Garis Batas 9

443 70 12
                                        

Kabar tentang kehamilan Haein bagaikan ledakan kebahagiaan yang dahsyat, mengguncang dunia Baek Hyunwoo hingga ke intinya. Air mata yang membasahi wajahnya saat panggilan video itu adalah luapan dari segala kekhawatiran, doa, dan harapan yang selama ini ia pikul. Haein hamil. Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya, menghapus segala kerumitan proyek dan menyingkirkan semua pikirannya tentang pekerjaan. Yang ada hanya satu tujuan, pulang. Pulang secepatnya ke sisi istrinya.

Setelah menutup panggilan video dengan Haein, Hyunwoo masih duduk terpaku di kursinya, ponsel di genggaman. Air mata masih membasahi pipinya, bercampur dengan senyum lebar yang tak bisa ia hapus. Rekan kerjanya yang melihatnya terisak-isak sambil tersenyum di depan layar, hanya bisa saling pandang dengan bingung. Beberapa bahkan berani mendekat.

"Ada apa, Tuan Baek? Anda baik-baik saja?" tanya salah satu asistennya, Tuan Lee, dengan nada khawatir.

Hyunwoo mendongak, matanya merah namun bersinar. Ia tidak bisa menahan diri. "Istriku.. istriku hamil!" serunya, suaranya pecah karena haru. "Kami.. kami akan punya bayi!"

Seketika, suasana di kantornya di Busan berubah. Rekan-rekan kerjanya yang tadi bingung kini tersenyum dan memberikan selamat. Beberapa bahkan menepuk pundaknya. Hyunwoo tidak peduli dengan rasa malu. Yang ia rasakan hanyalah euforia kebahagiaan.

"Saya harus segera pulang," kata Hyunwoo pada Tuan Lee, bangkit dari kursinya dengan gerakan terburu-buru. "Saya harus menemui istri saya."

Tuan Lee mengerutkan kening. "Tapi, Tuan Baek, proyek jembatan ini.. masih banyak yang harus diselesaikan. Bukankah kita baru memulai tinjauan ulang?"

Hyunwoo menatap blueprint di mejanya. Matanya yang tadi penuh kebahagiaan kini memancarkan tekad yang membara. "Saya akan menyelesaikannya. Secepat mungkin." Ia tahu ia tidak bisa langsung pergi. Tanggung jawab profesionalnya sebagai arsitek tidak bisa diabaikan begitu saja. Ia harus memastikan masalah struktural itu teratasi, agar jembatan itu aman dan proyek tidak tertunda lebih lama. Tapi ia juga tahu bahwa setiap detik yang ia habiskan di Busan adalah setiap detik yang ia lewatkan di sisi Haein. Dan ia tidak bisa membiarkan itu terjadi.

Hyunwoo mengambil napas dalam-dalam. "Tuan Lee, batalkan semua janji saya hari ini. Saya ingin semua data, semua laporan, semua skema yang berkaitan dengan masalah ini diletakkan di meja saya. Kita akan bekerja maraton."

Tuan Lee terkejut melihat urgensi di mata Hyunwoo. "Maraton, Tuan Baek? Tapi Anda terlihat.."

"Saya baik-baik saja!" potong Hyunwoo tegas. "Saya tidak pernah seproduktif ini. Saya punya motivasi yang sangat besar sekarang."

Dan ia membuktikannya. Hyunwoo, yang biasanya bekerja dengan tenang dan terstruktur, kini bergerak seperti kesetanan. Ia tidak makan siang, hanya minum kopi hitam. Ia membolak-balik lembaran blueprint dengan kecepatan kilat, memeriksa setiap perhitungan, setiap sambungan. Ia menghubungi para insinyur di lapangan, memberikan instruksi yang jelas dan ringkas. Otaknya bekerja dengan kecepatan gila, seolah setiap detiknya harus dimanfaatkan untuk segera kembali ke Haein.

Ia mendiktekan perubahan desain, membuat perhitungan ulang di kepalanya, dan menggambar skema baru dengan tangan yang cepat dan presisi. Biasanya, pekerjaan sebesar ini akan memakan waktu berhari-hari. Namun, motivasi untuk pulang, untuk memeluk Haein dan memastikan kehamilannya baik-baik saja, memberinya kekuatan super. Setiap garis yang ia gambar, setiap angka yang ia hitung, terasa seperti langkah menuju pintu penthouse mereka.

"Bagian ini harus diperkuat dengan penambahan plat baja di titik C-7," Hyunwoo menjelaskan pada timnya, jarinya menunjuk titik tertentu di blueprint. "Perhitungkan kembali beban torsi di sana. Saya butuh data analisis dalam dua jam."

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang