Ignited Touch 14

509 91 62
                                        

Kim Soohyun berdiri terpaku di belakang Kim Jiwon, rahangnya mengeras, matanya menyipit saat melihat interaksi akrab Jiwon dan Lee Junseo. Senyumnya yang tadi memudar, digantikan oleh ekspresi dingin dan tak terbaca. Ia menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Junseo dengan jelas, meskipun Jiwon terlalu asyik dalam kegembiraannya bertemu sahabat masa kecilnya untuk menyadari perubahan aura Soohyun.

"Junseo-ya, sudah berapa lama kau di sini?" Jiwon bertanya, tawa riangnya memenuhi teras.

"Seminggu lalu," jawab Junseo, tangannya menepuk lembut bahu Jiwon. "Aku sengaja ingin membuat kejutan. Saat tahu kau ada di sini."

Hanya Nyonya Lee yang peka terhadap keadaan yang terjadi itu. Ia melihat bagaimana senyum Soohyun menghilang, bagaimana bahu pria itu menegang, dan tatapannya yang mengunci Junseo dan Jiwon. Nyonya Lee, dengan naluri seorang ibu, segera menyadari adanya ketegangan.

"Oh, Junseo-ya," Nyonya Lee berkata, suaranya sedikit lebih keras. "Kau belum menyapa calon menantu kami."

Junseo menoleh, senyumnya sedikit memudar ketika melihat Soohyun yang berdiri di belakang Jiwon. Aura intimidasi Soohyun begitu kuat, bahkan dari jarak ini.

"Ah, maafkan saya," Junseo membungkuk sopan. "Lee Junseo. Senang bertemu Anda." Ia mengulurkan tangannya.

Soohyun menerima jabat tangan itu, genggamannya kuat, nyaris meremas. Matanya menatap tajam ke mata Junseo, seolah sedang membaca setiap niat pria itu. "Kim Soohyun," balas Soohyun singkat, nadanya dingin dan tak ramah.

Jiwon yang akhirnya menyadari ketegangan itu, merasakan firasat buruk. Ia menatap Soohyun, bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah.

Soohyun kemudian melakukan sesuatu yang membuat Jiwon terkesiap. Ia melangkah maju, memecah jarak antara Jiwon dan Junseo, lalu dengan gerakan possessif, ia melingkarkan lengannya di pinggang Jiwon, menarik wanita itu rapat ke sisinya. Soohyun menjadi lebih posesif pada Jiwon, seolah ingin menegaskan kepemilikannya.

"Jiwon tidak pernah berbicara tentangmu," Soohyun berkata pada Junseo, nadanya datar, namun ada peringatan tersirat di dalamnya. "Tapi, senang akhirnya bisa bertemu teman masa kecil calon istriku." Ia menekan kata 'calon istriku' dengan penekanan.

Jiwon merasakan sentakan di pinggangnya, dan pandangan Soohyun yang mengancam. Ia lagi-lagi bingung dengan sikap Soohyun. Apakah Soohyun cemburu? Atau hanya tidak senang jika 'miliknya' – yaitu dirinya – terlihat begitu akrab dengan orang lain, seperti yang terjadi di gala dinner dan kantor sebelumnya? Ia ingat bagaimana Soohyun juga tidak senang saat ia berbicara dengan Minjun waktu itu. Jiwon menghela napas. Ini akan menjadi akhir pekan yang panjang.

Junseo, yang tampaknya memahami sinyal itu, tersenyum tipis. "Ah, begitu. Selamat atas pertunangan kalian. Aku tidak menyangka akan secepat ini." Ia melirik Jiwon, lalu kembali pada Soohyun. "Semoga kalian bahagia."

Nyonya Lee, yang merasakan suasana semakin tidak nyaman, segera memecah keheningan. "Baiklah, baiklah. Junseo-ya, ayo masuk. Sudah waktunya makan malam. Soohyun-ssi, Jiwon-ah, mari kita makan."

Soohyun tidak melepaskan lengan dari pinggang Jiwon. Ia tetap menggandengnya erat, mengarahkan Jiwon untuk masuk ke dalam rumah. Junseo mengikuti di belakang mereka.

###

Suasana makan malam di rumah keluarga Kim malam itu terasa sangat berbeda dari malam sebelumnya. Kehadiran Lee Junseo, sahabat masa kecil Kim Jiwon, menciptakan dinamika baru yang penuh ketegangan, terutama bagi Kim Soohyun. Nyonya Lee berusaha keras untuk menjaga suasana tetap hangat, sesekali melemparkan lelucon ringan atau pertanyaan tentang pekerjaan Junseo di luar negeri.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang