Penebusan 13

418 72 12
                                        

Perih di pipi Jiwon terasa nyata, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih dalam. Kim Jungah telah pergi bersama Sekretaris Kang untuk menemui dokter dan menjalani pemeriksaan darah. Jiwon masih terpaku di ruang tunggu Unit Gawat Darurat, meskipun kata-kata Jungah yang menyuruhnya pergi terus terngiang di telinganya.

Pergi? Bagaimana mungkin ia pergi? Ia tidak bisa. Tidak setelah semua yang telah mereka lalui. Tidak setelah Soohyun dan dia baru saja mengikat janji. Tidak setelah ia tahu ada kehidupan baru yang tumbuh di dalam rahimnya, buah cinta mereka. Jiwon tidak bisa meninggalkan Soohyun sendirian di saat seperti ini, tidak peduli seberapa banyak Jungah memakinya. Ia harus tetap di sini, menunggu, mendoakan, dan mengetahui bagaimana kondisi Soohyun ke depannya.

Jiwon mengusap air matanya yang tak henti mengalir, berusaha menenangkan diri. Ia harus kuat. Demi Soohyun. Demi Gunwoo. Demi calon bayi mereka. Ia berdiri, kakinya masih terasa lemas, namun tekadnya menguat. Ia akan menunggu.

Tidak lama kemudian, beberapa perawat dan dokter terlihat mendorong sebuah ranjang rumah sakit keluar dari UGD. Di atas ranjang itu, terbaring tubuh Soohyun, wajahnya pucat pasi, kepalanya diperban, dan selang infus terpasang di lengannya. Pemandangan itu menusuk hati Jiwon. Ia merasakan darahnya berdesir dingin.

"Soohyun!" Jiwon berbisik, lalu berlari menghampiri ranjang itu.

Para perawat bergerak cepat, tidak menyia-nyiakan waktu. Mereka mendorong ranjang Soohyun menuju ruang operasi. Jiwon mengikuti langkah mereka, kakinya melangkah cepat, matanya terpaku pada sosok Soohyun yang tak bergerak.

"Dokter, bagaimana keadaannya?" Jiwon bertanya pada dokter yang berjalan di samping ranjang, suaranya bergetar. "Apa dia.. akan baik-baik saja?"

Dokter menoleh sekilas pada Jiwon, ekspresinya serius. "Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Nona. Mohon doanya."

Kata-kata dokter itu tidak banyak menenangkan Jiwon. Ia hanya bisa terus mengikuti, langkahnya semakin cepat, hingga mereka tiba di depan pintu besar bertuliskan 'Ruang Operasi' dengan lampu merah menyala di atasnya. Ranjang Soohyun didorong masuk, dan pintu tertutup di belakangnya, memisahkan Jiwon dari suaminya.

Jiwon berdiri mematung di depan pintu itu. Hatinya mencelos. Rasa takut dan cemas yang luar biasa kini mendominasi dirinya. Ia merasa sendirian, ditinggalkan, dan tak berdaya. Air mata yang tadinya sempat mereda, kini kembali jatuh, lebih deras dari sebelumnya, membasahi pipinya tanpa henti.

Ia bersandar pada dinding dingin di samping pintu, lalu perlahan merosot, terduduk di lantai. Tangannya menyatu di depan dada, gemetar. Ia memejamkan mata, memanjatkan doa. Sebuah doa tulus, dari lubuk hatinya yang paling dalam.

"Tuhan.. kumohon.." Jiwon berbisik, suaranya tercekat oleh isakan. "Selamatkan Soohyun.. kumohon.. Dia harus selamat. Dia harus kembali padaku.. pada Gunwoo.. Kami baru saja menemukan kebahagiaan kami. Kami akan punya anak lagi.. Dia harus tahu ini. Dia harus kembali ke pelukanku."

Air mata terus mengalir, membasahi tangannya yang bersatu. Setiap menit yang berlalu terasa seperti siksaan. Jiwon tahu operasi ini bisa memakan waktu berjam-jam, bahkan mungkin seluruhnya. Namun, ia tidak akan beranjak. Ia akan tetap di sini, di depan pintu ini, berdoa, menunggu, dan berharap mukjizat akan datang. Ia berharap Soohyun bisa selamat, kembali ke pelukannya, dan mereka bisa kembali berkumpul sebagai keluarga yang utuh, bersama Gunwoo, dan calon buah hati mereka.

Di balik pintu itu, nyawa Soohyun dipertaruhkan. Dan di luar pintu itu, Jiwon bertarung dengan keputusasaan, mengandalkan kekuatan doa dan cinta yang ia miliki.

###

Di sebuah ruangan khusus di rumah sakit, Kim Jungah duduk di kursi donor darah. Wajahnya masih memerah karena amarah, namun ada bayangan kekhawatiran yang mendalam di matanya. Setelah melalui proses pemeriksaan singkat yang intens, dipastikan golongan darahnya sama dengan Kim Soohyun, AB Rh-negatif. Perawat dengan sigap memulai proses pengambilan darah. Jungah memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat jarum yang menusuk lengannya. Dalam benaknya, ia terus mengutuk kecerobohan Soohyun dan keberadaan Jiwon yang ia anggap pembawa sial.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang