Bound by Fate 3/3

606 76 14
                                        

Hari-hari berikutnya menjadi bukti nyata dari kesungguhan Hyunwoo. Ia tidak hanya mengucapkan kata-kata manis, tetapi tindakannya benar-benar mencerminkan perubahan hatinya. Kepeduliannya pada Haein dan calon anak mereka tampak begitu tulus, bahkan dalam hal-hal kecil yang sebelumnya luput dari perhatiannya.

Setiap pagi, Hyunwoo akan bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan sehat untuk Haein. Ia akan mencari resep-resep khusus untuk ibu hamil dan memastikan semua nutrisi yang dibutuhkan Haein terpenuhi. Ia akan dengan sabar mengupas buah, membuatkan jus segar, dan menata sarapan di meja dengan rapi.

"Selamat pagi, Haein-ssi," sapa Hyunwoo dengan senyum hangat saat Haein keluar dari kamar. "Semoga kamu suka sarapan ini."

Haein akan menatap hidangan di meja dengan tatapan lembut. Dulu, ia tidak pernah membayangkan akan mendapatkan perlakuan seperti ini dari Hyunwoo. "Terima kasih, Hyunwoo-ssi," jawabnya dengan senyum tipis yang tulus.

Sepanjang hari, Hyunwoo akan terus memastikan Haein merasa nyaman. Ia akan menemaninya saat berjalan-jalan di taman, membantunya mengenakan sepatu, dan selalu sigap menawarkan bantuan jika Haein merasa lelah atau tidak enak badan. Di malam hari, ia akan memijat kaki Haein yang seringkali terasa pegal, atau membacakan buku cerita dengan suara pelan hingga Haein tertidur.

"Kamu tidak perlu melakukan semua ini, Hyunwoo-ssi," ujar Haein suatu malam saat Hyunwoo sedang memijat kakinya.

Hyunwoo menghentikan pijatannya dan menatap Haein dengan lembut. "Aku ingin melakukannya, Haein-ssi. Aku ingin kamu tahu betapa berartinya kamu dan anak kita bagiku."

Haein merasakan kehangatan menjalari hatinya. Ia mulai melihat sisi lembut Hyunwoo yang selama ini tersembunyi di balik sikap dinginnya. Ia bisa merasakan ketulusan dalam setiap tindakan dan perkataan Hyunwoo. Perlahan, rasa curiga dan ketidakpercayaan yang selama ini menghantuinya mulai memudar, digantikan oleh keyakinan bahwa Hyunwoo benar-benar telah berubah.

Ia mulai membalas perhatian Hyunwoo dengan senyuman yang lebih sering dan tulus. Ia juga mulai terbuka dan berbagi perasaannya tentang kehamilan dan harapan-harapannya untuk masa depan keluarga mereka.

Suatu sore, saat mereka sedang duduk berdua di ruang keluarga, mengawasi perut Haein yang semakin membesar, Hyunwoo tiba-tiba meraih tangan Haein dan menggenggamnya erat. Ia menatap Haein dengan mata penuh cinta dan keyakinan.

"Haein-ssi," panggil Hyunwoo dengan nada lembut namun penuh kesungguhan.

Haein menoleh dan menatap Hyunwoo dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Aku tahu aku pernah mengatakan hal-hal bodoh dan menyakitkan," lanjut Hyunwoo. "Aku tahu aku tidak pantas mendapatkan maafmu. Tapi aku ingin kamu tahu, perasaanku padamu semakin dalam dari hari ke hari. Aku.. aku mencintaimu, Hong Haein."

Haein terdiam sejenak, air mata haru mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia sudah merasakan perubahan dalam diri Hyunwoo, dan ia juga sudah mulai merasakan perasaan yang sama terhadap suaminya itu. Namun, mendengar pengakuan cinta dari Hyunwoo secara langsung membuatnya merasa sangat bahagia dan terharu.

"Aku juga mencintaimu, Baek Hyunwoo," jawab Haein dengan suara bergetar, air matanya akhirnya jatuh membasahi pipinya.

Hyunwoo tersenyum bahagia dan menghapus air mata Haein dengan lembut. Ia mendekatkan wajahnya dan mencium Haein dengan penuh cinta dan kelembutan. Ciuman itu adalah ungkapan dari perjalanan panjang yang telah mereka lalui, dari pernikahan dingin yang terpaksa hingga cinta tulus yang akhirnya bersemi di hati mereka. Mereka berdua saling berpelukan erat, merasakan kehangatan dan kebahagiaan yang akhirnya mereka temukan dalam pernikahan yang awalnya terasa seperti mimpi buruk.

###

Malam itu, setelah Hyunwoo mengungkapkan cintanya, Haein merasa begitu bahagia dan tenang dalam pelukan suaminya.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang