Jerat 5

405 85 12
                                        

Gerimis mulai turun di Seoul sore itu, tetesan air menari di kaca jendela kantor Kim Jiwon, menciptakan suasana yang semakin muram. Jiwon duduk di mejanya, tatapannya terpaku pada layar ponsel, tempat balasan dari Kim Soohyun masih tertera. Jawaban atas pertanyaan 'Kenapa?' yang ia kirimkan tadi pagi.

"Aku ingin bertemu. Aku akan menunggu di taman dekat kantormu setelah jam kerja."

Singkat, namun penuh desakan, kalimat itu menusuk langsung ke ulu hati Jiwon. Ia merasakan gejolak aneh di dadanya, campuran antara rasa takut yang menusuk dan dorongan kuat yang tak bisa ia jelaskan. Pergi menemuinya? Setelah semua yang pria itu lakukan? Ia ingin menolak, ingin lari sejauh mungkin dari bayangan Kim Soohyun, pria yang telah menghancurkan dunianya. Namun, ada dorongan kuat yang menahannya, rasa ingin tahu yang tak tertahankan. Ia harus tahu. Ia harus mendengar langsung mengapa pria itu melakukan ini, mengapa ia kini tampak.. berubah.

Waktu berlalu dengan lambat, setiap detiknya terasa seperti beban. Jam kantor berdetak, memecah kesunyian, namun bagi Jiwon, setiap detakan itu adalah siksaan. Ia melihat jam di dinding, lalu ke ponselnya. 5 sore. Jam pulang. Sebuah desahan panjang lolos dari bibirnya. Ia memejamkan mata sesaat, menarik napas dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. Ini bukan tentang memaafkan, pikirnya. Ini tentang mendapatkan jawaban.

Saat jam kerja berakhir, Jiwon memberanikan diri. Ia mengenakan jaket tipis berwarna abu-abu, mengabaikan gerimis yang semakin deras, dan berjalan menuruni lift, langkahnya terasa berat seperti timah. Udara dingin Seoul menampar wajahnya saat ia keluar dari gedung, bercampur dengan aroma tanah basah. Ia berjalan menuju taman yang dimaksud, setiap langkah terasa seperti perjalanan ke medan perang.

Di taman itu, di bawah rindangnya pohon ginkgo yang daunnya basah oleh hujan, Kim Soohyun sudah menunggunya. Ia berdiri di sana, tanpa payung, rambut hitamnya sedikit basah oleh gerimis yang masih enggan berhenti. Jas hitamnya tampak sedikit basah di bagian bahu, namun ia tak sedikit pun bergeming. Matanya yang tajam menatap Jiwon yang mendekat, intens, penuh dengan sesuatu yang belum pernah Jiwon lihat sebelumnya. Untuk pertama kalinya, Jiwon melihat ekspresi yang berbeda di wajah Soohyun – bukan lagi angkuh, kejam, atau mengendalikan, melainkan sebuah kerapuhan dan ketulusan yang samar, seolah ada beban berat yang baru saja terangkat dari pundaknya.

Jiwon berhenti beberapa langkah di depannya, menjaga jarak. Ia merasa perlu menjaga benteng terakhirnya. "Ada apa?" tanyanya, suaranya dingin, namun ada getaran samar di dalamnya, sebuah nada yang mengkhianati kegugupannya. Gerimis menetes dari ujung daun pohon, menciptakan melodi sunyi yang menjadi latar belakang percakapan mereka.

Soohyun menatapnya dalam-dalam, matanya dipenuhi penyesalan yang mendalam, sebuah jurang kesakitan yang tak terhingga. Suara rintik hujan menjadi satu-satunya saksi bisu di antara keheningan yang menyesakkan. "Aku tahu kau membenciku," Soohyun memulai, suaranya rendah dan serak, lebih lembut dari yang pernah Jiwon dengar. Suara itu begitu kontras dengan nada dominan yang selalu ia gunakan. "Aku tidak menyalahkanmu. Aku pantas dibenci. Bahkan lebih dari itu."

Jiwon hanya diam, air mata mulai menggenang di matanya, bercampur dengan tetesan gerimis yang membasahi wajahnya. Ia tidak ingin menangis di depannya, tidak ingin menunjukkan kelemahannya. Tapi air mata itu mengalir begitu saja, tak terbendung.

Soohyun menghela napas panjang, ia terlihat kesulitan mencari kata-kata, seolah beban di dadanya terlalu berat untuk diungkapkan. Ia mengepalkan tangannya, lalu membukanya lagi. "Aku.. aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Aku selalu mendapatkan apa yang kuinginkan, dengan cara apa pun. Aku mengira kau hanya.. target baru. Aku mengira aku hanya ingin mengalahkan Hanjoon, menghancurkannya. Tapi.. itu berubah." Soohyun berhenti sejenak, tatapannya menyapu wajah Jiwon, seolah mencari jejak dari wanita yang pernah ia sakiti. Soohyun melangkah mendekat, satu langkah kecil yang terasa seperti lompatan besar, melintasi jurang di antara mereka. "Sejak kau menamparku.. sejak aku melihatmu hancur.. sejak aku melihat kehancuran di matamu karena perbuatanku.. Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Aku melihatmu menderita, dan itu.. itu menyakitiku, Jiwon." Suaranya bergetar, menunjukkan emosi yang jarang ia tampilkan, sebuah kerapuhan yang tak pernah ia biarkan terlihat. "Aku tahu ini terdengar munafik, setelah semua yang kulakukan padamu. Tapi.. aku menyesal. Aku menyesal telah menyakitimu. Aku menyesal telah memaksamu."

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang