Sequel Impossible (Move on?)

535 61 2
                                        

Udara di Incheon International Airport selalu ramai, dipenuhi campuran bahasa dan tujuan. Bagi Haein, udara ini terasa akrab namun juga asing setelah empat tahun. Empat tahun. Rencana awal hanya dua tahun untuk program risetnya di Jerman, namun setelah menyelesaikannya, ia mendapat tawaran pekerjaan di lembaga terkait di sana yang terlalu bagus untuk dilewatkan. Tawaran itu datang di saat ia masih bergulat dengan hatinya, belum sepenuhnya merasa 'siap' untuk kembali ke kehidupan normal di Seoul, terutama kehidupan yang melibatkan Hyunwoo. Jadi, ia mengambil kesempatan itu, memberi dirinya dua tahun ekstra, pengalaman kerja, dan.. lebih banyak waktu, berharap jarak akan benar-benar menuntaskan segalanya.

Saat ia melangkah keluar dari area imigrasi, melewati deretan orang yang menunggu, jantungnya berdebar kencang, campuran antisipasi dan kegugupan. Ia mencari-cari wajah yang ia rindukan. Dan ia menemukannya. Hyunwoo berdiri di barisan paling depan, senyumnya merekah lebar saat mata mereka bertemu. Empat tahun telah mengubahnya. Ia terlihat lebih tinggi, lebih berisi, dan ada kematangan baru di raut wajahnya yang membuatnya terlihat.. berbeda. Bukan lagi remaja yang menangis memohon di bandara, melainkan seorang pria muda.

"Noona!" seru Hyunwoo, melambaikan tangan dengan semangat.

Senyum tulus akhirnya terukir di bibir Haein. Ia melangkah cepat ke arah Hyunwoo, melepaskan kerinduan yang tertahan selama ini. Saat mereka berhadapan, Hyunwoo langsung menariknya ke dalam pelukan yang erat dan hangat.

"Hyunwoo.." bisik Haein, membalas pelukan itu, merasakan keakraban yang menenangkan namun juga sedikit menggetarkan. Aroma parfumnya, familiar namun kini sedikit berbeda, tercium oleh Haein.

"Noona! Akhirnya kau pulang!" kata Hyunwoo, suaranya penuh kelegaan dan kebahagiaan. Ia memeluk Haein sedikit lebih lama dari pelukan biasanya, atau mungkin itu hanya perasaan Haein saja. "Aku rindu sekali! Ayah dan Ibu di rumah sudah tidak sabar menunggumu!"

Mereka melepaskan pelukan, Hyunwoo menahan bahu Haein sambil menatapnya lekat-lekat. "Kau terlihat sedikit kurus, tapi sama cantiknya!" pujinya, senyumnya tulus. "Perjalananmu lancar kan?"

"Ya, lancar," jawab Haein, masih terengah-engah sedikit dari pelukan dan kegugupan. Ia menatap Hyunwoo kembali, dan di sanalah ia merasakannya. Perubahan itu.

Di mata Hyunwoo, ada kehangatan yang selalu ada, rasa sayang seorang adik kepada kakaknya. Tapi kini, ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang lebih dalam? Lebih intens? Caranya menatap Haein, cara matanya berlama-lama pada wajahnya, sedikit kilatan yang tidak bisa Haein identifikasi. Itu bukan sekadar tatapan rindu seorang adik. Ada lapisan baru yang membuat Haein merasa.. tidak nyaman, sekaligus jantungnya berdebar dengan cara yang sudah lama ia coba lupakan.

"Empat tahun lho, Noona," kata Hyunwoo, mengambil alih troli koper Haein dengan mudah. "Bukan dua tahun seperti janjimu dulu." Ada nada canda dalam suaranya, tapi mata itu.. mata itu masih memancarkan intensitas yang membingungkan Haein.

Haein sedikit gugup. "Ah, itu.. setelah program risetku selesai, aku mendapat tawaran kerja yang cukup bagus di sana. Kupikir.. sayang kalau dilewatkan. Butuh pengalaman juga." Ia berusaha menjelaskan dengan alasan logis, menghindari menyinggung apakah ia sudah 'siap' atau belum secara emosional.

"Begitu ya," kata Hyunwoo, mengangguk mengerti, tapi tatapannya masih lekat pada Haein. "Yah, apapun itu, yang penting sekarang kau sudah di sini. Rumah terasa sepi tanpamu, Noona."

Saat mereka berjalan beriringan menuju pintu keluar, Hyunwoo berjalan sedikit lebih dekat dari biasanya. Tangannya sesekali menyenggol lengan Haein secara tidak sengaja, sentuhan-sentuhan kecil yang terasa aneh bagi Haein dalam konteks 'saudara'. Kehangatannya terasa sedikit berbeda, perhatiannya terasa.. lebih dari sekadar perhatian seorang adik.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang