Pagi itu, suasana di kantor Kim Pharmaceutical terasa energik, dipenuhi kesibukan yang familier. Lampu-lampu fluorescent memantul di lantai marmer yang mengilap, mencerminkan kesempurnaan yang selalu dipertahankan oleh Kim Soohyun. Ruangan kerjanya yang luas dihiasi dengan kaca-kaca tinggi, memperlihatkan pemandangan kota Seoul yang terbentang luas.
Kim Jiwon, meletakkan secangkir kopi hangat di atas meja Soohyun. Aromanya yang kental menyebar, mengisi ruang kerja yang semula terasa dingin. Jiwon, kini memeriksa kembali file-file penting untuk rapat dewan direksi. Jemarinya yang ramping menata dokumen-dokumen itu dengan teliti.
"Kau yakin semuanya sudah ada?" Jiwon bertanya, suaranya lembut, namun ada nada kekhawatiran yang samar. Ia memandangi Soohyun yang sedang merapikan dasinya di depan cermin.
Soohyun, yang memandang pantulan dirinya di cermin, tersenyum tipis. Wajahnya yang tampan terlihat begitu fokus, namun sorot matanya yang hangat hanya tertuju pada Jiwon. "Aku yakin," jawabnya, suaranya dalam dan tenang. "Semua yang kusiapkan sudah lengkap."
Ia membalikkan badan, berjalan mendekati Jiwon. Jarak di antara mereka semakin menipis. Jiwon mendongak, merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh Soohyun. Pria itu menyentuh lembut keningnya, lalu mengecupnya dengan penuh kasih sayang.
"Aku akan pergi sekarang. Kau tunggu saja di sini," bisik Soohyun, bibirnya masih menyentuh kening Jiwon.
Jiwon mengangguk, membalas senyumnya. "Hati-hati, Oppa. Berikan yang terbaik untuk rapatnya."
Soohyun tersenyum, lalu melangkah keluar dari ruangan. Jiwon mengangguk, ia melanjutkan pekerjaannya, membereskan meja Soohyun. Namun, beberapa saat setelah Soohyun pergi, matanya menangkap sesuatu yang tersembunyi di balik tumpukan buku tebal di sudut meja. Sebuah file berwarna merah, dengan label "Sangat Rahasia." Itu adalah file yang sangat penting, yang berisi data-data finansial yang dibutuhkan Soohyun untuk rapat.
Jantung Jiwon berdebar. Ia tidak bisa membiarkan Soohyun menghadapi dewan direksi tanpa dokumen ini. Tanpa membuang waktu, ia mengambil file itu, lalu berlari ke luar ruangan, menuju ruang rapat yang berada di ujung koridor.
Koridor terasa lengang, hanya terdengar suara langkah kakinya yang bergegas. Semua orang sudah berada di dalam ruangan. Jiwon berjalan cepat, pandangannya hanya fokus ke pintu ruang rapat. Namun, tiba-tiba, kakinya menginjak sesuatu yang licin.
"A-ahh!" teriaknya, suaranya pecah di keheningan. Kakinya terpeleset, tubuhnya jatuh, dan file yang ia pegang terlempar, dokumen-dokumen berhamburan. Jiwon merasakan sakit yang luar biasa di perutnya. Rasa nyeri yang tajam, menusuk, membuatnya memegangi perutnya. Napasnya tersengal-sengal, matanya berkaca-kaca.
Di dalam ruang rapat, Kim Soohyun yang sedang mempresentasikan rencananya, terdiam. Telinganya menangkap suara teriakan Jiwon. Suara itu begitu familier, begitu dekat. Tanpa berpikir panjang, ia menghentikan pembicaraannya. Para dewan direksi memandanginya dengan bingung. Soohyun mengabaikan mereka. Ia berlari keluar, menuju sumber suara.
Matanya membelalak kaget saat melihat Jiwon tergeletak di lantai, memegangi perutnya. Wajahnya pucat, air mata membasahi pipinya.
"Jiwon!" Soohyun berseru, suaranya dipenuhi kepanikan. Ia berlari ke arah Jiwon. Ia berlutut di samping wanita itu, memeluknya erat, lalu mencium lembut keningnya. "Sayang.. kau kenapa?" tanyanya, suaranya bergetar.
"Oppa.. perutku sakit," Jiwon berbisik, suaranya parau.
Soohyun merasa dunia runtuh di sekitarnya. Tanpa berpikir dua kali, ia menggendong Jiwon, meninggalkan rapat begitu saja. Para dewan direksi yang melihat itu, terkejut. Namun, mereka tahu, Soohyun tidak bisa membiarkan Jiwon sendirian.
