundak Soohyun yang sudah terbebani begitu banyak. Ia mencintainya, dan melihat Soohyun menderita adalah hal terakhir yang diinginkannya.
Besok pagi, Soohyun akan terbang ke luar negeri untuk perjalanan bisnis penting selama dua minggu penuh. Ada firasat aneh di hati Jiwon, sebuah desiran dingin yang merayapi tulang punggungnya, seolah ada sesuatu yang akan pecah, seolah-olah gumpalan es yang mengendap di antara mereka akan retak menjadi pecahan-pecahan tajam.
Soohyun akhirnya menutup laptopnya dengan desahan lelah yang dalam. Ia meregangkan otot-ototnya, sendi-sendinya bergemeretak pelan, lalu berbalik menatap Jiwon. Senyum tipis yang terasa dipaksakan terukir di bibirnya, tidak sampai ke matanya yang sayu. "Sudah larut, Jiwon. Kenapa belum tidur?"
Jiwon perlahan menutup novelnya, meletakkannya di nakas. "Menunggumu. Kau terlihat sangat lelah, Soohyun."
Soohyun bangkit dari kursinya, langkahnya gontai saat menghampiri ranjang. Ia duduk di samping Jiwon, kehangatan tubuhnya memancar samar. "Beberapa masalah di kantor. Ditambah tekanan dari ibu. Dia menelepon lagi tadi siang, menanyakan kenapa kita belum juga punya anak." Nada bicaranya sarat frustrasi yang terpendam.
Jiwon menunduk, matanya menatap jemari tangannya yang saling bertaut di pangkuan. Isu tentang anak adalah duri lain di dalam hubungan mereka, sebuah senjata favorit Kim Jungah untuk menekan Jiwon. "Aku mengerti. Maafkan aku." Suaranya hampir tak terdengar, dibumbui rasa bersalah yang tak beralasan.
Soohyun menggelengkan kepala, jari-jarinya menyentuh dagu Jiwon, mengangkatnya perlahan agar mata mereka bertemu. "Bukan salahmu, Jiwon. Aku sudah bilang padanya untuk tidak ikut campur. Sudah berapa kali aku bilang untuk tidak menekankan hal itu padamu. Tapi.. kau tahu ibu. Dia punya caranya sendiri."
