Ruangan rapat utama kantor Aura Elegance terasa sejuk dan formal. Meja panjang kayu gelap mengkilap memantulkan lampu chandelier modern di atasnya. Di sini, di tengah hiruk pikuk Seoul yang terlihat dari dinding kaca, Kim Jiwon memimpin. Dia duduk tegak di ujung meja, siluetnya tajam dalam balutan suit abu-abu. Di hadapannya, Choi Yuna, Manajer Operasional, dan Park Seojun, Koordinator Logistik, menanti.
Jiwon meraih penanya, ujungnya mengetuk-ngetuk lembut pada cetakan menu tebal dari Hotel The Celeste. Matanya yang fokus menelusuri setiap kata, namun pikirannya sudah jauh melampaui kertas itu, menuju dapur hotel bintang lima yang akan mereka kuasai akhir pekan ini.
"Baik, mari kita fokus pada inti masalah," ujar Jiwon, suaranya rendah dan terkontrol, membawa ketenangan menuntut ke seluruh ruangan. "Pesta pernikahan Tuan Oh dan Nona Kang adalah acara terbesar kita tahun ini. Standar yang diminta klien jauh melampaui mewah—mereka menuntut perfection."
Ia berhenti sejenak, membiarkan bobot kata 'perfection' meresap.
"Kalian tahu betul Nona Kang adalah seorang kritikus seni dan sangat mendalami budaya Eropa," lanjutnya. "Khususnya masakan Italia, dia sangat spesifik. Dia tidak mau masakan Italia 'gaya Korea' atau 'fusion'. Dia mau yang otentik."
Yuna, yang sedang mencatat, mengangkat kepalanya sedikit.
"Kami sudah menekankan hal ini pada pihak hotel, Nona Kim," sahut Yuna dengan nada sedikit membela diri. "Mereka menjamin Head Chef Italia mereka baru direkrut langsung dari Roma enam bulan lalu. Katanya dia sangat kompeten dan bersertifikat."
Jiwon mengangguk pelan, tanpa menunjukkan persetujuan.
"Klaim adalah satu hal, Choi Yuna. Bukti adalah hal lain. Aku tidak akan mempertaruhkan reputasi Aura Elegance hanya berdasarkan janji General Manager mereka." Jiwon bersandar, pandangannya kini tertuju langsung pada Yuna. "Ingat, hotel bintang lima pun kadang berkompromi demi efisiensi dapur dan biaya. Itu yang harus kita hindari."
Jiwon mengambil pena lasernya dan menunjuk ke daftar pasta.
"Masakan Italia harus authentic. Kita bicara tentang al dente yang sempurna, kualitas extra virgin olive oil dari Umbria, dan bumbu yang benar-benar dimasak dengan kesabaran Roma. Nona Kang akan langsung tahu bedanya antara keaslian dan imitasi." Dia menekankan setiap suku kata.
Park Seojun, yang biasanya menangani logistik venue, merasa perlu menengahi ketegangan itu.
"Kami sudah jadwalkan food tasting besok siang, Nona Kim," kata Seojun. "Apakah Anda ingin saya menemani untuk membantu evaluasi presentasi?"
Jiwon menggeleng tegas, ekspresi profesionalismenya mengeras.
"Tidak, Park Seojun. Urusan ini terlalu penting untuk didelegasikan." Dia meletakkan pena lasernya dan mengunci tatapan pada keduanya. "Kalian berdua fokus pada venue décor dan timeline resepsi. Untuk urusan makanan, aku sendiri yang akan memastikan food tasting-nya sesuai standar bintang lima. Aku yang akan bertemu langsung dengan Head Chef-nya."
Dia mengambil napas dalam-dalam, pandangannya kini beralih ke cakrawala kota, seolah sedang bersiap untuk menghadapi bukan sekadar masakan, tetapi juga sebuah ujian pribadi.
"Aku harus memastikan setiap hidangan yang disajikan dapat menceritakan kisah yang otentik, bukan hanya sekadar makanan mahal," tutup Jiwon. "Jika standar Head Chef mereka tidak sesuai dengan ekspektasi klien, kita akan mencari catering Italia eksternal. Sampaikan ini pada pihak hotel: Tidak ada kompromi. Sekarang, Yuna, mari kita tinjau kembali daftar tamu VVIP."
