Pagi hari Senin. Hong Haein dan Baek Hyunwoo memasuki markas besar Queens. Kontras dengan kehangatan pelukan dan sup asin semalam, di sini, mereka kembali menjadi pasangan chaebol yang dingin dan berkuasa, membungkus diri mereka dalam aura kesempurnaan.
Di mobil Maybach mereka, sebelum keluar di depan lobi yang dipenuhi jajaran eksekutif, Haein menoleh ke Hyunwoo.
"Ingat perannya," kata Haein, suaranya kembali ke nada perintah yang tajam. "Kita harus menunjukkan persatuan total. Terutama setelah makan malam keluarga. Ayah akan mengamati dengan cermat hari ini."
"Aku mengerti, Nyonya Baek," jawab Hyunwoo, senyum kecil tersembunyi di sudut bibirnya. Ia mengulurkan tangan dan meremas tangan Haein di atas konsol mobil—sebuah kebiasaan baru yang menjadi jembatan rahasia antara mereka berdua. "Aku akan menjadi perisai yang paling efektif. Aku akan menyerap semua kecurigaan."
Rapat dewan direksi Queens Group berlangsung kaku dan penuh ketegangan, seperti biasa. Haein memimpin rapat dengan kecerdasan dan ketajaman yang biasa ia miliki sebagai Direktur, tetapi dengan ketenangan baru yang membuat ayahnya curiga.
Ketua Hong hadir, duduk di ujung meja, mengawasi setiap gerak-gerik Haein.
Ketika Direktur Choi, seorang loyalis Ketua Hong, mencoba mempertanyakan hasil negosiasi Queens di Tokyo, ia melakukannya dengan nada meremehkan, mencoba menekan Haein.
"Nyonya Baek, mengenai kesepakatan Tokyo, banyak direktur yang mempertanyakan likuiditasnya. Apakah Anda yakin tidak terburu-buru, mungkin karena kondisi pribadi Anda yang belum.. stabil?" tanya Direktur Choi, secara implisit menyinggung pernikahan dan kehidupan pribadinya.
Hyunwoo segera turun tangan. Ia tidak menunggu Haein merespons. Ia berbicara, bukan sebagai menantu yang membela istri, tetapi sebagai pebisnis yang berinvestasi, suaranya dingin dan tanpa emosi.
"Direktur Choi, hasil dari negosiasi tersebut telah meningkatkan likuiditas Queens sebesar 12 persen dan membuka jalur distribusi baru. Kekhawatiran Anda tidak berdasar, itu hanyalah emosi tanpa data. Perlu saya ingatkan, KS Group telah menyuntikkan dukungan penuh pada proyek ini. Secara bisnis, itu adalah persetujuan strategis tertinggi yang bisa Anda dapatkan," kata Hyunwoo dingin, memotong debat sebelum itu bisa merusak otoritas Haein. "Dengan segala hormat, jika Anda memiliki pertanyaan bisnis yang valid, sampaikan. Jika tidak, fokus pada poin berikutnya. Waktu kami terlalu berharga untuk spekulasi."
Haein menatap Hyunwoo, memberikan anggukan persetujuan yang hampir tak terlihat. Hyunwoo memang benar-benar perisainya. Ia mengalihkan semua tekanan yang bisa mengganggu stabilitas emosionalnya dan Komet.
Rapat berakhir, dan Ketua Hong hanya bisa mengangguk puas pada kinerja Haein yang didukung penuh Hyunwoo. Aliansi ini benar-benar sangat efektif di mata bisnis.
Setelah rapat yang tegang, Hyunwoo dan Haein berada di kantor Haein. Haein duduk di kursinya, memeriksa dokumen akhir rapat, sementara Hyunwoo duduk di sofa, membalas email penting.
Haein menghela napas panjang, merenggangkan punggungnya. Ia merasa lega setelah berhasil menghadapi Ketua Hong dan Direktur Choi. Tanpa sadar, ia berjalan ke sofa, mengabaikan meja kerjanya.
"Hyunwoo," panggil Haein, nadanya sedikit mengeluh.
"Ya, Haein?" Hyunwoo segera mematikan layar tablet-nya, memberikan perhatian penuh.
Haein duduk di sebelah Hyunwoo, dan tanpa ragu, ia menyandarkan kepalanya di bahu Hyunwoo, sebuah gerakan yang benar-benar tidak terduga di kantor Queens.
"Punggungku sakit," bisik Haein, merajuk. "Aku benci Direktur Choi dan semua pertanyaannya yang bodoh. Komet kesal karena dipaksa mendengarkan akuntansi yang buruk."
