Beyond the Boundary 2

456 74 15
                                        

​Baek Hyunwoo terbangun di kamar tamu sayap barat. Tempat tidur di sini tidak senyaman ranjang utama yang mewah, tetapi ia tidur nyenyak, nyenyak dengan rasa puas. Ia telah berhasil menegakkan batasannya pada malam yang seharusnya menjadi malam pernikahan paling intim. Tidak ada drama, tidak ada tuntutan emosional. Pernikahan ini, sejauh ini, berjalan sesuai kontrak bisnis yang ia tanda tangani.

​Ia mengenakan jubah mandi sutra dan berjalan menuju ruang makan utama di lantai dasar. Mansion megah itu terasa terlalu sunyi, keheningan yang mahal. Pelayan rumah, yang baru dipekerjakan untuk mengurus pasangan baru chaebol ini, segera berdiri tegak. Mereka dilatih untuk bersikap diam, cepat, dan profesional, tidak boleh mengganggu.

​Saat Hyunwoo duduk, ia melihat piring sarapannya sudah disajikan: American breakfast yang lengkap, dengan telur orak-arik sempurna dan sosis bratwurst kesukaannya—persis seperti yang selalu ia minta di apartemennya dulu. Ia melirik kursi di seberangnya, yang disiapkan dengan indah di ujung meja panjang. Kosong.

​"Di mana Nyonya Hong?" tanya Hyunwoo pada kepala pelayan, Tuan Park, nadanya santai tetapi penuh pertanyaan.

​"Selamat pagi, Tuan Baek," jawab Tuan Park dengan formal, membungkuk sedikit. "Nyonya Hong sudah sarapan di ruang kerjanya, Tuan. Sejak pukul enam pagi. Beliau hanya meminta teh Earl Grey dan buah potong segar."

​Hyunwoo terdiam, menyesap kopi panasnya yang pahit. Jam enam pagi. Hong Haein bukan hanya dingin, ia juga gila kerja—benar-benar robot bisnis. Ia sarapan di meja kerjanya, menghindari formalitas makan bersama dengan suami barunya. Ini bagus. Sesuai kontrak. Namun, anehnya, ia merasa sedikit terganggu oleh rutinitas kaku Haein, seolah-olah wanita itu sengaja menciptakan tembok lagi di pagi hari.

​Saat Hyunwoo sedang mengunyah toast-nya, ia mendengar suara langkah kaki cepat, namun terkontrol, di koridor marmer. Itu Haein, mengenakan setelan bisnis abu-abu arang yang tajam dan tak bercacat. Ia membawa tas kerja kulit Hermès di tangannya dan tampak siap untuk perang di medan bisnis.

​"Selamat pagi, Hyunwoo-ssi," sapa Haein, nadanya seformal seorang rekan bisnis yang baru saja tiba di kantor. Ia berhenti sejenak di ambang ruang makan.

​"Selamat pagi, Haein-ssi," balas Hyunwoo, sedikit menyembunyikan keterkejutannya melihat Haein sudah sepenuhnya siap. "Saya dengar Anda sudah sarapan. Agak cepat, bukan?"

​"Ya. Saya harus segera ke kantor Queens. Ada rapat dewan direksi penting. Kita baru menikah, dewan pasti ingin menguji fokus saya," jawab Haein. Matanya sedikit berkilat. "Tuan Park," Haein menoleh kepada kepala pelayan. "Pastikan semua urusan rumah tangga berjalan sesuai jadwal. Daftar menu harian dan jadwal kebersihan sudah ada di dapur. Saya tidak ingin ada gangguan yang tidak perlu."

​"Siap, Nyonya," Tuan Park membungkuk dalam.

​Haein mengalihkan pandangan sebentar ke arah Hyunwoo, tatapannya dingin. "Saya harap Anda juga tidak akan mengganggu jadwal kerja saya dengan urusan pribadi yang tidak penting. Ingat, penampilan di luar harus sempurna. Jika ada acara keluarga malam ini, kirimkan jadwalnya melalui Sekretaris Anda kepada Sekretaris saya. Saya akan memastikan jadwal saya cocok."

​Hyunwoo merasakan amarah kecil muncul di dadanya. Seorang agen penjadwalan? Haein benar-benar memperlakukannya seperti entitas terpisah, seperti cabang perusahaan yang perlu diatur jadwalnya. "Tentu saja, Haein-ssi. Saya tidak akan mengganggu. Saya cukup sibuk dengan KS Group. Selamat bekerja."

​Haein hanya mengangguk singkat, sebuah gerakan yang hampir tidak terdeteksi, dan segera berbalik.

​"Dia benar-benar robot," pikir Hyunwoo, mencengkeram garpunya. Tidak ada emosi, hanya daftar tugas. Setidaknya, ini menjamin tidak akan ada air mata atau drama cinta. Aku mendapatkan pernikahan yang kubayar: pernikahan yang nyaman tanpa istri yang sebenarnya.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang