Setelah Dahyun pergi, meninggalkan keheningan yang lebih pekat dari sebelumnya, Soohyun tidak langsung tidur. Pikirannya berpacu, nyaris meledak. Ia berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya, setiap langkahnya menggemakan tekad yang baru bangkit. Kata-kata Profesor Choi, "faktor psikologis," dan bisikan licik pamannya, "tidak ada pewaris," berputar-putar di kepalanya, bercampur dengan sensasi menyengat dari sentuhan yang tak terduga tadi sore.
Ia berhenti di depan jendela, menatap ke bawah. Seoul di malam hari adalah permadani cahaya, namun baginya, kini kota itu terasa seperti sebuah board game raksasa, dan dia harus memenangkan permainan ini. Pewaris. Itu adalah kata kunci. Dan wanita itu, adalah pion vital dalam permainan itu.
Soohyun mengambil ponselnya, jemarinya bergerak cepat. Ia membuka aplikasi pesan, lalu mencari kontak kepala departemen HR, Ms. Lee. Meskipun ini sudah larut malam, Ms. Lee adalah seorang workaholic yang hampir selalu siaga.
"Ms. Lee," Soohyun mengetik, suaranya diwakili oleh teks yang dingin dan lugas. "Saya butuh data karyawan yang terlibat insiden kecil di lorong lantai 15 sore ini. Ada tabrakan dengan salah satu staf saat saya keluar dari ruang rapat. Saya ingin profil lengkapnya, besok pagi."
Ia menunggu sejenak. Balasan datang hampir instan.
"Baik, Tuan Kim. Saya akan segera memprosesnya. Apakah ada detail spesifik yang bisa membantu saya mempersempit pencarian?"
Soohyun berpikir. "Wanita. Kira-kira akhir dua puluhan. Membawa setumpuk dokumen. Tampak panik dan malu." Ia mengetik detail itu, menambahkan sedikit gambaran mental tentang Jiwon.
"Dipahami, Tuan Kim. Saya akan segera mencarinya. Anda akan menerima laporannya sebelum jam 8 pagi besok."
Soohyun menutup ponselnya. Sebuah senyum tipis, nyaris seringai, muncul di bibirnya. Langkah pertama telah diambil.
Keesokan paginya, tepat pukul 07.45, sebuah email masuk ke kotak masuk pribadi Soohyun. Subjeknya: "Profil Karyawan: Kim Jiwon (Departemen Pemasaran)".
Soohyun segera membukanya. Sebuah foto ID card muncul di layar. Itu dia. Wajah itu. Mata itu. Kim Jiwon. Usia 28 tahun. Lulusan Universitas Hankuk, jurusan Administrasi Bisnis. Riwayat kerja: 5 tahun di Kim Pharmaceutical, di departemen pemasaran. Nilai kinerja: Sangat Baik. Catatan pribadi: Pendiam, fokus pada pekerjaan, tidak banyak berinteraksi sosial di luar divisi. Alamat apartemen, nomor telepon, bahkan riwayat kesehatan dasar. Semuanya terpampang jelas.
Soohyun membaca setiap baris, setiap kata, seolah sedang menganalisis laporan keuangan perusahaan. Ia mencari sesuatu. Sesuatu yang bisa menjelaskan mengapa dia. Mengapa hanya dia. Tidak ada yang menonjol. Tidak ada bakat tersembunyi yang bisa menjelaskan 'keajaiban' itu. Dia hanya.. Jiwon. Seorang karyawan biasa, efisien, tapi tidak luar biasa.
"Kim Jiwon," Soohyun menggumamkan nama itu, membiarkannya bergulir di lidahnya. Ada sesuatu dalam nama itu, sesuatu yang terasa pas di bibirnya.
Ia menekan tombol print, mencetak profil itu. Memegangnya di tangannya, ia menatap foto Jiwon. Tatapan Soohyun kini lebih dari sekadar rasa ingin tahu. Ini adalah tatapan seorang pemburu yang telah menemukan mangsanya, atau seorang ilmuwan yang menemukan subjek penelitian yang paling menarik.
Ia membayangkan lagi sentuhan itu. Rasa panas yang menjalar. Denyutan yang selama ini mati. Ini bukan kebetulan. Ini adalah takdir. Atau setidaknya, takdir yang bisa ia bentuk sesuai keinginannya.
Soohyun tersenyum, senyuman dingin dan penuh perhitungan. Ia akan mendekati Jiwon. Bukan dengan rayuan atau bujukan biasa. Ia akan menggunakan kekuasaan, posisinya. Ia akan membuatnya mengerti bahwa ia adalah satu-satunya kesempatan untuk memperbaiki 'kelainan' ini.
