Dentuman monitor jantung Min Seoyeon yang berirama, entah mengapa, terasa seperti palu yang menghantam gendang telinga Kim Jiwon. Setiap 'beep' memekik lebih keras dari suara panik Kim Soohyun yang memanggil dokter. Jiwon berdiri mematung di ambang pintu kamar rumah sakit, menyaksikan Soohyun yang begitu terpukul oleh 'pingsannya' Seoyeon. Sebuah jurang yang lebih dalam dan gelap kini menganga di antara mereka. Bukan jurang kebencian, melainkan jurang cemburu yang mengoyak-oyak hati, dan rasa sakit yang menusuk melihat Soohyun kembali terjerat dalam jaring manipulasi masa lalu.
"Dia baik-baik saja, Tuan Kim," suara dokter memecah keheningan yang menyesakkan, setelah memeriksa Seoyeon dengan seksama. "Mungkin hanya syok ringan. Biarkan dia istirahat."
Soohyun menghela napas lega, namun pandangannya masih terpaku pada Seoyeon. Ia tidak menyadari tatapan Jiwon yang kini bercampur aduk antara kekecewaan mendalam dan amarah yang mulai membakar. Jiwon melangkah mundur perlahan, setiap langkah terasa seperti remukan kaca di dasar hatinya. Ia melihat tangan Soohyun yang masih mengusap kening Seoyeon dengan lembut, ekspresi khawatir yang begitu jelas terpampang di wajahnya.
"Ini bohong," batin Jiwon, suaranya parau, hanya mampu menggema di benaknya sendiri. "Dia berakting. Soohyun tidak melihatnya. Dia tidak melihat kebohongan di balik senyum tipis itu."
Malam itu, Soohyun tidak kembali ke apartemen mereka. Telepon berdering, dan suara lelah Soohyun menyapa Jiwon. "Sayang, aku.. aku harus tinggal di sini malam ini. Seoyeon butuh aku. Kondisinya masih lemah."
Jiwon hanya bisa mengangguk, tanpa suara, seolah pita suaranya telah terputus. Ia menutup telepon, dan tangisnya pecah, air mata mengalir deras membasahi pipi. Rasa sakit itu tak tertahankan, menjalar ke setiap sendi tubuhnya. Ini adalah ketakutan terbesarnya, Soohyun akan kembali ke masa lalu, dan ia akan ditinggalkan lagi, sendirian.
Namun, di tengah gejolak emosi yang mengamuk, sebuah pemikiran lain muncul, seolah bisikan pelan dari dalam dirinya. Jiwon membelai perutnya yang membesar. Ada kehidupan di dalam sana, kehidupan yang membutuhkan ayahnya, kehidupan yang pantas mendapatkan keluarga yang utuh dan bahagia. Soohyun telah banyak berubah, ia telah berkorban begitu banyak untuk Jiwon. Apakah Jiwon akan membiarkan manipulasi Seoyeon menghancurkan semua yang telah mereka bangun bersama? Apakah ia akan membiarkan benih kebohongan merusak fondasi cinta yang baru saja mereka tanam?
Keesokan paginya, Jiwon bangun dengan tekad yang baru. Rasa cemburu dan sakit hati itu memang masih ada, bersemayam di sudut hatinya, namun kini dibungkus rapat dengan tekad baja yang tak tergoyahkan. Ia tidak akan menyerah. Ia tidak akan membiarkan Min Seoyeon menang. Ia tidak akan membiarkan masa lalu kembali menghantuinya.
Ia membersihkan diri, mengenakan pakaian yang rapi, dan memanggil Lee Jungwoo. Nada suaranya mantap, tak ada keraguan sedikit pun. "Jungwoo, aku butuh bantuanmu," kata Jiwon. "Aku ingin kau membantuku mengumpulkan informasi tentang Min Seoyeon. Apa saja yang bisa membuktikan bahwa dia manipulatif. Sekecil apa pun detailnya."
Jungwoo terkejut mendengar suara Jiwon yang begitu tegas, begitu berbeda dari Jiwon yang sering ragu. "Nona Jiwon.. Anda yakin?"
"Aku sangat yakin," Jiwon membalas, matanya memancarkan kekuatan yang belum pernah Jungwoo lihat sebelumnya. "Aku tidak bisa membiarkan Soohyun terjebak lebih lama lagi. Aku tidak akan membiarkan dia kembali ke dalam kegelapan itu. Aku harus menghentikannya, untuk kami, untuk anak kami."
Jiwon menghabiskan hari itu dengan memikirkan strategi. Ia tahu Seoyeon suka memanipulasi, seorang ahli dalam memutarbalikkan fakta dan membangkitkan rasa bersalah. Ia juga tahu kelemahan Soohyun adalah rasa bersalahnya yang mendalam terhadap masa lalu. Jiwon harus menemukan cara untuk membuka mata Soohyun, tanpa membuatnya merasa lebih bersalah dari yang sudah ada. Ini adalah pertarungan yang harus ia menangkan, bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk masa depan mereka.
