Ignited Touch 31

404 77 18
                                        

​Kim Soohyun masih duduk di kursinya. Pandangannya kosong, menatap amplop undangan yang tergeletak di atas mejanya. Pikirannya dipenuhi dengan pergulatan batin. Di satu sisi, ia tahu betul pentingnya acara ini. Konferensi Industri Farmasi Global bukanlah sekadar acara biasa, itu adalah panggung dunia. Kesempatan untuk menunjukkan inovasi Kim Pharmaceutical, menjalin kerja sama strategis, dan memantapkan posisinya di pasar internasional. Kehadiran di sana bisa menjadi langkah besar yang akan menguntungkan perusahaan, terutama di tengah persaingan ketat.

​Di sisi lain, ada Jiwon. Wajahnya yang pucat saat terjatuh, tangisnya yang tak berdaya saat memegangi perutnya—semua itu terputar jelas di benak Soohyun. Ia tidak bisa melupakan kecurigaannya bahwa semua ini bukanlah kebetulan. Kim Dohoon. Namanya terngiang di kepalanya, memicu amarah dan rasa protektif yang begitu kuat. Bagaimana mungkin ia meninggalkan Jiwon sendirian, bahkan untuk beberapa hari, saat ancaman begitu nyata?

​Soohyun menghela napas panjang, lalu mengambil ponselnya. Ia membuka galeri, melihat foto Jiwon yang tersenyum. Senyum itu adalah satu-satunya hal yang mampu meredakan badai dalam hatinya. Saat ini, kebahagiaan dan keselamatan Jiwon adalah prioritas utamanya, jauh di atas karier dan ambisi bisnis. Ia telah memiliki semua yang ia inginkan—cinta Jiwon dan calon anak mereka. Segalanya yang lain adalah nomor dua.

​Ia memutar undangan itu di tangannya. Berat, bukan karena bahannya, tapi karena beban keputusannya. Ia harus memilih. Apakah ia akan mengejar kehormatan dan peluang bisnis yang sangat penting ini? Atau, apakah ia akan mengabaikannya demi melindungi orang yang paling ia cintai? Ia tahu jawabannya. Ia tidak akan mengambil risiko apa pun. Tidak setelah ia hampir kehilangan mereka.

​Soohyun mengambil napas dalam, matanya kini memancarkan tekad yang kuat. Ia meraih interkom di mejanya. "Sekretaris Choi," suaranya tegas. "Aku tidak akan terbang ke New York dan menghadiri konfrensi itu. Kirimkan surat permintaan maaf ke panitia konferensi. Katakan padanya aku tidak bisa datang karena alasan pribadi yang sangat mendesak."

​Di seberang sana, Sekretaris Choi terdiam sejenak, terkejut. "Baik, CEO Kim. Segera saya laksanakan," balasnya.

​Soohyun memutus panggilan. Ia meletakkan undangan itu di atas meja kerjanya. ​Saat Soohyun hendak bangkit dari kursinya, pintu kantornya diketuk. Kim Dahyun melangkah masuk, wajahnya menunjukkan perpaduan antara antusiasme dan rasa ingin tahu.

​"Oppa, benarkah kau diundang ke konferensi itu?" Dahyun bertanya, suaranya dipenuhi kegembiraan. "Aku mendengarnya dari para karyawan. Itu 'kan kesempatan emas, Oppa!"

​Soohyun menghela napas, ia menyadari berita itu menyebar begitu cepat. "Ya, aku diundang," jawabnya singkat, tanpa menunjukkan antusiasme yang sama. Ia melihat Dahyun yang kini berdiri di depannya. "Aku kira kau di penthouse bersama Jiwon. Bukankah kau bilang akan menemaninya?" tanyanya, sedikit terkejut.

​Dahyun mengangguk. "Aku memang berniat ke sana," jelasnya. "Tapi Eonnie bilang tidak usah. Dia bilang dia baik-baik saja dan tidak ingin merepotkan." Dahyun mengangkat bahu, "Dia bilang lebih baik aku fokus pada pekerjaanku saja."

​Wajah Soohyun berubah serius. Jiwon memang tidak suka merepotkan orang lain, tapi ia tidak menyangka Jiwon akan melarang Dahyun menemaninya. Ini membuatnya semakin merasa khawatir. Jiwon selalu saja berusaha terlihat kuat dan tidak bergantung pada siapa pun.

​"Dia keras kepala," gumam Soohyun lebih kepada dirinya sendiri. Ia berjalan memutar mejanya, lalu berhenti di depan Dahyun. "Aku sudah memutuskan untuk tidak pergi ke konferensi itu."

​Dahyun membelalakkan matanya. "Apa? Tapi kenapa, Oppa? Itu 'kan kesempatan besar! Selama ini kau sudah bekerja keras untuk mendapatkan pengakuan di industri ini."

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang