Lampu operasi yang bulat dan tanpa ampun menggantung rendah di atas meja bedah, memancarkan cahaya putih yang menyilaukan. Ruangan operasi 3 di Rumah Sakit Universitas Seoul terasa dingin dan steril, udara dipenuhi aroma antiseptik yang tajam. Di tengah ruangan, di bawah sorot cahaya terang, terbaring seorang pria paruh baya dengan dada terbuka, jantungnya yang berdenyut lemah menjadi fokus utama.
Di atas tubuh pasien, berdiri Baek Hyunwoo. Dokter bedah kardiotoraks dengan aura dingin yang selalu menyelimutinya. Usianya mungkin pertengahan tiga puluhan, namun garis tegas di wajahnya dan tatapan matanya yang tajam memancarkan pengalaman dan otoritas yang jauh melampaui usianya. Ia mengenakan scrub berwarna biru tua, masker menutupi sebagian wajahnya, namun mata elangnya tetap fokus pada organ vital di hadapannya.
Di sisi Hyunwoo, berdiri tim bedah yang bergerak dengan sinkronisasi sempurna, hasil dari latihan dan pengalaman bertahun-tahun. Asisten bedah pertama, seorang dokter senior bernama Park Sungjoon, dengan cekatan mengaitkan pembuluh darah. Perawat instrumen dengan sigap menyerahkan alat bedah yang diminta Hyunwoo, seolah membaca pikirannya.
Di ruang observasi yang terletak di lantai atas, terpisah oleh kaca satu arah, berdiri Hong Haein. Dokter residen tahun pertama yang baru beberapa minggu bertugas di departemen bedah kardiotoraks. Matanya terpaku pada sosok Hyunwoo di bawah sana. Ia merasa kecil di hadapan aura profesionalisme yang begitu kuat.
"Tekanan darah?" tanya Hyunwoo, suaranya tenang namun memecah keheningan ruang operasi.
"Turun, Dokter Baek. Sekarang 90 per 60," jawab perawat anestesi dari balik tirai di kepala pasien.
Hyunwoo mengangguk tipis, tanpa mengalihkan pandangannya dari jantung yang sedang ia tangani. "Dokter Park, retraktornya sedikit lebih ke lateral. Saya butuh visualisasi yang lebih baik pada katup mitral."
"Baik, Dokter Baek," jawab Park Sungjoon, segera menyesuaikan posisi alatnya.
Haein di ruang observasi menelan ludah. Ia bisa merasakan ketegangan yang memenuhi ruangan di bawah sana, meskipun Hyunwoo tampak begitu tenang. Ia mencatat setiap gerakan tangan Hyunwoo, setiap instruksi yang diberikan, mencoba memahami kompleksitas operasi penggantian katup mitral ini.
"Bagaimana kondisi pasien sebelum masuk?" bisik Haein kepada seorang residen senior di sebelahnya, Kim Mina.
"Stenosis mitral parah, sudah ada gejala gagal jantung. Ini satu-satunya pilihan," jawab Mina tanpa mengalihkan pandangannya. "Lihat bagaimana Dokter Baek bekerja. Presisi yang sempurna. Tidak ada gerakan yang sia-sia."
Kembali ke ruang operasi, Hyunwoo melanjutkan dengan gerakan yang hati-hati namun cepat. Jari-jarinya yang terampil memanipulasi instrumen bedah, memisahkan jaringan dengan presisi milimeter.
"Perawat Kim, benang prolene 5-0 dengan jarum BV-1," perintah Hyunwoo.
Perawat instrumen dengan sigap menyerahkan benang yang diminta. Hyunwoo mengambilnya dengan pinset, fokus sepenuhnya pada jahitannya.
"Dokter Baek," sela perawat anestesi lagi, "detak jantung sedikit tidak teratur."
Hyunwoo menghentikan gerakannya sejenak, menatap monitor di atas meja operasi. Ekspresinya tetap datar, tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun.
"Berikan sedikit lidokain IV push. Pantau terus EKG-nya," jawab Hyunwoo dengan tenang. Ia kembali melanjutkan jahitannya dengan teliti.
Haein di ruang observasi merasakan jantungnya berdebar lebih cepat. Situasi ini tampak begitu kritis. Bagaimana bisa Hyunwoo tetap setenang itu? Ia merasa kagum sekaligus sedikit takut dengan ketenangannya.
"Lihat," bisik Mina lagi, "bahkan dalam situasi seperti ini, dia tidak kehilangan fokus. Itu yang membuatnya menjadi yang terbaik."
Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, Hyunwoo akhirnya menyelesaikan jahitannya. Ia menghela napas tipis, nyaris tak terdengar.
