Setelah pertemuan dengan Dokter Park yang menguras emosi, Hyunwoo dan Haein memutuskan untuk memilih jalan IVF. Itu bukan keputusan yang mudah. Mereka telah membaca banyak tentang prosedur itu, suntikan hormon yang menyakitkan, efek samping yang menguras fisik dan emosi, dan tingkat keberhasilan yang tidak pasti. Namun, melihat tekad di mata Hyunwoo, Haein merasa memiliki kekuatan untuk melaluinya.
"Kita akan melakukannya," kata Hyunwoo pada Dokter Park, suaranya mantap. "Apa pun yang diperlukan." Ia menggenggam tangan Haein lebih erat, seolah menyalurkan seluruh kekuatannya.
Hari-hari berikutnya berubah menjadi rutinitas yang melelahkan. Pagi-pagi sekali, mereka akan pergi ke rumah sakit untuk suntikan hormon harian yang harus disuntikkan Haein sendiri di perutnya. Meskipun Haein berusaha terlihat tegar, Hyunwoo bisa melihat bagaimana setiap suntikan meninggalkan jejak rasa sakit dan ketidaknyamanan di wajahnya. Ada memar-memar kecil di sekitar pusar Haein, dan seringkali ia mengernyitkan dahi saat jarum menembus kulitnya.
"Sakit?" tanya Hyunwoo setiap pagi, matanya penuh kekhawatiran. Ia akan memegang tangan Haein, mengusap punggungnya, bahkan kadang mencium keningnya saat Haein sedang menyuntik.
"Sedikit," jawab Haein, mencoba tersenyum. "Tapi tidak apa-apa."
Hyunwoo ingin sekali menggantikan Haein. Rasanya, ia lebih rela jarum-jarum itu menembus kulitnya daripada melihat Haein menderita. Ia akan memeluk Haein erat setelah setiap suntikan, berbisik kata-kata penyemangat, dan menciumi puncak kepalanya.
Selain suntikan, ada juga kunjungan rutin untuk USG transvaginal, pemeriksaan darah, dan penyesuaian dosis hormon. Setiap kunjungan adalah ujian emosi. Harapan yang membumbung tinggi sebelum pemeriksaan, seringkali diakhiri dengan kekecewaan jika respons tubuh Haein tidak sesuai harapan.
"Sel telurnya belum berkembang sebanyak yang kita inginkan," Dokter Park pernah mengatakan, membuat bahu Haein merosot. "Kita perlu menaikkan dosis hormon."
Melihat Haein menahan air mata di hadapan dokter, lalu menangis dalam pelukan Hyunwoo di dalam mobil, membuat hati Hyunwoo remuk. Ia mencium rambut Haein, menggumamkan kata-kata penghiburan. "Tidak apa-apa, sayang. Kita akan coba lagi. Tubuhmu hanya butuh waktu."
Efek samping hormon mulai terlihat. Haein menjadi mudah lelah, mual di pagi hari, dan perubahan mood yang drastis. Kadang ia akan tiba-tiba menangis tanpa sebab, atau marah karena hal kecil.
Suatu sore, Haein pulang dari kantor dengan wajah pucat dan tubuh lesu. Ia langsung merebahkan diri di sofa, memejamkan mata.
Hyunwoo menghampirinya, duduk di sampingnya, mengusap dahinya. "Kau mual lagi?"
Haein mengangguk, bibirnya sedikit bergetar. "Aku.. aku merasa tubuhku bukan milikku lagi, Hyunwoo. Aku lelah dengan semua ini. Aku merasa gagal."
"Jangan bicara begitu," Hyunwoo segera menariknya ke dalam pelukan. "Kau tidak gagal, sayang. Kau adalah wanita paling kuat yang kukenal. Kau sedang berjuang. Dan aku bersamamu."
Ia membawakan Haein teh hangat, memijat kakinya yang pegal, dan mencoba menghiburnya dengan cerita-cerita lucu. Namun, ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Haein semakin kurus, lingkaran hitam di bawah matanya semakin pekat, dan senyumnya semakin jarang terlihat. Beban emosional dan fisik IVF telah mengambil alih hidup Haein.
Puncaknya terjadi setelah prosedur pengambilan sel telur yang gagal. Haein harus menjalani bius total, dan ia bangun dengan rasa sakit yang luar biasa di perut bagian bawah. Hyunwoo duduk di samping ranjang rumah sakit, memegang tangannya. Ia melihat Haein meringis kesakitan, matanya berlinang air mata.
"Sakit sekali, Hyunwoo," bisik Haein, napasnya terengah-engah.
Hyunwoo merasakan air matanya sendiri mengumpul di sudut mata. Hatinya mencelos. Ia tidak tahan lagi melihat penderitaan Haein. Perjalanan ini, yang seharusnya membawa harapan, justru terasa seperti siksaan.
