Garis Batas 10

447 69 17
                                        

Sejak keputusan pesta itu disetujui, penthouse mereka berubah menjadi pusat komando dadakan. Telepon berdering tiada henti, email masuk tanpa henti, dan obrolan grup keluarga dipenuhi dengan ide-ide dekorasi, daftar tamu, dan pilihan katering. Nyonya Hong dan Nyonya Baek, dengan semangat yang luar biasa, mengambil alih semua persiapan. Mereka bahkan sudah meninjau beberapa ballroom hotel mewah dan bernegosiasi dengan event organizer terkenal.

"Ibu ingin pesta kita bernuansa putih dan emas, seperti kemurnian dan kemewahan," kata Nyonya Hong suatu sore melalui telepon, suaranya penuh kegembiraan. "Bagaimana menurutmu, Haein-ah? Dan untuk makanannya, kita harus pesan yang terbaik."

Haein hanya bisa mengangguk pasrah sambil tersenyum di ujung telepon. "Terserah Ibu saja. Yang penting jangan terlalu merepotkan."

Hyunwoo, yang berada di sampingnya, menggelengkan kepala geli. "Mereka benar-benar serius, ya."

Di tengah hiruk-pikuk persiapan pesta, Haein kembali disibukkan dengan pekerjaannya sebagai Direktur Perencanaan. Proyek-proyek besar yang tertunda selama absennya menumpuk di mejanya. Ia mencoba membatasi jam kerjanya, pulang tepat waktu, dan menghindari stres. Namun, sebagai seorang pemimpin di Queens Group, tekanan tak bisa dihindari. Rapat demi rapat, negosiasi dengan klien, dan keputusan strategis terus menanti.

Hyunwoo, tentu saja, menjadi semakin khawatir. Telepon rutin setiap jam dari kantornya menjadi lebih intens. Ia akan menelepon Haein hanya untuk memastikan istrinya sudah minum vitamin, tidak terlalu banyak berdiri, atau bahkan sekadar bertanya apakah ia sudah melakukan peregangan.

"Haein, kau sudah istirahat makan siang, kan?" tanya Hyunwoo suatu kali melalui telepon, nadanya cemas. "Jangan sampai telat makan."

"Sudah, Hyunwoo," jawab Haein, ia sedikit geli dengan kekhawatiran suaminya. "Aku bahkan makan bekal buatanmu."

"Bagus. Ingat, jangan terlalu memaksakan diri, sayang," Hyunwoo melanjutkan. "Pekerjaan itu penting, tapi kesehatanmu jauh lebih penting. Apalagi sekarang kau sedang hamil."

Sore harinya, saat Hyunwoo menjemput Haein di depan kantor, ia akan langsung menanyainya tentang detail hari itu. "Bagaimana harimu? Tidak ada yang membuatmu kesal, kan? Rapatnya lancar? Kau tidak merasa lelah?" Ia akan memijat bahu Haein di dalam mobil, memastikan tidak ada ketegangan.

Suatu malam, saat mereka berdua sedang duduk di sofa sambil menonton televisi, Hyunwoo menghela napas panjang. Ia menoleh pada Haein, yang tampak lelah namun masih memegang tablet berisi laporan kantor.

"Sayang," kata Hyunwoo lembut, ia meraih tablet itu dari tangan Haein dan meletakkannya di meja. "Kau tidak perlu terlalu memikirkan pekerjaanmu. Biarkan saja. Delegasikan pada manajermu."

Haein menatapnya. "Aku tidak bisa, Hyunwoo. Ada banyak hal penting yang hanya aku yang bisa putuskan."

"Aku tahu, aku tahu," Hyunwoo mengusap pipi Haein. "Tapi aku khawatir. Kau sudah punya tanggung jawab baru sekarang. Kita punya bayi di sini." Ia menyentuh perut Haein. "Aku tidak ingin kau stres, Haein. Aku tidak ingin ada risiko sekecil apa pun."

"Aku tidak stres, Hyunwoo," Haein mencoba meyakinkan, meskipun ia tahu ia memang merasa sedikit tegang. "Aku hanya fokus. Aku tahu batasku."

"Benarkah?" Hyunwoo mengangkat alis, sedikit ragu. "Aku melihatmu semakin sibuk. Pesta itu juga akan semakin mendekat. Aku takut kau akan kewalahan."

Percakapan itu berakhir dengan Haein yang meyakinkan Hyunwoo bahwa ia akan baik-baik saja, dan Hyunwoo yang masih diliputi kekhawatiran, meskipun ia berusaha menyembunyikannya.

Beberapa hari berlalu dengan cepat. Persiapan pesta semakin intens, dan kesibukan Haein di kantor juga tidak berkurang. Meskipun ia selalu berusaha terlihat kuat di depan Hyunwoo, sebenarnya ia merasakan sedikit kelelahan yang mulai menumpuk.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang