Beyond the Boundary 19

485 65 12
                                        

​Lima belas menit setelah rapat virtual yang dramatis berakhir, Sekretaris Min menelepon kembali, suaranya dipenuhi rasa lega dan hormat. Hyunwoo menekan tombol speaker agar Haein bisa mendengarkan sambil ia menyesap teh herbalnya.

​"Nyonya Baek, Tuan Baek," lapor Sekretaris Min. "Semua berjalan sesuai rencana. Keputusan penolakan Blue Stream Engineering telah dicatat dan disebarluaskan. Para direktur yang tersisa sangat terkejut dengan bukti yang dikirimkan oleh tim legal Tuan Baek."

​Haein menghela napas panjang, beban besar terangkat dari pundaknya. "Dan bagaimana dengan Direktur Yoon dan Direktur Park?"

​"Mereka telah dimasukkan dalam proses audit internal mendalam oleh tim legal Queens segera setelah rapat berakhir, Nyonya Baek," jawab Sekretaris Min. "Komputer dan akses mereka ke sistem perusahaan telah dibekukan. Tindakan disipliner akan segera menyusul berdasarkan temuan audit. Saya yakin, dengan bukti yang ada, mereka tidak akan bisa kembali lagi. Anda telah mengamankan Proyek Smart City."

​Haein tersenyum penuh kemenangan, matanya menatap Hyunwoo. "Bagus. Pastikan tim hukum bekerja secara menyeluruh. Tidak ada kelonggaran."

​"Perintah dilaksanakan, Nyonya Baek," kata Sekretaris Min sebelum mengakhiri panggilan.

​Hyunwoo mematikan speaker dan memeluk Haein. "Lihat? Aku sudah bilang, kau tidak perlu menyelesaikan rapat itu. Para pengkhianat itu sekarang berurusan dengan hukum. Kau sudah menang, sayang."

​Haein menyandarkan kepalanya di bahu Hyunwoo, sepenuhnya rileks. "Aku sangat lega. Rasanya seperti baru saja merobohkan dua dinding beton."

​"Dan mendapatkan kram perut yang tidak perlu," canda Hyunwoo, membelai perutnya. "Aku akan memijat punggungmu lagi sebentar."

​Setelah sesi pijatan ringan yang menenangkan, fokus mereka kembali bergeser dari urusan korporat ke urusan rumah tangga.

​"Oke, sekarang setelah urusan Direktur-Direktur nakal itu selesai," kata Haein, meraih ponselnya. "Aku tidak mau ada lagi stres yang tidak perlu. Saatnya yoga."

​"Yoga," ulang Hyunwoo, dengan nada yang tidak terlalu antusias.

​"Ya, yoga," tegas Haein. "Aku butuh instruktur yoga prenatal yang terbaik. Tidak ada alasan untuk menunda lagi."

​Haein mulai mencari. "Aku menemukan satu studio yang sangat direkomendasikan. Mereka menawarkan kelas privat di rumah. Hyunwoo, bisakah kau memeriksa profil instruktur bernama 'Seoyoon' ini? Aku perlu kau memverifikasi apakah dia pernah bekerja untuk chaebol lain atau memiliki riwayat konflik. Aku tidak mau ada lagi kejutan vendor di dalam matras yoga."

​Hyunwoo mengangguk, senang kembali ke perannya sebagai perisai keamanan dan verifikator. "Tentu saja. Aku akan menjalankan pemeriksaan latar belakang lengkap, termasuk menganalisis feed media sosialnya untuk memastikan ia tidak menjual suplemen ilegal. Dia harus benar-benar murni."

"Kau ada-ada saja," kata Haein. "Dan aku ingin kita mulai minggu depan. Kau juga harus ikut."

​"Aku?" protes Hyunwoo. "Haein, aku tidak bisa melakukan pose 'Pohon' tanpa kehilangan keseimbangan. Aku ini Wakil Presiden Direktur, bukan penari balet."

​"Justru itu," balas Haein, memeluk lengan suaminya. "Kau perlu melenturkan pikiranmu yang kaku. Kita akan melakukannya bersama. Itu akan menjadi quality time baru kita. Aku janji, itu tidak akan menakutkan seperti film horor yang kita tonton. Aku butuh mitra, Hyunwoo. Mitra dalam hidup, mitra dalam bisnis, dan sekarang, mitra dalam yoga."

​Hyunwoo tersenyum, menyadari bahwa yoga ini bukan hanya tentang kesehatan fisik, tetapi tentang ritual baru yang akan mereka bagi.

​"Baiklah, My Queen," kata Hyunwoo, mengalah. "Aku akan memeriksa latar belakang Seoyoon. Dan aku akan membeli celana yoga pria yang paling longgar yang bisa kutemukan. Demi Komet dan demi dirimu."

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang