Garis Batas 4

360 66 8
                                        

Hati Baek Hyunwoo, yang dulunya terbungkus es penolakan, kini terbakar oleh api cemburu yang mengamuk. Nyala api itu bukan bara yang perlahan meredup, sebaliknya, ia membesar setiap kali bayangan Hong Haein dan Kim Namjoon melintas dalam benaknya. Setiap tawa yang ia saksikan, setiap sentuhan ringan yang mereka bagikan, bagaikan percikan yang menyulut bara di dadanya. Ironisnya, ia adalah pria yang selama ini mati-matian menolak Haein, membangun dinding tinggi di antara mereka. Namun sekarang, saat Haein mulai menarik diri dan menemukan kenyamanan baru dalam persahabatannya dengan Namjoon, Hyunwoo dihantam oleh gelombang posesif yang tak terkendali. Perasaan ini asing, mengganggu, dan mengkhawatirkan bagi Hyunwoo yang biasanya terkontrol. Ia tidak mengerti mengapa ia merasa begitu marah, tidak nyaman, dan begitu takut kehilangan perhatian Haein.

Haein, di sisi lain, tenggelam dalam kebingungan. Setelah berbulan-bulan menghadapi dinding es dan penolakan konstan dari Hyunwoo, perubahan sikap pria itu terasa tidak masuk akal. Hyunwoo tiba-tiba menjadi 'aneh' dan posesif setiap kali Namjoon muncul di dekatnya. Bagi Haein, ini terasa seperti Hyunwoo hanya mencoba mengendalikannya, mengganggu kebahagiaan kecil yang ia dapatkan dari persahabatannya dengan Namjoon. Ia tidak memahami inti dari kegelisahan Hyunwoo, yang ia rasakan hanyalah kelelahan lama yang kini berganti menjadi sedikit rasa kesal dan kecurigaan terhadap motif Hyunwoo.

Malam setelah acara firma, suasana di penthouse terasa dingin dan kaku, bagaikan pisau tajam yang membelah udara. Hyunwoo dan Haein pulang dalam diam yang memekakkan telinga. Begitu pintu tertutup, Haein langsung berjalan menuju kamar tidur tanpa sepatah katapun. Hyunwoo mengikutinya, setiap langkahnya dipenuhi kemarahan yang tertahan, membakar di dalam dirinya.

"Hong Haein," panggil Hyunwoo, suaranya tajam, tidak lagi berusaha menahan diri. Nada itu begitu asing, penuh dengan ketegangan yang belum pernah Haein dengar sebelumnya.

Haein berhenti di ambang pintu kamarnya, membalikkan badan, menatap Hyunwoo dengan ekspresi lelah dan sedikit marah. "Ada apa lagi? Kau ingin apa lagi dariku?"

"Apa yang kau lakukan dengan Kim Namjoon itu?" tuntut Hyunwoo, melangkah lebih dekat, bayangannya menjulang di atas Haein. "Kenapa kalian berdua begitu.. akrab? Begitu dekat?"

Haein menatapnya tak percaya, alisnya bertaut. "Apa yang kau bicarakan? Dia temanku! Teman lama! Bukankah sudah aku katakan sebekumnya!"

"Teman yang terlalu akrab!" Hyunwoo membantah, suaranya meninggi, sesuatu yang jarang sekali ia lakukan. Jarang sekali ia kehilangan kendali. "Teman yang menyentuh punggungmu! Teman yang membuatmu tertawa lepas seperti itu! Aku melihat kalian, Haein. Kau terlihat sangat bahagia bersamanya. Lebih bahagia daripada saat kau bersamaku."

Haein membalas tatapannya, matanya mulai berkaca-kaca karena marah. "Jadi kenapa kalau aku bahagia? Kau tidak pernah peduli aku bahagia atau tidak! Kau selalu mendorongku pergi, seolah aku hama yang mengganggumu! Sekarang, setelah aku menemukan seseorang yang baik dan membuatku nyaman, kau tiba-tiba peduli?!" Suaranya bergetar, penuh rasa sakit yang telah lama terpendam.

"Aku peduli!" Hyunwoo berteriak, frustrasi dan amarah menguasai dirinya. Ia maju selangkah lagi, seolah ingin memangkas jarak di antara mereka. "Aku peduli, Haein! Aku peduli! Sungguh!" Ia tidak pernah menggunakan nama Haein tanpa embel-embel 'Hong Haein-ssi' dengan nada seserius ini, apalagi berteriak. Ledakan emosinya mengguncang udara di antara mereka.

Haein terdiam, terkejut melihat ledakan emosi Hyunwoo yang tak terduga. Matanya yang berkaca-kaca menatap pria di depannya. "Peduli? Kau baru peduli sekarang? Setelah aku menghabiskan berbulan-bulan mengejarmu seperti orang gila, menghadapi semua penolakanmu yang dingin, semua kata-katamu yang menyakitkan? Kau ingat bagaimana kau bilang kehadiranku itu 'gangguan' bagimu? Bagaimana aku 'melelahkan' bagimu? Bagaimana kau menghindariku seperti wabah?" Suaranya bergetar, penuh rasa sakit yang selama ini ia pendam. "Dan sekarang kau cemburu karena aku punya teman yang memperlakukanku dengan baik? Apa hakmu?"

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang