Finding Truth in Lies 12

352 64 2
                                        

​Matahari sore di Seoul melukiskan langit dengan warna keemasan yang lembut, mengusir bayang-bayang panjang yang memeluk kota. Namun bagi Hong Haein dan Baek Hyunwoo, bayangan itu seolah baru saja terangkat dari hati mereka. Mereka melangkah keluar dari klinik terapi, tangan Hyunwoo tak pernah lepas dari genggaman Haein. Genggaman itu kuat, protektif, namun dipenuhi kehangatan yang menenangkan, seolah ingin meyakinkan Haein bahwa semua sudah berakhir. Di luar gedung, udara terasa lebih bersih, terasa lebih ringan, seperti beban berton-ton yang selama ini menempel di pundak mereka telah terhempas jauh.

​Haein menatap Hyunwoo. Wajah suaminya terlihat pucat dan lelah, urat-urat halus di pelipisnya menonjol, menjadi bukti nyata betapa beratnya sesi terapi tadi. Namun matanya, meskipun masih menyimpan jejak kesedihan, memancarkan kelegaan yang mendalam, seolah ia baru saja melepaskan nafas yang selama bertahun-tahun tertahan di dadanya. Selama hampir dua jam di dalam ruangan itu, Haein menyaksikan Hyunwoo membuka luka yang paling dalam, luka yang selama ini ia sembunyikan dengan rapat. Ia melihat suaminya meneteskan air mata, gemetar, suaranya tercekat saat menceritakan masa lalu yang kelam, dan akhirnya, menghela napas panjang, seolah melepaskan semua beban yang selama ini mengikatnya.

​"Aku.. aku tidak tahu harus bilang apa," bisik Haein, suaranya parau, masih diliputi kekaguman yang dalam. "Terima kasih sudah membawaku ke sana. Terima kasih sudah mengizinkan aku bersamamu."

​Hyunwoo menghentikan langkahnya, menoleh ke Haein. Ia mengangkat tangan Haein, mencium punggung tangannya lembut, matanya menatap Haein lekat-lekat, dipenuhi dengan luapan emosi yang tak terucapkan. "Seharusnya aku yang berterima kasih, Haein. Terima kasih sudah mau datang. Terima kasih sudah menungguku." Suaranya terdengar bergetar. "Keberanianku untuk berbicara datang karena kamu ada di sisiku, Haein. Aku bisa merasakan kehadiranmu. Genggaman tanganmu. Itu.. itu yang paling berarti."

​Haein tidak menjawab, tenggorokannya tercekat. Ia hanya membalas genggaman tangan Hyunwoo. Mereka melanjutkan langkah menuju mobil yang terparkir tak jauh dari sana. Di dalam mobil, suasana hening. Namun, itu bukan lagi hening yang canggung seperti dulu. Itu adalah hening yang penuh dengan pemahaman, sebuah jembatan tak terlihat yang telah dibangun di antara hati mereka, menghubungkan dua jiwa yang terluka dan kini sedang dalam proses penyembuhan.

​Haein membiarkan kepalanya bersandar di jendela, matanya terpejam. Perlahan, kelelahan menguasai Haein, dan ia terlelap dalam perjalanan pulang, merasa aman di sisi Hyunwoo.

​Hyunwoo melirik Haein yang sudah terlelap. Ia tahu istrinya pasti sangat lelah, bukan hanya fisik, tapi juga mental. Ia mengemudi lebih perlahan, seolah takut mengganggu ketenangan Haein. Matanya sesekali melirik ke arah tangan mereka yang masih saling bertautan, sebuah bukti nyata bahwa mereka telah melewati satu lagi babak sulit dalam hidup mereka, bersama-sama.

​Saat sampai di rumah, Haein tidak terbangun. Hyunwoo tersenyum tipis. Ia mematikan mesin mobil, dan ia tidak tega membangunkan Haein. Ia dengan hati-hati membuka sabuk pengaman Haein, lalu membukakan pintu. Dengan sangat perlahan, ia menggendong Haein, membawa istrinya masuk ke dalam rumah. Tubuh Haein terasa ringan, dan Hyunwoo menggendongnya seolah ia adalah harta yang paling berharga. Ia melewati ruang tamu, di mana orang tuanya yang sedang membaca buku, menatapnya dengan tatapan penuh kelegaan dan kehangatan.

​"Haein terlelap," bisik Hyunwoo, memberikan senyum tipis.

​Sungchul dan Sunhe hanya mengangguk, tanpa berkata-kata. Mereka tahu, ada sesuatu yang telah berubah. Ada sebuah keintiman baru yang mereka lihat di mata putra mereka saat menatap Haein. Sebuah ikatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

​Hyunwoo membawa Haein ke kamar mereka. Ia membaringkan Haein dengan sangat hati-hati di ranjang. Ia menyelimutinya hingga ke bahu, memastikan istrinya terbungkus hangat. Hyunwoo duduk di tepi ranjang, menatap wajah Haein yang terlelap. Cahaya temaram dari lampu tidur membelai lembut fitur wajahnya, memperlihatkan rona lelah yang samar, namun juga kedamaian yang baru ditemukan. Hyunwoo mengangkat tangannya, jemarinya yang panjang dengan hati-hati menyisir helaian rambut yang menempel di pipi Haein, menyelipkannya di belakang telinga. Gerakan itu penuh kelembutan dan kehati-hatian, seolah ia takut menyakitinya.

Oneshoot!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang