Matahari mulai merunduk di ufuk barat, mewarnai langit Seoul dengan gradasi oranye, merah muda, dan ungu. Di Taman Banpo, suasana sore yang tadinya tenang perlahan berganti menjadi keramaian yang bersemangat. Haein dan Hyunwoo masih betah duduk di bangku taman yang menghadap langsung ke bentangan Sungai Han. Gemercik air yang tenang beradu dengan suara samar percakapan dari pengunjung lain yang mulai memadati area tersebut. Di seberang, Jembatan Banpo yang ikonik mulai memperlihatkan garis-garis lampunya, menunggu saatnya untuk bersinar.
Haein menyandarkan kepalanya pelan ke bahu Hyunwoo, merasakan tekstur lembut kemejanya dan kehangatan yang menjalar dari tubuhnya. Angin malam yang berembus dari sungai terasa sejuk di kulit, membawa aroma air segar bercampur sedikit bau kota. Suara tawa anak-anak dan bisikan pasangan lain mengalir di sekitar mereka, menciptakan melodi kehidupan kota yang berdenyut.
"Sudah.. lama sekali ya kita tidak ke sini," bisik Haein, suaranya sedikit teredam di bahu Hyunwoo. Matanya mengikuti arah cahaya lampu di jembatan. "Rasanya seperti.. sudah bertahun-tahun."
Hyunwoo menyesap tangannya yang menggenggam tangan Haein, ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan Haein. "Iya," jawabnya, suaranya terdengar dalam dan menenangkan. "Dulu, waktu kita masih sering kencan.. tempat ini salah satu favoritmu."
"Aku suka air mancur itu," kata Haein, mengangkat kepalanya dan menatap Hyunwoo. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang sedikit melankolis namun tulus. "Rasanya.. magis. Seperti di negeri dongeng."
Hyunwoo membalas senyum itu, mengangguk setuju. "Aku ingat, kamu pernah bilang setiap kali melihat air mancur itu menari, semua masalah terasa hilang sejenak."
Haein menghela napas, matanya kembali menatap jembatan. "Andai saja semudah itu." Keheningan menyelimuti mereka lagi, kali ini terasa sedikit lebih berat, diselingi pengingat lembut tentang masalah yang masih harus mereka hadapi.
Tiba-tiba, sorakan riuh terdengar dari kerumunan. Lampu-lampu di Jembatan Banpo mulai meredup, lalu menyala kembali dengan warna biru elektrik yang cerah, diikuti warna ungu, lalu hijau. Musik latar yang indah dan megah mulai mengalun, mengisi udara. Jantung Haein dan Hyunwoo berdebar menanti.
Dan kemudian, dengan semburan air yang dramatis, pertunjukan dimulai. Ratusan pancaran air melesat tinggi ke udara dari sisi-sisi jembatan, diterangi oleh lampu-lampu LED warna-warni yang terus berubah. Air mancur itu menari, membentuk lengkungan pelangi di kegelapan malam, seolah-olah jembatan itu menangis air mata cahaya dan musik.
"Wow.." gumam Haein, matanya membelalak takjub. Cahaya pantulan dari air mancur bermain di wajahnya, membuatnya terlihat berkilauan. Ia meraih tangan Hyunwoo dengan kedua tangannya, menggenggamnya erat.
Hyunwoo menatap Haein, bukan air mancur. Melihat ekspresi takjub dan kebahagiaan di wajah Haein, hatinya terasa hangat. Senyum tulus yang sudah lama tak dilihatnya. "Indah sekali," bisiknya, suaranya sedikit serak karena emosi yang dirasakannya.
Mereka duduk berdampingan, menyaksikan tarian air yang memukau. Air mancur itu berubah formasi mengikuti irama musik – kadang kuat dan bersemangat, kadang lembut dan melankolis. Sorotan lampu merah, kuning, hijau, biru, ungu, dan oranye mewarnai setiap tetesan air, menciptakan efek visual yang luar biasa.
Di tengah keramaian itu, Haein dan Hyunwoo merasa seolah hanya ada mereka berdua. Suara musik dan gemuruh air seolah menyelimuti mereka dalam gelembung keintiman. Haein sesekali menoleh ke arah Hyunwoo, dan setiap kali tatapan mereka bertemu, ada senyum lembut dan pengertian yang terbagi. Bukan senyum kaku yang sering mereka pasang di hadapan orang lain, melainkan senyum yang datang dari tempat yang dalam di hati mereka, senyum yang mengakui perjalanan sulit yang telah mereka lalui dan secercah harapan yang baru muncul.
