Lampu-lampu kota Seoul bersinar remang dari balik jendela apartemen Kim Jiwon. Ia duduk di tepi ranjang, gaun navy blue masih membalut tubuhnya, jas Kim Soohyun tersampir di sandaran kursi. Malam itu terasa seperti mimpi yang aneh dan intens. Ciuman di ruang pas, tatapan posesif Soohyun di gala dinner, bisikan menuntutnya di balkon.. semuanya berputar-putar di benaknya, membuat kepalanya terasa penuh.
Ia menyentuh bibirnya sendiri. Rasa bengkak masih terasa. Sentuhan Soohyun, panas tubuhnya, gairah yang membakar di antara mereka.. itu semua terasa begitu nyata. Ia tidak bisa menyangkal respons tubuhnya sendiri. Ketakutan bercampur dengan rasa penasaran yang mematikan. Apa yang diinginkan Soohyun darinya? Dan mengapa ia merasa begitu tertarik pada pria dingin dan berkuasa itu, bahkan setelah semua 'intimidasi' yang ia alami?
Jiwon menghela napas panjang, bangkit perlahan. Ia melepas gaunnya dengan gerakan lambat, meletakkannya di atas tempat tidur, lalu mengambil jas Soohyun. Aroma maskulin pria itu masih melekat kuat pada kain mahal itu, seolah Soohyun masih berada di dekatnya. Ia memeluk jas itu erat-erat, memejamkan mata, membiarkan sensasi itu membanjiri dirinya. Ini gila. Segalanya gila. Tapi ia tidak bisa melarikan diri dari gairah yang telah terbangun.
Di lain sisi, limosin mewah melaju mulus di jalanan Seoul yang sepi. Soohyun bersandar di kursi belakang, dasinya sudah longgar, kemejanya sedikit terbuka. Wajahnya tenang, namun matanya yang tajam menatap kosong ke luar jendela. Pikirannya masih terpaku pada Jiwon. Gaun navy blue itu, bagaimana gaun itu memeluk tubuh Jiwon, bagaimana mata-mata para investor itu memandanginya.. dan bagaimana ia tidak bisa menahan diri.
Ponselnya berdering, memecah keheningan di dalam mobil. Nama 'Kim Dahyun' muncul di layar. Soohyun tersenyum tipis. Ia tahu adiknya akan menanyakan tentang acara tadi.
"Sudah kuduga kau akan menelepon selarut ini," Soohyun berkata, suaranya tenang, nada puas sedikit terselip di dalamnya.
"Tentu saja aku akan menelepon! Oppa, apa yang baru saja kau lakukan di gala dinner itu?!" suara Dahyun terdengar di ujung telepon, campuran antara terkejut dan kegembiraan yang tak bisa disembunyikan. "Kau tahu berapa banyak pasang mata yang terkejut melihatmu melepas jas dan menyampirkannya pada Nona Kim? Dan bagaimana kau tiba-tiba menariknya keluar seperti itu?! Bisik-bisik di mana-mana!"
Soohyun mendengus. "Salah siapa yang menyuruhku membawanya ke acara itu?"
"Tentu saja aku yang menyuruh!" Dahyun tertawa renyah. "Tapi aku tidak menyuruhmu membuat adegan dramatis seperti itu! Kau tahu, beberapa investor bahkan bertanya apakah Nona Kim itu kekasih barumu."
"Mereka memang bajingan cabul," Soohyun berkata dingin, mengingat tatapan-tatapan mesum itu. "Aku hanya tidak suka melihat mereka memandanginya seperti itu."
"Ah, begitu?" Dahyun berkata, nada suaranya berubah menjadi menggoda, penuh intrik. "Kau tidak suka? Kenapa, Oppa? Apakah ini yang namanya.. cemburu?"
Soohyun mendengus lagi, lebih keras kali ini. "Omong kosong. Aku sudah bilang padamu, aku tidak merasakan apa pun padanya selain gairah fisik. Ketertarikan. Itu saja. Aku hanya tidak suka semua mata memandanginya seperti ingin memilikinya. Dia adalah kunciku. Dan aku tidak suka kunciku dipegang-pegang orang lain."
"Oh, begitu ya? 'Kuncimu'?" Dahyun terkekeh. "Kau tahu, Oppa, di dunia ini, cemburu itu seringkali dimulai dari rasa posesif. Dan kau, secara terbuka, baru saja menunjukkan betapa posesifnya dirimu pada Nona Kim Jiwon di depan semua orang penting."
Soohyun terdiam. Kata-kata adiknya menusuk. Cemburu? Posesif? Ia selalu berpikir dirinya adalah seorang yang pragmatis, tanpa emosi yang berlebihan. Tapi mengapa ia merasa begitu geram ketika pria lain menatap Jiwon dengan nafsu? Mengapa ia merasa ingin menyembunyikan Jiwon dari pandangan semua orang?
