Lampu kristal raksasa di lobi hotel bintang lima itu memancarkan bias cahaya keemasan yang hangat, memantul pada lantai marmer yang mengilap. Namun, bagi Kim Jiwon, udara di sekelilingnya terasa membeku. Ia duduk di sebuah sofa berlapis beludru krem yang mewah, gaun senada yang ia kenakan terasa begitu berat dan kaku, seolah menjebaknya di tempat. Jiwon memaksakan seulas senyum di bibirnya, tetapi ia bisa merasakan setiap otot wajahnya menegang. Di depannya, duduklah calon suaminya, Kim Soohyun, yang sama sekali tidak mencoba untuk mencairkan suasana.
Pria itu benar-benar kebalikan dari deskripsi yang ia dengar. Ayahnya bilang Soohyun adalah pria yang cerdas dan sukses, pewaris KS Group yang jenius. Tapi tidak ada yang mengatakan bahwa dia sedingin es. Sejak pertemuan mereka dimulai tiga puluh menit yang lalu, Soohyun hanya menjawab pertanyaan dengan anggukan, gelengan, atau jawaban satu kata yang monoton.
Jiwon meneguk ludah, memutar-mutar cangkir tehnya di atas meja. "Jadi.. uhm.. kau suka membaca?" Suaranya terdengar terlalu nyaring di antara keheningan yang menyesakkan itu.
Soohyun hanya menatapnya dengan tatapan datar, matanya yang tajam bagai pisau bedah yang sedang menganalisis objek penelitian. "Tergantung."
Jiwon mencoba menahan senyumnya agar tidak luntur. "Tergantung? Tergantung genre-nya? Fiksi atau non-fiksi?"
"Tergantung situasinya."
Jiwon menelan ludah yang terasa kering. Matanya beralih ke jendela, mencoba mencari inspirasi dari pemandangan kota Seoul yang sibuk. "Oh.. oke. Kalau begitu, kalau kau punya waktu luang, apa yang biasanya kau lakukan?" Ia mencoba lagi, harapannya sekecil debu.
Soohyun menyesap kopinya perlahan. Gerakannya begitu teratur, begitu mekanis, seolah-olah ia sudah memprogram setiap inci tindakannya. Tidak ada spontanitas, tidak ada gairah. "Tidur. Untuk memulihkan energi."
Mata Jiwon sedikit membesar. "Tidur?"
"Ya. Tidur adalah investasi terbaik untuk otak. Itu membuatku lebih produktif keesokan harinya." Soohyun kemudian meletakkan cangkirnya, menimbulkan suara klik yang memecah kesunyian canggung. Ia melirik arlojinya. "Bisa kita percepat saja? Aku ada rapat setelah ini."
Hati Jiwon terasa seperti ditarik paksa. Ia tahu ini perjodohan. Ayahnya sudah mengingatkannya berkali-kali. Tetapi ia berharap ada sedikit percikan. Sedikit usaha. Setidaknya, menunjukkan bahwa pria ini memiliki sedikit minat padanya. Namun, ia hanya melihat pria yang terburu-buru ingin mengakhiri pertemuan ini, seolah ia adalah tugas yang harus dicentang dari daftar panjangnya.
"Maaf," Jiwon berbisik pelan, hampir tidak terdengar.
Soohyun mengangkat satu alisnya. "Kenapa?"
"Tidak ada. Aku hanya berpikir.. mungkin kita tidak cocok."
Soohyun menatapnya dengan tatapan yang lebih intens. Kali ini, tatapan itu terasa seperti sedang menganalisis sebuah laporan bisnis. "Kita menikah bukan karena cocok atau tidak. Ini adalah kesepakatan keluarga."
Kata-kata itu seperti menampar wajah Jiwon. Sebuah rasa perih yang teramat sangat menyebar di dadanya. Ia merasa harga dirinya hancur berkeping-keping. Ini bukan tentang cinta atau kecocokan, tetapi tentang kesepakatan. Ia hanyalah pion dalam permainan bisnis. Jiwon memaksa dirinya untuk tersenyum, senyum paling palsu yang pernah ia pamerkan.
"Kau benar," jawabnya, suaranya bergetar. "Aku.. hanya butuh waktu untuk mencerna ini."
Soohyun berdiri. "Aku akan meminta asistenku mengirimkan detail pernikahan. Sampai jumpa." Ia tidak menunggu jawaban Jiwon, ia berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh, meninggalkan Jiwon duduk sendirian di sofa besar itu. Jiwon menatap punggungnya yang tegap, tetapi terasa begitu dingin dan jauh. Ia tahu saat itu, pernikahan ini akan menjadi awal dari penderitaan yang panjang. Ia hanya tidak tahu, bahwa di dalam pria yang dingin itu, ada hati lain yang menunggu untuk ditemukan.
