Setelah ruang kerja Baek Hyunwoo menjadi saksi bisu luka lama yang akhirnya terungkap, suasana di antara Hyunwoo dan Hong Haein terasa berbeda. Ada kehangatan yang belum pernah ada sebelumnya, menggantikan dingin dan jarak yang selama ini memisahkan mereka. Haein masih menggenggam tangan Hyunwoo, memberikan kekuatan dan dukungan tanpa kata.
Setelah beberapa saat hening, Hyunwoo menarik napas dalam-dalam dan menatap Haein. Matanya yang biasanya tajam dan dingin kini tampak lembut dan penuh rasa terima kasih.
"Sekali lagi terima kasih, Dokter Hong," kata Hyunwoo pelan, suaranya sedikit serak. "Terima kasih sudah mendengarkan saya. Saya.. saya tidak pernah menceritakan ini kepada siapa pun sebelumnya."
Haein mengusap lembut punggung tangan Hyunwoo. "Saya senang Anda mempercayai saya, Dokter Baek. Saya mengerti betapa beratnya beban yang Anda pikul selama ini."
Hyunwoo tersenyum tipis, sebuah senyum yang tulus dan menyentuh hati Haein. "Sejak kamu datang, ada sesuatu yang berubah dalam diri saya. Kamu.. kamu membuat saya merasa tidak terlalu sendirian."
Pipi Haein merona mendengar pengakuan itu. Ia merasakan kehangatan menjalari seluruh tubuhnya. "Anda juga membuat saya merasa seperti itu, Dokter Baek," jawab Haein dengan suara pelan. "Saya.. saya tidak pernah menyangka akan merasa seperti ini kepada seseorang di tempat kerja, apalagi kepada Anda."
Hyunwoo melepaskan genggaman tangan Haein dan meraih wajahnya dengan kedua tangannya. Tatapannya intens, seolah sedang membaca setiap emosi yang terpancar dari mata Haein.
"Haein," kata Hyunwoo lembut, memanggil nama wanita di hadapannya untuk pertama kalinya,"sejak awal saya bertemu denganmu, saya merasakan ada sesuatu yang berbeda. Kamu.. kamu membuat saya tertarik, meskipun saya berusaha keras untuk mengabaikannya. Sikap keras kepala dan semangatmu.. itu membuat saya kagum."
Haein menahan napas, jantungnya berdebar kencang mendengar pengakuan Hyunwoo. "Saya juga merasakan hal yang sama, Dokter Baek," bisik Haein. "Meskipun Anda selalu bersikap dingin dan menuntut, saya.. saya tidak bisa memungkiri bahwa saya tertarik pada Anda. Ada sesuatu tentang diri Anda yang membuat saya ingin tahu lebih banyak."
Hyunwoo mendekatkan wajahnya, dan Haein menutup matanya, menunggu sentuhan bibirnya. Namun, Hyunwoo mengurungkan niatnya dan malah mengecup lembut kening Haein.
"Saya tidak ingin terburu-buru," kata Hyunwoo pelan, dahinya masih menyentuh kening Haein. "Saya ingin memastikan bahwa ini benar-benar yang kita inginkan."
Haein membuka matanya dan menatap Hyunwoo. Ia melihat ketulusan dan kehati-hatian di matanya. Ia mengangguk pelan. "Saya yakin, Dokter Baek. Saya.. saya menyukai Anda."
Hyunwoo tersenyum lega mendengar pengakuan Haein. Ia kembali mendekatkan wajahnya, dan kali ini, bibirnya bertemu dengan bibir Haein dalam ciuman yang lembut namun penuh gairah. Ciuman itu adalah ungkapan dari semua perasaan yang selama ini mereka pendam, rasa tertarik, kekaguman, dan kerinduan yang akhirnya menemukan jalannya.
Saat bibir mereka berpisah, Haein menatap Hyunwoo dengan mata berkaca-kaca. Ia merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hyunwoo juga menatapnya dengan tatapan yang penuh cinta dan kelembutan.
"Saya menyukai Anda juga, Haein," kata Hyunwoo dengan suara yang lebih berani kali ini. "Lebih dari yang bisa saya ungkapkan dengan kata-kata."
Haein tersenyum lebar, air mata kebahagiaan akhirnya menetes di pipinya. Ia mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi Hyunwoo dengan lembut.
"Saya tidak pernah menyangka akan jatuh cinta pada Anda, Dokter Baek," kata Haein sambil tertawa kecil di tengah isaknya.
Hyunwoo meraih tangan Haein dan mencium telapak tangannya. "Saya juga tidak pernah menyangka akan merasakan cinta lagi, Haein. Setelah apa yang terjadi pada ibu saya, saya pikir hati saya sudah membeku. Tapi kamu.. kamu mencairkannya."
